logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 27 April 2004 EKONOMI
Line

PTPN IX Segera Melepas Gula Impor

SEMARANG-PT Perkebunan Nusantara (PTPN IX) segera mengeluarkan surat perintah setor (SPS) kepada para distributor gula untuk dijual ke pasaran.

Keputusan itu diambil setelah pertemuan antara PTPN IX, Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Asosiasi Distributor Gula Indonesia (ADGI) Jateng, dan Tim Pemantau Gula (TPG) Jateng, kemarin.

''Tidak ada maksud kami menunda pengeluaran SPS untuk penebusan gula eks impor. Sabtu pekan lalu sebenarnya sudah siap, tetapi karena hari libur baru mulai awal pekan ini bisa direalisasi,'' kata Sudarmawan, Direktur PTPN IX.

Kelambatan penerbitan SPS yang selama ini dikeluhkan distributor, lanjut dia, disebabkan oleh sedikit masalah yang harus diselesaikan antara PTPN dan partner kerja yang mendatangkan gula eks impor ke Jateng.

Namun dia tidak menyebutkan secara terperinci apa masalah tersebut. Hanya ditegaskan masalah itu sudah bisa diselesaikan secara intern.

Wahyudi, Ketua ADGI Jateng mengatakan hari ini PTPN IX akan merealisasi pendistribusian gula setelah cukup lama tertahan karena tidak ada SPS.

Akibat penundaan itu, tutur dia, sekitar 34 distributor yang menjadi pemasok pedagang di pasaran tidak dapat menyalurkan gula kepada masyarakat sebagaimana mestinya.

''Jika rencana itu segera diwujudkan, maka stok gula yang mulai menipis akan kembali normal dan harganya kami harapkan tetap stabil,'' tandasnya.

Stok saat ini memang masih ada, tetapi kalau stok baru tidak dikeluarkan maka bukan tidak mungkin harganya akan melonjak karena stoknya memang menipis.

Harga Stabil

Gula eks impor untuk memenuhi kebutuhan di Jateng, kata dia, pada tahap pertama sebanyak 3.000 ton yang akan didistribusikan kepada sejumlah distributor. Setiap distributor masing-masing mendapatkan jatah antara 75 ton dan 100 ton.

''Gula itu hanya dipasarkan sebelum masa panen petani tebu sekitar Juni nanti. Dengan demikian harga gula dipasaran stabil, sedangkan gula petani nanti juga bisa terserap oleh pasar,'' jelas dia.

Sementara itu pantauan pada sejumlah pasar di Semarang menunjukkan hingga kemarin harga gula masih stabil antara Rp 4.000 dan Rp 4.200/kg.

Harga tersebut tidak naik dibandingkan dengan bulan lalu meskipun para distributor mengeluh karena belum mendapat surat perintah mendistribusikan.

'Sejumlah pedagang eceran gula yang ditemui menyatakan tidak ada masalah pada pasokan. Sejauh ini pasokan di pasaran masih normal dan harganya pun tetap stabil.

''Pasokan yang masuk selama ini tetap, bahkan permintaan berapa pun jumlahnya bisa dipenuhi. Yang penting bisa membayar biaya tebus,'' kata Suwardi, pedagang eceran gula di Pasar Bulu. Meski demikian para pedagang tidak berani menyebutkan apakah gula yang mereka jual itu impor atau bukan.

Berdasarkan pengamatan sebagian gula yang dijual adalah gula impor dengan ciri-ciri warnanya lebih putih dan lebih bersih, sedangkan gula lokal berwarna agak kecoklat-coklatan. (G2-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA