| Selasa, 27 April 2004 | NASIONAL |
Bahan Baku Cor Logam Menghilang (1)Para Pengusaha Kecil Kelimpungan
Klaten dikenal sebagai sentra industri cor logam. Namun kejayaan itu kini mulai memudar ketika para pengusaha cor logam kesulitan mencari bahan baku. Kalaupun toh ada bahan baku itu harganya sangat tinggi. Kondisi ini membuat banyak pengusaha kecil dikhawatirkan gulung tikar. Bagaimana kondisi riil para pengusaha menghadapi problema ini, berikut laporan wartawan Suara Merdeka Merawati Sunantri yang diturunkan mulai hari ini. COR logam, mungkin merupakan salah satu industri andalan Kabupaten Klaten yang sudah terkenal hingga ke luar pulau. Bahkan bila nama cor logam disebut, orang langsung mengingat Desa Batur, Kecamatan Ceper, Klaten, tempat sebagian besar pengusaha cor berada. Order yang diterima para pengusaha cor logam Ceper datang dari berbagai kota seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, bahkan dari luar pulau seperti Kalimantan, Bali, Sumatra sampai Papua yang berada di ujung timur Indonesia. Bahkan 80% kebutuhan blok rem PT Kereta Api Indonesia pun disuplai dari Ceper. Pada saat jaya, industri cor logam tak hanya membuat pengusaha kebanjiran untung. Ada sekitar 350 pengusaha cor logam di Ceper yang dalam kondisi normal mampu melebur 1500 ton skrap iron setiap bulan. Bahkan bila semua pengusaha mendapat order, kebutuhan bahan baku skrap bisa mencapai 4500 ton sebulan. Berbagai bentuk logam cor diproduksi di sana, mulai dari blok rem, pipe viting (pipa air minum) dalam berbagai ukuran, tiang lampu jalan, pagar rumah, dan banyak lagi. Setiap pengusaha mempunyai spesifikasi sendiri-sendiri. Namun kini kejayaan sudah berlalu. Pengusaha cor logam Klaten sedang dihadapkan pada masalah kelangkaan bahan baku yang membuat harganya melambung tinggi. Kokas, bahan bakar untuk melebur biji besi, harganya melambung dari semula Rp 2.500/kg menjadi Rp 6.300/kg. Tak hanya itu, skrap iron juga naik dari Rp 1.400/kg menjadi Rp 2.500/kg. ''Sudah harganya mahal, barangnya juga sulit. Pembelian bahan baku tidak seperti dulu lagi. Dulu pembayaran bisa dilakukan setelah order yang kami kerjakan dibayar, tetapi sekarang beli bahan baku harus kontan,'' kata Drs H Muhamad Mubayin, warga Krenekan, Ceper, pemilik usaha Baja Kembar Jaya. Para penjual beralasan, harga bahan baku berubah setiap hari sehingga bila mereka tak menerima uang hari itu juga mereka khawatir esok harinya harga sudah naik. Jadi bila pengecor minta waktu pembayaran maka harga akan dinaikkan dari Rp 2.300/kg menjadi Rp 2.600/kg. Mubayin merupakan salah satu pengusaha yang terpukul akibat kelangkaan bahan baku. Masih untung dia mampu bertahan dengan mengerjakan order pipa PDAM dari Lampung, Jakarta, Surabaya, Denpasar, dan Papua. Namun kini usahanya tak sebesar dulu lagi. Tinggal 35 Orang Dulu dia mampu mengecor 150 ton skrap setiap bulan dan dapat mempekerjakan 150 karyawan, tetapi sekarang menyelesaikan 30 ton saja sudah ngoyo. Karyawannya juga tinggal 35 orang. Akibat kenaikan bahan baku, biaya produksi naik 100%, tetapi untuk menaikkan harga jual 30% saja susah. ''Sekarang sudah banyak pengecor kecil membekukan pabriknya. Hanya yang punya modal kuat yang bisa bertahan. Bagaimana tidak? Dengan dana yang sama, mereka kini hanya bisa memproduksi sepertiganya. Kalau keadaan seperti ini terus pengecor kecil akan tutup karena tak mampu bersaing,'' ujar Mubayin yang pernah mencoba bisnis funitur itu. Setiap mengirim order, pengusaha cor tidak langsung mendapat bayaran, tetapi harus rela menunggu sekitar satu bulan. Bila tak ada cadangan modal maka sewaktu menunggu pembayaran, mereka tak bisa produksi. Jadi, agar bisa bertahan perlu modal sampai rangkap lima. Jadi bisa membeli bahan baku tunai untuk menekan harga dan terus berproduksi sambil menunggu pembayaran. Pengusaha cor logam lain, Badrul Munir BSc dan HM Khusnun, mempunyai keluhan serupa. Kesulitan mendapatkan bahan baku disertai kenaikan harga yang tinggi itu tidak bisa diimbangi dengan menaikkan harga produk. Beberapa pengusaha mengaku heran dengan kenaikan harga bahan baku cor saat ini. Yang mereka pahami, harga bahan baku cor mengikuti kurs dolar, namun harga bahan baku cor naik tajam saat kurs rupiah terhadap dolar stabil. Karena itu, beberapa pengusaha cor logam sempat menduga ada permainan di balik semua itu. Apalagi kabar yang beredar cukup santer, yakni ada ekspor atau penyelundupan baja ke luar negeri karena harga baja di dunia memang sedang bagus. Dugaan itu masih menghantui walau hal itu sudah dibantah Menperindag Rini Suwandi saat mengunjungi Ceper, awal April lalu. Dia mengatakan, ekspor bahan baku utama industri logam sudah lama dilarang oleh pemerintah. (Merawati Sunantri-58n) | ||||