logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 22 April 2004 NASIONAL
Line

Wiranto Idealnya Gandeng PKB

  • Golkar Kebingungan Carikan Pasangannya

JAKARTA -Setelah terpilih menjadi calon presiden dari Partai Golkar, kini Wiranto dirundung kebingungan mencari pasangan yang tepat untuk maju ke gelanggang pemilihan presiden mendatang. Hal itu disebabkan masing-masing partai meskipun belum secara resmi menentukan calon presiden dan wakilnya, tetapi dalam wacana umum telah muncul pasangan-pasangan calon presiden dan calon wakil presiden.

Misalnya, wacana yang muncul, Mega (PDI-P) diprediksikan menempatkan Hamzah Haz (PPP) sebagai wakil presiden. Amien Rais (PAN) berpasangan dengan Hidayat Nur Wahid (PKS), SBY (Partai Demokrat) berduet dengan Jusuf Kalla. Sementara calon presiden Wiranto disebut-sebut paling ideal mencari pendamping dari kalangan PKB atau NU.

Namun yang menarik, pengamat politik Jefry Winter mengatakan salah satu kemungkinan cawapres yang akan mendampingi Wiranto juga berasal dari partai beringin. Namun Akbar Tandjung menolak tegas kalau dirinya berpasangan dengan bekas rivalnya yang baru saja bertanding dalam konvensi tersebut.

''Nggak mungkin saya berduet dengan Pak Wiranto. Idealnya kami akan berkoalisi dengan partai lain untuk menambah dukungan suara. Kita masih punya waktu 10 hari untuk mencari pendampingi calon presiden dari Golkar,'' ungkap Akbar, Rabu kemarin di Jakarta. Wiranto sendiri mengaku belum menentukan pilihan. Namun sama dengan Akbar dia menyatakan akan mencari pendamping dan berkoalisi dengan partai manapun asal mempunyai visi dan misi yang sama dengan Golkar.

Lebih lanjut Winter mengatakan calon dari partai yang dimaksudnya, bisa berasal dari kontestan yang kalah. ''Yang jelas, tidak mungkin Golkar berkoalisi dengan PDI-P karena Mega tidak akan mungkin jadi cawapres.''

Peran Gus Dur

Dia menambahkan, peran Gus Dur dari PKB akan sangat besar dalam bursa cawapres. ''Koalisi cawapres, kuncinya ada di Gus Dur. Tidak hanya untuk Golkar, tapi juga untuk SBY (Susilo Bambang Yudhoyono).''

Menurut Winter, peran Gus Dur menjadi penting karena arah PKB belum bisa dibaca. ''Gus Dur adalah kunci yang penting karena di dalam PKB banyak yang belum jelas. Jadi, harus diselesaikan dulu, baru bisa ketahuan nanti ke depannya arah PKB dan Gus Dur mau ke mana.''

Namun Akbar Tandjung mengatakan, koalisi tidak dapat dihindari untuk membangun pemerintahan yang kuat. Partai Golkar akan berkoalisi dengan partai yang memiliki kesamaan visi.

DPP, lanjut Akbar, akan mengajak capres terpilih untuk membicarakan masalah koalisi yang akan dilakukan pekan ini. Saat disinggung kemungkinan koalisi dengan PKB, menurut Akbar, masih terbuka.

Dia mengatakan, partainya masih menjajaki cawapres yang akan mendampingi Wiranto dalam pemilihan presiden. Masa pencarian cawapres ini makan waktu 10 hari.

Dalam waktu 10 hari Golkar akan memutuskan siapa nama cawapresnya, termasuk rencana koalisi dengan partai lain. Masa 10 hari ini wajar, mengingat masa pengajuan capres-cawapres ke KPU akan digelar 1-7 Mei mendatang. "Pembahasan soal itu akan dilakukan dalam rapat DPP Partai Golkar, termasuk mengajak capres terpilih Wiranto," kata Akbar.

Ada yang berpendapat, jika Wiranto berkoalisi dengan PKB, kekuatannya tidak akan terbendung. Tapi pembicaraan seperti itu tidak dibahas dalam pertemuan 41 kiai berpengaruh NU dengan Gus Dur. "Ya itu tadi, itu belum dibicarakan," kata Gus Dur.

Gus Dur juga menyatakan kemenangan Wiranto sebagai capres Golkar tidak mengagetkannya. "Saya sudah tahu sejak 3 hari sebelum pemilihan konvensi bahwa yang menang Wiranto.''

Pengamat politik Fachry Ali menilai, hubungan Gus Dur bersama PKB dan Wiranto cukup besar. Apalagi sebelum pemilu mantan panglima TNI itu sering bersilaturahmi dengan kiai NU dan bersama Gus Dur berkeliling Jatim dan Jateng.

''Hubungan Pak Wiranto dan NU itu cukup dekat.'' Karena itu, dia menilai sangat mungkin cawapres yang paling tepat mendampingi Wiranto adalah orang PKB atau NU karena perolehan suaranya cukup signifikan. ''Kalau Wiranto dipasangkan dengan orang NU akan menjadi pasangan terkuat.''

Ketua Umum PKB Alwi Shihab belum menentukan sikap untuk melakukan koalisi setelah melihat kemenangan Wiranto. Sikap PKB pun akan ditentukan saat Musyawarah Kerja Nasional PKB pada 25 April.

Sementara itu, kemenangan Wiranto tidak menggoyahkan duet SBY-Kalla sebagai capres dan cawapres. Bahkan pasangan dua mantan menko ini siap diproklamasikan minggu depan. Demikian ditegaskan Jusuf Kalla di sela-sela acara perpisahan dirinya dengan staf dan pegawai Kementerian Kesra, Rabu (21/4).

"Ini menjadi pertarungan jenderal melawan jenderal, head to head antara Wiranto dan SBY. Itu akan menjadi isu yang menarik. Sebaiknya masing-masing mempersiapkan diri. Yang jelas saya tetap akan duet dengan SBY," tegas Kalla. (A20,di,dtc-33t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA