logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 27 April 2004 PANTURA
Line

Siswandi dengan Pena Cahaya Masuk Muri

BANYAK orang pandai melukis, tapi tak sekreatif Siswandi S Hadi, pelukis asal Brebes yang beberapa kali menggelar pameran tunggal atas karya seninya. Dia, Sabtu (24/4) lalu mencatatkan diri sebagai pemegang rekor ke 1.142 Museum Rekor Indonesia (Muri) dengan karya lukis Pena Cahaya, yang merupakan perpaduan seni fotografi dan lukisan.

Penghargaan Muri diserahkan Manager Muri Paulus Pangka, di kediaman Siswandi S Hadi Jalan DI Pajaitan No 18 Kota Brebes.

Karya Lukis Siswandi S Hadi, putra kelahiran Brebes, 23 Juli 1951 dicatat MURI karena memiliki nilai kreativitas tinggi yakni, memadukan seni fotografi dan seni lukis. Bagaimana dia menciptakan lukisan dengan Pena Cahaya ? Berbekal hobi fotografi, Siswandi membuat ruangan laboratorium tempat melukis, sekaligus memotretnya.

Ruangan berukuran tiga kali empat meter dibuat dalam keadaan kedap cahaya. Sebagai papan untuk melukis, disiapkan kaca tembus pandang. Di bagian depan kaca yang berjarak dua meter, disiapkan kamera yang berisi film biasa. Supaya kamera tidak mudah kena guncangan dipasang di atas tripod (penyangga kaki tiga). Dalam keadaan gelap, diafragma kamera dibuka penuh atau dalam posisi huruf B, Siswandi mempraktikkan melukis dengan Pena Cahaya.

Pena Cahaya yang bagian ujungnya memancarkan cahaya, bergerak sesuai kemauan tangan Siswandi. Untuk memudahkan mengetahui goresan pertama dan seterusnya, pada sisi Pena Cahaya diberi spidol sehingga lukisan akan terlihat, apabila mau memberi ketebalan tertentu.

Berapa lama dia membutuhkan waktu melukis ? Tentu saja tergantung kebutuhan materi yang akan dilukis. "Saya bisa merampungkan satu tulisan setengah jam, atau mungkin satu jam sampai dua hari tergantung mood," paparnya. Jika kelelahan berada di ruang gelap, Siswandi menutup Rana (bukaan diafragma) pada bagian ujung lensa. Selanjutnya, ketika akan melanjutkan melukis lagi, kembali ke ruang gelap dan membuka Rana kamera tersebut.

Mencetak Film

Setelah lukisan selesai, Siwandi mencetak film hasil pemotretan di ruang gelap tempat melukis. Hasil foto dicetak dalam ukuran 20 R seperti karya lukis kanvas yang diciptakannya. Menurut dia, hasil lukisan Pena Cahaya yang sudah diciptakan sejak tahun 1997 sebanyak 45 buah. "Ketika uji coba dulu, yang gagal sudah ratusan buah lukisan," papar dia.

Siapa Siswandi yang tiba-tiba muncul di Muri ini ? Siswandi, putra dari Sukarto, mantan guru dan Kepala Sekolah (SD) di Kota Brebes. Sejak kecil, lelaki bertubuh sedang ini, memang gemar melukis kanvas. Tahun 1971 selepas SMA, dia bekerja di Dinas P dan K Kabupaten Brebes. Tapi, karena tak kunjung diangkat menjadi PNS, dia banting setir menekuni dunia fotografi dan melukis. Kegiatan lain untuk mengisi-hari-harinya, dia mendirikan Radio AM di ibukota Kecamatan Ketanggungan, Brebes. Radio itu diberi nama Radio Gita Lestari.

Dalam perjalanan kurun waktu 1971 sampai 1997, Siswandi beberapa kali menggelar pameran karya lukis baik, di Kota kelahiran maupun di Jakarta. Tahun 1997, Siswandi tertarik untuk memadukan antara karya seni fotografi dengan seni lukis. Dia pun mencoba melukis dengan gaya Picaso yaitu melukis cahaya di udara, tapi kemudian karya tersebut tak dilanjutkan, karena dianggap monoton.

"Karya pertama saya hanya menghasilkan garis-garis cahaya, sulit untuk dikontrol dan dikendalikan. Hasilnya juga bersifat abstrak," tuturnya.

Lelaki ini pernah mendapat penghargaan dari Dewan Nasional untuk Kesejahteraan Anak pada lomba pameran foto dalam rangka Tahun Internasional Anak. Kemudian menggelar pameran tunggal di Balai Seni Rupa Jakarta, 15 sampai 21 Januari 1985.

Setelah pengalaman mengikuti pameran seni, tahun 2000 ide mengaktifkan kembali karya seni Pena Cahaya muncul kembali, sampai akhirnya bisa kesampaian mendapat penghargaan dari Muri. (Wahidin Soedja-20)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA