| Selasa, 27 April 2004 | NASIONAL |
Duet Mega-Hasyim Belum Konkret
SURABAYA -''Masih belum jelas dan konkret, apakah Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi jadi dilamar dan dipilih Megawati Soekarnoputri sebagai cawapres. Jawabannya tunggu dua atau tiga hari lagi. Apalagi, besok (hari ini, 27/4) PDI-P akan menggelar rakernas di Jakarta,'' ujar Hasyim Muzadi dalam jumpa pers, semalam di Surabaya, seusai pertemuan tertutup antara Mega yang didampingi Menperindag Rini MS Soewandi, Taufik Kiemas, dan Pramono Anung Wibowo (Wasekjen PDI-P) dengan 21 ulama terkemuka NU. Pertemuan tertutup digelar setelah Mega membuka dan memberikan sambutan pada halaqah (sarasehan) NU. Hasyim juga membantah pertemuan para kiai dengan Mega itu sebagai tandingan mukernas PKB di Jakarta yang membahas masalah capres dan cawapres. Ke-21 kiai terkemuka NU yang mengikuti pertemuan tertutup itu antara lain KH Chotib Umar (Jember), KH Idris Marzuki (Kediri), KH Djaenuddin Jazuli (Kediri), KH Muchit Muzadi (Jember), KH Nur Muhammad Iskandar SQ (Jakarta), KH Fawaid Asíad Syamsul Arifin (Situbondo), KH Mas Subadar (Pasuruan), Prof Dr KH Said Aqil Siradj (Syuriah PBNU), Achmad Bagja (Ketua PBNU), dan lainnya. Apakah setelah dua atau tiga hari ke depan merupakan tempo politik bahwa dirinya pasti diposisikan sebagai cawapres Mega, Hasyim tak berani memastikan. ''Lha wong dilamar saja belum kok,'' tukasnya. Pertemuan Mega dengan 21 kiai terkemuka NU dimaksudkan untuk melakukan penjajakan-penjajakan. Termasuk kemungkinan digandengnya tokoh NU sebagai cawapres mendampingi Mega dalam pilpres 5 Juli mendatang. ''Prinsipnya, belum ada keputusan konkret mengenai masalah tersebut (pilpres dan pilwapres). Insya Allah dalam dua atau tiga hari ke depan ada kesimpulan,'' tambahnya. Kesimpulan tersebut sangat dipengaruhi hasil keputusan rakernas PDI-P yang digelar hari ini (27/4). ''Nggak tahu setelah tanggal 27 April itu keputusannya bagaimana,'' ujar Hasyim. Kalau pun PDI-P jadi melamar Hasyim sebagai cawapres, tentunya langkah politik tersebut ditempuh setelah ada keputusan organisatoris dari partai berlambang kepala banteng di lingkaran bulat tersebut. ''Belum ada lamaran kok ditanyakan bersedia atau tidak. Jangan GR lah,'' tutur pimpinan Ponpes Al Hikam Malang ini. Sayangnya, dari pihak PDI-P tak ada yang memberikan keterangan pers usai pertemuan tertutup Mega dengan 21 kiai terkemuka NU. Wasekjen PDI-P Pramono Anung Wibowo langsung mengikuti rombongan Mega setelah pertemuan. Namun, tampaknya belum ada keputusan konkret mengenai wacana menduetkan Mega-Hasyim sebagai pasangan capres-cawapres. Kondisi tersebut tak lepas dari terjadinya pembelahan politik di lingkungan NU dan PKB mengenai isu tersebut. Cukup banyak kiai NU yang telah menghadiri pertemuan Lombok sebagai kelanjutan pertemuan Buntet Cirebon, tak tampak pada kegiatan halaqoh di Surabaya semalam. Selain KH Abdullah Faqih yang tak hadir, KH Abdullah Abbas (Buntet), KH Warsun Munawir (Krapyak Yogyakarta), KH Sofyan (Situbondo), KH Cholil Asíad Syamsul Arifin (Situbondo), KH Muhaiminan Gunardo (Parakan), dan kiai lainnya juga tak kelihatan di forum yang digelar PWNU Jatim tersebut. Hasyim membantah pertemuan Mega dengan 21 kiai terkemuka NU dan kegiatan halaqah di Hotel Somerset sebagai tandingan atas kegiatan mukernas yang telah digelar PKB di Jakarta. ''Tanyanya kok yang nggak-nggak,'' tukas mantan ketua PWNU Jatim ini. Cengkeraman Partai Sementara itu, saat memberikan sambutan di hadapan ratusan kiai sebelum membuka halaqoh, Mega menyatakan penerapan sistem presidensial selama ini tak berjalan secara paripurna. Sebab, intervensi partai dan kekuatan politik lain kepada lembaga kepresidenan sangat kuat. ''Yang terjadi kemudian adalah gabungan setengah sistem presidensial dan setengah sistem parlementer,'' katanya. Dengan pemilihan presiden secara langsung, menurut Mega, diharapkan sistem presidensial bisa diimplementasikan secara konsisten dan paripurna. Dalam perspektif demikian, kata Mega, setelah figur capres dimunculkan sebagai kandidat oleh partai tertentu atau gabungan partai untuk terjun dalam kompetisi pilpres, maka harus ada keikhlasan politik dari partai pendukung capres melepaskan cengkeraman politiknya atas figur capres tersebut. Sehingga capres memiliki otonomi politik lebih luas dan besar dalam menyusun visi, misi, program aksi, dan kabinetnya. ''Pilpres secara langsung hakikatnya adalah pemilihan figur presiden berikut programnya. Karena itu, partai harus rela melepaskan cengkeramannya atas figur capres tersebut. Setelah capres terpilih, dia harus diberi kesempatan sesuai kewenangan kelembagaan yang dimiliki dan tak di bawah pengaruh lembaga negara lainnya,'' tegas putri sulung Bung Karno tersebut. Saat memberikan sambutan, Mega sama sekali tak menyinggung mengenai wacana publik duet Mega-Hasyim sebagai capres-cawapres. Orang kuat di PDI-P itu tampaknya istiqomah dengan sikapnya selama ini, yakni tak suka mengumbar pernyataan besar yang jadi sorotan publik. Justru dia menyatakan banyak terima kasih atas visi dan misi KH Hasyim Asyíari sebagai pendiri NU dalam meletakkan pola kepemimpinan organisasi ini dan bangsa. ''Visi dan kepemimpinan yang diletakkan pendiri NU KH Hasyim Asyíari yang kemudian menjadi cetak biru bagi gerak dan perjuangan organisasi besar ini bagaimana pun telah sangat memberi warna terhadap sosok, bentuk, dan nafas kehidupan bangsa dan negara kita hingga saat ini,'' tegas Mega. Sementara itu diperoleh keterangan Susilo Bambang Yudhoyono, Wiranto dan Amien Rais dijadwalkan hari ini akan mengisi acara halaqah tersebut. (G14-33) |