| Selasa, 27 April 2004 | SEMARANG |
Sebulan Sekali, PNS Terima Daging GratisSIANG itu, pukul 12.15, suasana di Unit Peternakan Sapi Perusahaan Daerah Aneka Wirausaha (Perusda Anwusa) Desa Brambang, Karangawen, tampak sepi. Tidak ada hiruk-pikuk kesibukan para karyawan yang mencolok. Satu dua pekerja membereskan peralatan dan mengangkut kotoran ke tempat penampungan. Selebihnya para pekerja tampak beristirahat sambil menikmati santap siang di rumah panggung, agak jauh dari kandang sapi. Hal yang sama terlihat di kandang-kandang penggemukan sapi. Bangunan berkapasitas 500 ekor sapi yang terbagi menjadi beberapa blok itu pun tampak lengang. ''Saat diresmikan Presiden Megawati, Maret lalu, ada sekitar 298 ekor sapi digemukkan di sini. Sekarang kandang ini diisi sekitar 160 ekor sapi,'' ungkap Ir Wibowo MM, pengelola Unit Peternakan . Setiap bulan, mulai April ini, sekitar 50 ekor sapi tambahan dari Wonosobo, Grobogan, Pati, Kudus, dan Sragen didatangkan untuk memenuhi stok. Enam puluh ekor sapi lainnya digemukkan melalui sistem nggadhuh, dengan pembagian hasil 60% untuk Perusda dan 40% untuk petani. ''Sebab, petani hanya urun tenaga, sedangkaqn seluruh kebutuhan pakan dan kandang disediakan Perusda,'' jelas Wibowo. Untuk mencukupi kebutuhan gizi masyarakat, termasuk PNS di Kabupaten Demak, unit peternakan sapi ini menyediakan daging segar secara gratis. Setiap hari, sekitar 3-4 ekor sapi dipotong untuk mencukupi kebutuhan 400-500 orang pegawai di seluruh Kabupaten Demak. Tiap pegawai mendapat jatah daging senilai Rp 25.000/orang/bulan. ''Sekitar 8.432 orang pegawai di seluruh Demak mendapatkan jatah daging sapi gratis satu kali dalam sebulan,'' katanya. Masyarakat, juga dapat memesan daging sapi di depot yang terletak di ujung sebelah kiri Perusda, dengan harga Rp 32.000/kilogram. Jerami Padi Selain daging segar, bagian-bagian seperti paru-paru, tulang, ekor, usus, dan babat yang biasanya tidak dibagikan kepada PNS dapat dibeli oleh masyarakat. Desa Brambang yang terletak 15 km di sebelah timur Kota Semarang itu merupakan daerah pertanian dengan hasil utama padi. Setiap tahun masyarakat menanam padi, palawija, dan tembakau secara bergiliran. Pada saat musim panen padi, limbah jerami padi pada umumnya belum dimanfaatkan secara optimal. ''Limbah jerami biasanya hanya dibakar. Padahal, jerami kering dapat dijadikan pakan sapi,'' jelas Sumiyanto SPt, pengelola lain. Kebutuhan pemberian rumput biasanya mencapai 10% dari bobot sapi, sedangkan jika menggunakan jerami dibutuhkan sekitar 15% dari berat total sapi. ''Kami membeli jerami milik petani Rp 100/kilogram,'' tutur Sumiyanto. Sekadar catatan, perusahaan daerah yang menelan dana pembangunan Rp 3,2 miliar dan menempati areal seluas 2 hektare itu, juga dilengkapi dengan Rumah Pemotongan Hewan (RPH), depot daging, laboratorium pemeriksaan daging, dan instalasi pengomposan. Setiap hari sekitar 2,5-3 ton kompos dihasilkan di unit ini dan dijual Rp 300/kg. (Ninik D-84k) |