| Selasa, 27 April 2004 | NASIONAL |
Kerusuhan Ambon Meluas, 26 Tewas
AMBON -Suasana di Ambon, Senin kemarin, masih tegang. Pertikaian antardua kelompok semakin meluas. Pertikaian yang terjadi di kawasan Talake, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, yang dipicu perayaan HUT Republik Maluku Selatan(RMS) Ke-54, mengakibatkan sepuluh orang tewas dan 27 luka-luka. Jadi jumlah korban kerusuhan yang dimulai sejak Minggu hingga Senin kemarin menjadi 26 tewas dan 148 luka-luka. Pertikaian di kawasan Talake ini pun mengakibatkan Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) Ambon maupun perumahan penduduk terbakar sehingga menimbulkan gelombang pengungsi bertambah banyak di daerah ini. Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan ad interm Hari Sabarno mengatakan, kerusuhan di Ambon, Maluku, bukan merupakan konflik antaragama, melainkan pertikaian antara warga pengikut Republik Maluku Selatan (RMS) dan massa pendukung negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam kasus itu delapan anggota RMS ditangkap. ''Konflik terjadi karena ada upacara RMS,'' kata Hari Sabarno usai teleconference dengan Gubernur, Pangdam, Kapolda, dan tokoh agama di Provinsi Maluku. Teleconference yang juga dihadiri Kapolri Jenderal Da'i Bachtiar, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, Menteri Kesehatan Ahmad Sujudi, dan Kepala Staf Umum TNI Marsekal Madya Wartoyo dilakukan di Mabes Polri, Senin kemarin. Menurut Hari Sabarno, TNI dan pemerintah daerah setempat sebenarnya sudah mengantisipasi peringatan HUT RMS pada 25 April 2004 itu. Saat pagi hari, 52 bendera RMS yang dikibarkan langsung disita dan delapan tersangka sudah ditangkap dan diperiksa. ''Siangnya saat kelompok pimpinan Alex Manuputty itu menggelar upacara di Kuda Mati, aparat keamanan langsung bertindak dan membawa para pengikut upacara itu ke markas kepolisian,'' katanya. Ratusan pendukung RMS hadir di acara itu, tapi hanya 24 orang yang mengaku pendukung RMS, sisanya membubarkan diri. Sehingga ke-24 orang itulah yang digiring ke markas kepolisian. Dalam perjalanan, bentrokan tidak terhindarkan antara pendukung NKRI dan simpatisan RMS, hingga akhirnya meluas sampai terjadi pembakaran di sejumlah tempat. Masih Tegang Sampai sekarang, situasi di Ambon masih tegang, karena masyarakat pendukung NKRI dan RMS masih berjaga-jaga. Diperkirakan 18 orang tewas, 107 luka-luka, dan 200 rumah penduduk dibakar akibat pertikaian itu. Mabes TNI pun berencana menurunkan satu batalion lagi untuk membantu dan berbagi tugas dengan pihak kepolisian. Sementara itu, Mabes Polri sudah menurunkan tambahan pasukan sebanyak dua satuan setingkat kompi (SSK) yang rencananya akan ditambah dua SSK lagi. Walau mengaku sudah mengantisipasi kejadian, Hari Sabarno juga mengatakan, aparat intelijen nasional akan diturunkan dalam penyelesaian masalah yang bertujuan untuk menganalisis dan memetakan masalah dan latar belakang terjadinya konflik. ''Gerakan pendukung NKRI itu muncul secara spontan. Kita tunggu hasil pemeriksaan dan pengkajian, tidak bisa kejadian satu hari langsung ada penyelesaiannya,'' katanya lagi. Kapolri mengatakan, pihaknya akan mencegah meluasnya aksi perusakan, penembakan, pengeboman, dan penganiayaan akibat pertikaian di Ambon itu. Selain itu, sudah pasti kepolisian juga akan menindak tegas sparatisme RMS. ''Sejumlah tersangka sudah ditahan terkait dengan tuduhan pengibaran bendera RMS dan tindakan makar. Sejumlah senjata yang digunakan saat kerusuhan masih dalam proses penyelidikan, termasuk pecahan bom,'' kata Da'i Bachtiar. Sampai sekarang, baru delapan orang yang ditetapkan sebagai tersangka, semuanya adalah anggota kelompok RMS. Mengenai dugaan ada pihak ketiga, pemerintah belum menemukannya. ''Kami belum menemukan adanya indikasi keterlibatan pihak ketiga dalam kerusuhan berdarah yang terjadi Minggu (25/3) di Ambon.'' Namun keterlibatan pihak ketiga dalam kerusuhan di Ambon dimungkinkan. Sebab biasanya, lanjut Hari, bila ada dua kelompok massa yang saling berhadapan, tentu ada provokator yang menyebabkan kedua kelompok tersebut bertikai. ''Pihak kepolisian dan intelijen sedang melakukan penyelidikan apakah memang ada pihak ketiga yang terlibat dalam kerusuhan itu,'' kata Hari Sabarno. Karena itu, dia mengimbau semua pihak untuk tidak mengeluarkan komentar yang bisa menambah keruhnya suasana di Maluku. Dia juga meminta untuk tidak melabelkan nama kelompok yang bentrok dengan kelompok RMS sebagai kelompok yang membela NKRI. Sebab, lanjut dia, kelompok yang terlibat bentrok dengan kelompok RMS adalah kelompok spontanitas yang tidak terorganisasi. ''Pemerintah akan menindak tegas kelompok sparatis RMS yang menjadi pemicu kerusuhan di Maluku tersebut,'' tandasnya. Kata Kapolri, pihaknya sudah menambah kekuatan 4 SSK untuk mengatasi dan mengantisipasi meluasnya kerusuhan di Ambon. Disebutkannya, 2 SSK yang berkekuatan sekitar 250 personel dari Brimob Kelapa Dua sudah diberangkatkan Senin kemarin pukul 02.00 WIB. Mabes TNI telah memberangkatkan Batalyon Infrantry-413 Kostrad untuk mendukung pengamanan di Ambon.(bu, di-33t) | ||||