| Selasa, 27 April 2004 | NASIONAL |
Geger Longsor Walahir, Bandung (1)Masih Ada Keindahan di Tengah DukaSEPEDA motor buatan Taiwan, milik tukang ojek terus digeber pada "gigi" satu, Jumat siang (23/4). Maklum jalanan yang harus saya lalui memang cukup curam. Namun itu tidak bisa dihindari untuk menuju lokasi longsor yang menimpa rumah warga Kampung Walahir, Desa Kidang Pananjung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung, Jabar. Akibat longsor itu, diperkirakan 15 jiwa melayang menjadi korban. Perjalanan yang menempuh jarak sekitar 7 km itu terasa menjadi panjang dan melelahkan. Apalagi jalanan yang harus dilalui didominasi bebatuan terjal dan berkelok. Yang dibonceng pun diinstruksikan berkali-kali untuk merapat hingga bibir jok. Lebih mengerikan lagi, kanan-kiri jalan adalah jurang yang dalamnya bikin bulu kuduk merinding karena siap memangsa kalau roda motor tiba-tiba tergelincir. Selepas melahap batu-batu cadas yang tidak cocok dengan motor bebek, pemandangan yang luar biasa indah terhampar. Sebab, jalan itu berada di bagian paling atas sebuah bukit. Sudut pandang dengan leluasa melihat semua sudut yang ada di bawahnya. "Kalau cuaca cerah, Kota Bandung bisa kelihatan dengan jelas dari sini Kang (Mas-Red)," jelas tukang ojek. Perjalanan yang melelahkan itu pun akhirnya harus berakhir karena lokasi longsor sudah di depan mata. Tiba-tiba rasa kagum akan keindahan alam, berganti menjadi iba ketika melihat seorang perempuan setengah baya dengan cemas menunggui proses pencarian tiga korban yang terkubur dari balik pagar. "Kumaha Cep, kapendak moal? (Bagaimana Nak, bakal ditemukan atau tidak?)" katanya kepada Suara Merdeka yang baru datang dan mencoba mendekati sejumlah orang yang sedang mencari beberapa korban longsor. "Pasrah Bu, sareng teterasan ngadoa (Pasrah Bu, sambil terus berdoa!)." Hanya itu jawaban yang bisa saya katakan. Tak Pernah Hilang Itulah sekilas pemandangan yang bisa kita lihat di lokasi bencana longsor. Penantian dan harapan tidak pernah hilang. Bahkan jika ada kesan putus asa, anggaplah penderitaan yang diderita ibu yang bernama Euis itu telah mencapai puncaknya. Sebab, dalam kejadian longsor itu, dia kehilangan tujuh sanak saudaranya. Mereka itu, bapaknya, Handri (70); iparnya, Ence (45) dan Asep (40); keponakannya, Agus (31), Erus (17), serta kerabatnya yang lain, Adjang (70) dan Dede (20). Tiga di antaranya, yaitu Ence, Asep, dan Adjang masih dalam pencarian. Keinginan Euis yang paling diharapkan adalah melihat wajah Asep, yang menurutnya merupakan anak bungsu dan kesayangan dari Handri. Kesedihan dirasakan pula oleh Entis (45). Dia kehilangan adik dan keponakannya, yakni Mahria (50) dan istrinya, Een (Endah/45). Kemudian Otib (35) dan Dadang (15). Namun di saat Rabu malam saat musibah itu terjadi, Entis berhasil menyelamatkan kerabatnya yang lain, Hamidah (17). Ucapan itu, seperti halnya perkataan sang tukang ojek saat melintas barisan pohon pinus untuk menjawab pertanyaan yang bernada kurang sabar. (Setiady Dwie-69i) |