| Selasa, 27 April 2004 | NASIONAL |
Wiranto Paling DiuntungkanSURABAYA- Halaqah nasional alim ulama NU di Surabaya telah digelar Senin (26/4) malam. Perhelatan kiai-kiai berpengaruh di lingkungan warga nadhliyyin itu dihadiri empat kandidat presiden, yakni Wiranto, Megawati Soekarnoputri, HM Amien Rais, dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Yang paling diuntungkan dengan perhelatan itu adalah Jenderal (purn) Wiranto. Demikian kesimpulan pendapat pengamat politik Fisip Universitas Airlangga (Unair) Moh Asfar MA ketika dihubungi Suara Merdeka di kampus Unair, Senin (26/4) siang. "Dibanding SBY, Mega, dan Amien, Wiranto sangat diuntungkan secara politik dengan pertemuan ini," katanya. Peraih gelar magister politik UGM Yogyakarta ini menyatakan keuntungan politik besar Wiranto lewat pertemuan ini didasarkan pada beberapa argumentasi. Pertama, Wiranto merupakan capres yang relatif memiliki resistensi paling lemah dibanding tiga capres lain di mata warga NU. "Apalagi dalam konteks politik sekarang, Wiranto adalah capres yang paling mampu memahami karakter psikologis Gus Dur sebagai tokoh utama di NU dan PKB," jelasnya. Resistensi politik terhadap pencapresan Wiranto mungkin muncul dari kalangan politikus muda PKB. Sebab Wiranto dicapreskan Partai Golkar. Padahal politikus muda PKB itu selama ini dikenal tak bersahabat dengan Partai Golkar. Politikus muda PKB di sekitar Gus Dur yang kritis terhadap Partai Golkar, antara lain AS Hikam, Mahfud MD, Effendy Choiry, Ali Masykur Moesa. "Mereka bukannya tak suka Wirantro, tetapi Partai Golkar," tukasnya. Argumentasi kedua, Wiranto lebih bisa mengambil berkah politik dari halaqah nasional alim ulama NU dibanding tiga capres, sebab mantan Menhankam/Pangab ini kemungkinan besar paling banyak menerima limpahan suara pemilih NU pada pilpres ketika pencapresan Gus Dur terganjal. "Itu pun kalau Gus Dur mengeluarkan semacam fatwa politik mendukung Wiranto. Gus Dur tetap jadi tokoh utama dan ikon NU/PKB. Hampir 70% lebih pemilih NU itu merujuk pada keputusan politik Gus Dur. Sebaliknya jika Gus Dur diam saja, capres yang paling diuntungkan adalah SBY. Sebab, figur SBY lebih dikenal dan diterima di lapisan akar rumput NU dibanding Mega, Amien, dan Wiranto," jelasnya. Mengenai peluang Amien dan Mega, Asfar mengemukakan ketua umum PAN itu memungkinkan meraih dukungan sebanyak 10% sampai 15% pemilih NU. Itu pun dukungan dari kelompok Islam politik di NU. "Adapun pendukung Mega dari kekuatan Islam kultural NU," ujarnya. Secara garis besar, kata Asfar, ada tiga kelompok besar pemilih NU. Pertama, kelompok Islam politik NU. Mereka biasanya menyalurkan afiliasi politiknya ke PPP. Kelompok ini lebih dekat kepada Amien Rais dibanding capres lain. Kedua, kelompok Islam kultural NU. Jumlahnya sekitar 15% dari pemilih NU. Ketiga, kelompok yang mengidolakan Gus Dur sebagai pemimpin utama NU. Jumlahnya sangat besar sekitar 70%. "Pengaruh Gus Dur terhadap pemilih komunitas NU mencapai 70%. Hasil penelitian saya menunjukkan suara yang memilih Hasyim Muzadi tak signifikan. Karena itu, wacana koalisi Mega-Hasyim tanpa restu Gus Dur tak ada pengaruhnya apa-apa," ungkapnya. Kendati iklim politik di internal NU/PKB menjelang halaqah kurang kondusif, yang ditandai dengan memburuknya hubungan pribadi Gus Dur-Hasyim Muzadi dan PKB-NU, Asfar menyatakan pertemuan itu tetap bermakna politik strategis. Kenapa? (G14-64i) |