| Kamis, 22 April 2004 | SEMARANG |
Pencuri Gasak Rp 500 Juta dan PerhiasanSEMARANG TIMUR- Meski hanya beraksi seorang diri, pencuri satu ini tergolong berani. Setelah memperdaya pembantu rumah tangga, dia menggasak uang tunai Rp 500 juta dan satu kotak perhiasan yang diperkirakan bernilai puluhan juta rupiah, Rabu siang (21/4). Itu semua milik Tri Harsono (45), warga Jalan Purwosari V/12, Kelurahan Rejosari. Polisi yang datang hingga sore kemarin masih menyelidiki. Polisi juga meminta keterangan dari sejumlah saksi di Mapolsek Sidodadi. Saat peristiwa itu terjadi, di dalam rumah ada tiga penghuni. Yakni, ibu korban Ny Sulasih (70), anak korban Dwi Nur Yuliani (9), dan seorang pembantu, Asih (15) asal Wonosobo. Pemilik rumah, Tri Harsono, sedang mengajar di Unnes. Adapun sang istri, Ny Cahyani, masih bekerja di Bank BRI Jalan Patimura. Selain mereka, ada tiga buruh menggarap perbaikan garasi di samping rumah. Mereka adalah Ahmad Wahib (32) warga Tlogomulyo serta Mutafirin (25) dan Sutiyono (30), warga Pedurungan Lor. Menurut keterangan sejumlah saksi, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 12.00. Pencuri datang mengendarai sepeda motor Yamaha Jupiter merah. Dia memarkir kendaraan di depan pintu pagar rumah korban. Kebetulan Dwi Nur Yuliani dan Asih sedang menyaksikan televisi. Adapun Ny Sulasih tidur. Semula pencuri bertanya kepada Ahmad Wahib, salah seorang pekerja, apakah pemilik rumah ada. Wahib menjawab Tri Harsono pergi bekerja. Pencuri lalu keluar garasi dan masuk ke rumah melalui pintu depan. Kepada Asih dan Dwi yang menemui, pria berumur sekitar 30 tahun itu menyatakan datang atas suruhan pemilik rumah untuk memperbaiki AC. Asih menjawab AC di rumah itu tidak rusak, sehingga tak perlu diperbaiki. Namun laki-laki tak dikenal yang mengenakan helm itu memaksa diri untuk memperbaiki AC. Dia memerintah Asih membeli isolasi seraya memberikan uang Rp 20.000. Asih pun pergi ke sebuah warung di sekitar kampung itu untuk membeli isolasi. ''Saya disuruh membeli isolasi dua buah, ukuran besar dan kecil,'' kata Asih. Bobol Lemari Kesempatan itu dimanfaatkan pencuri yang berkulit kuning dan bermata sipit itu untuk beraksi di kamar pemilik rumah. Dia membobol lemari berisi uang Rp 500 juta dan berbagai perhiasan dalam kotak yang diperkirakan lebih dari 45 gram senilai puluhan juta rupiah. Perhiasan itu antara lain berupa kalung, gelang, cincin emas, dan dua buah mutiara. Dwi memergoki perbuatan tersangka. Namun bocah yang masih duduk di bangku kelas III SD itu lari ketakutan setelah melihat pencuri membawa senjata tajam. Dia masuk dan dan bersembunyi di dalam kamar di dekat ruang keluarga. ''Saat itu Nenek tidur. Ketika saya menuju ke kamar Ibu, saya melihat laki-laki itu mengasah pisau. Saya takut, lalu lari ke luar. Saya tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena dia memakai helm,'' tutur Dwi. Setelah membobol harta, pencuri itu keluar rumah. Saat hendak kabur dia berpapasan dengan Asih yang baru pulang membeli isolasi. Karena Asih tidak mendapatkan isolasi, dia meminta kembali uangnya, lalu dia naik sepeda motornya. Tak lama kemudian Dwi keluar rumah sambil berteriak, "Maling! Maling!" Namun penjahat yang menutupi muka dengan helm merah-putih itu sudah kabur membawa perhiasan dan uang ratusan juta rupiah. Teriakan itu didengar tetangga depan rumah, Sri Suwartiaji (40), dan anaknya Roni Subiyanto (21). Setelah mendatangi rumah korban, Roni mengejar tersangka dengan motor. ''Saya melihat pelaku mengendarai Jupiter merah meluncur keluar gang. Setelah itu dia tancap gas ke utara,'' kata Roni. Meski ketinggalan jejak, Roni menyisir di Jalan Pattimura sampai Jalan Agus Salim. Sayang upayanya gagal.Dia tidak menemukan motor atau orang yang memiliki ciri seperti pelaku. Setelah itu dia pulang ke rumah dengan tangan kosong. Dua pekerja, Wahib dan Sutiyono, juga mengejar dengan motor mereka. Keduanya melacak hingga ke Pasar Johar, namun gagal. (G5,G3-83g) |