logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 27 April 2004 EKONOMI
Line

Toko Babeku

Harga Miring tetapi Berkualitas

SEBUAH usaha yang cukup cerdas dirintis oleh pengusaha muda Semarang, yakni jual-beli barang bekas. Bisnis itu menarik karena bukan sebagaimana jual-beli barang bekas di kios kaki lima, melainkan dikemas pada toko dengan penataan apik dan sejuk.

Di luar negeri jual-beli barang-barang bekas pakai sudah menjadi hal biasa, sedangkan di Indonesia usaha semacam itu baru dirintis oleh beberapa orang dan yang terkenal berada di Bandung.

Di Semarang usaha itu dirintis oleh Daniel Budhi Saputra SPd lewat Toko Babeku atau singkatan dari Baru Bekas Kualitas Utama di Jalan Mayjen Sutoyo 952 atau kawasan Kampung Kali.

Toko loak modern yang baru kali pertama ada di Ibu Kota Jateng itu dibuat nyaman dengan ruangan ber-AC. Calon pembeli tak perlu susah-susah menelusuri lorong pasar sempit berdebu atau kepanasan sambil bersitegang tawar-menawar sebagaimana pasar loak lain di Semarang.

Barang-barang yang ditawarkan juga cukup bergengsi atau bermerek. Berbagai barang elektronik, mebel, spring bed, kacamata, pakaian, pecah-belah, handphone, sepeda dan sepeda motor tersedia. Harganya pun lebih miring dari puluhan ribu sampai jutaan rupiah.

''Barang elektronik, misalnya televisi, VCD player, kulkas, dan komputer menjadi dagangan yang paling laku,'' kata Daniel kepada Suara Merdeka, kemarin.

Konsep toko itu adalah menjembatani orang yang ingin menjual barangnya tetapi tidak punya sarana. Dari sisi pembeli diharapkan bisa mendapatkan barang dengan harga miring tetapi berkualitas bagus.

''Orang-orang kelas menengah ke atas biasanya bingung mau membuang barang yang sudah tidak digunakan. Nah, peluang itulah yang kami garap. Sebab, baik pembeli maupun penjual kan sama-sama untung,'' jelas dia.

Meski demikian ia mengakui untuk mendapatkan barang bekas untuk dijual kembali tidak mudah. Lakunya sangat cepat sampai kadang-kadang kehabisan stok, sementara itu pasokan barang tidak bisa dipastikan kapan datang dan berapa jumlahnya.

Pedagang barang bekas modern itu mencoba menerapkan manajemen yang lebih baik dalam mengelola tokonya. Toko Babeku yang didirikan sejak sebulan lalu itu membuat data base para pengunjung baik pembeli maupun penjual.

Tujuannya, tentu supaya bisa terus-menerus menjaring barang dagangan yang berkualitas dan pembeli yang loyal.

Menitipkan

Jika melihat barang-barang yang dijual maka tidak mengherankan kalau yang datang ke Toko Babeku bukan hanya orang-orang dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, tetapi juga masyarakat atas. Mereka biasanya lebih banyak menitipkan barang.

''Kadang-kadang mereka merasa bosan terhadap barang-barang miliknya dan ingin menjual supaya bisa mengganti dengan yang baru, sedangkan barang lama tidak menumpuk di gudang,'' ujar Daniel.

Kebanyakan barang-barang bekas tersebut memang berasal dari kalangan atas, sedangkan target pembeli dari kalangan menengah ke bawah.

Sebagian besar pembeli barang-barang bekas juga senang karena mereka bisa mendapatkan dengan harga miring. Misalnya sofa lengkap dengan meja tamu yang dijual tak lebih dari Rp 1 juta padahal barangnya masih tampak bagus.

Bagaimana dengan risiko rugi? Pengelola toko sebenarnya hanya sedikit menanggung risiko karena barang-barang yang dijual kebanyakan didapatkan lewat sistem titip jual. Artinya, kalau pun barangnya terlalu mahal dan tidak laku maka pemilik toko hanya rugi tempat karena tak bisa ditempati barang lain.

''Itu pun tidak menjadi masalah, karena merupakan bagian dari kegiatan bisnis ini,'' kata Daniel.

Si pemilik barang tidak bisa menyalahkan penjual kalau tak laku. Soalnya, harga sering dipatok pemilik barang, sementara itu pemilik toko hanya menerima komisi dengan persentase yang telah disepakati sebelumnya.

Daniel menuturkan sebelum menerima barang yang dititipkan biasanya dilakukan pemeriksaan. Barang yang dijual diutamakan yang masih berkualitas dan berfungsi sebagaimana aslinya.

Ia mengaku memulai usahanya dengan modal sekitar Rp 100 juta. Dana tersebut digunakan untuk sewa toko, membayar gaji karyawan, modal membeli barang-barang bekas, serta membeli mobil pikap untuk mengangkut barang.

Hal penting lainnya untuk memulai usaha itu paling tidak harus mempunyai juru taksir yang ahli. Itulah yang membuat Daniel berani membeli barang secara putus, bukan cuma titip jual.

Selain beli putus, yang cukup diminati masyarakat yang ingin menjual barang bekasnya adalah model titip jual. Komisi jasa penjualan titipan yang diminta berkisar 5% hingga 10%. Pemilik bisa menitipkan dan jika laku akan mendapat komisi dari penjualan itu.

''Tetapi sebelum laku pun kami terus melakukan komunikasi dengan pemilik soal kepastian harganya. Dengan begitu harga yang di toko ini tidak harga mati alias bisa ditawar,'' jelasnya.

Masalah utama pada usaha itu adalah bagaimana bisa mendapatkan barang berkualitas dengan harga murah. Sebab, antara pasokan dan permintaan tidak seimbang.

''Sejak dibuka sebulan lalu permintaan sangat besar terutama pada barang keperluan rumah tangga dan elektronik,'' tutur dia.

Karena itu, dia memiliki tenaga pemasaran yang khusus mencari barang-barang bekas yang akan dijual. Biasanya mereka berkeliling mencari orang-orang yang akan pindahan dan tak mau repot membawa barang-barangnya.

Tenaga pemasaran tersebut bertugas mendatangi tempat pemilik barang yang dikabarkan ingin menjual barangnya. Di samping itu, mereka harus mampu menilai kelayakan barang-barang yang akan dijual tersebut. (Arie Widiarto-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA