| Kamis, 22 April 2004 | SEMARANG |
Pasar Gunungpati Dapat Dipindah
BALAI KOTA- Untuk memaksimalkan fungsi Terminal Gunungpati, Pasar Gunungpati dapat dipindah mendekati lokasi terminal tersebut. Langkah itu merupakan alternatif terbaik untuk menghidupkan terminal yang fungsinya tidak dioptimalkan sejak 1989 atau berdirinya terminal tipe C itu. Kepala Sub-Bidang Pengembangan Kawasan Bappeda Ir M Farchan menjelaskan, konsep yang baik sebuah terminal keberadaannya harus berdekatan dengan pasar. ''Memang sebuah terminal itu harus menyatu dengan pasar,'' kata dia, kemarin, dalam rapat Pansus Perda Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Bagian Wilayah Kota (BWK) 8 yang meliputi Kecamatan Gunungpati. Persoalannya sekarang, lanjutnya, kalau ingin menghidupkan terminal tersebut, yang harus pindah itu pasar atau terminalnya. ''Perlu solusi terbaik,'' ungkap dia. Dia mengatakan, bila terminal dipindah apakah ada lahan kosong di dekat pasar. Namun kalau pasar yang harus dipindah ke dekat terminal, hal tersebut sangat memungkinkan. Bila melihat RDTRK Kota Semarang, Pasar Gunungpati akan tergusur ketika pembangunan ringroad selatan direalisasikan. Sebab nantinya jalan lingkar selatan Semarang itu akan mengepras sebagian pasar itu. Namun ini rencana jangka panjang. ''Sehingga untuk memfungsikan terminal itu, pasar dapat dipindahkan,'' kata dia. Camat Gunungpati Endar Winarto SH menambahkan, pemindahan Pasar Gunungpati ke dekat terminal sangat memungkinkan. Sebab di belakang terminal itu masih ada lahan kosong yang dapat dikembangkan. ''Ada tanah eks bengkok seluas 20 hektare yang dapat difungsikan untuk pembangunan pasar apabila pemindahan itu benar-benar direalisasikan,'' ungkap dia. Anggota Pansus RDRTK H Ahmad Yusuf Sujianto SAg mengemukakan, angkutan umum seperti bus dan angkutan jenis Isuzu selama ini lebih suka ngetem di pertigaan dekat pasar. Dia mengakui, pembangunan terminal yang berjarak sekitar 1 km dari lokasi Pasar Gunungpati itu bermaksud baik, yakni pengembangan wilayah dan mengurangi kemacetan di dekat pasar. Namun itu berlawanan dengan kebiasaan masyarakat yang sudah lama terbentuk, yakni menunggu angkutan umum di dekat pasar. ''Petugas Dinas Perhubungan sebenarnya sudah pernah memaksakan akan angkutan umum masuk ke terminal. Akan tetapi karena penumpang dominannya ke pasar, angkutan umum memilih berhenti sampai di pasar,'' kata Bowo, salah satu petugas Dishub yang hadir dalam rapat tersebut. (G17-83) |