| Kamis, 22 April 2004 | SEMARANG |
Finawati Minta Tidak DitangisiSUASANA berkabung masih tampak di rumah almarhum Finawati pelajar kelas 2 SMP Muhammadiyah Salatiga. Pada ujung gang terpasang bendera hitam sebagai tanda ada kematian di kampung itu. Banyak kerabat, teman, guru, dan tetangga berdatangan. Mereka menyampaikan duka cita kepada orang tua yang terlihat masih shocked. Bahkan ibu korban masih tak kuasa menahan tanggis jika menerima ucapan belasungkawa dari para pelayat. Korban yang dikenal ramah itu telah dimakamkan di TPU Sengtono. Ayahnya, Yanto (45), tampak lebih tegar. Bahkan lelaki yang berprofesi sebagai tukang ojek dan perternak sapi itu mampu menceritakan secara runtut peristiwa yang dialami anaknya. Ada hal yang sangat dikenang oleh keluarga tersebut. Sebab sehari sebelum peristiwa maut itu, kepada Retno (kakak korban-Red), almarhumah meminta jika ada orang mati tidak usah ditangisi terlalu lama. Sebab tangisan itu hanya akan menghalangi langkahnya di akherat. Tentu saja firasat itu tidak pernah dikaitkan dengan kejadian yang dialami oleh siswa yang prestasinya cukup lumayan di sekolahnya. Selain itu, pada Selasa pagi (20/4) ketika akan berangkat sekolah, korban juga terlihat aras-arasen. Bahkan dia sempat meminta izin kepada ibunya agar tidak masuk sekolah, tapi setelah dipaksa akhirnya tetap berangkat ke sekolah. "Mungkin itu firasat atau perlambang pada akhir masa hidupnya," katanya. Jago Mengaji Sebelum kejadian itu korban juga memberikan perlambang. Malam sebelumnya tiba-tiba dia menanyakan apakah ibunya bisa melakukan shalat jenazah. Kalau belum bisa harus belajar dulu, sebab menyolati jenazah hukumnya wajib bagi kaun muslimin. Suasana duka juga tampak menyelimuti keluarga pasangan Suranto (37) dan Ny Kantiasih (33), warga Rejosari Rowosari Tuntang Kabupaten Semarang. Sebab, putri kesayangannya bernama Diska Miranti Yulinda (14), telah berpulang untuk selama-lamanya. Suranto tampak terpukul dengan kepergian anak perempuannya yang jago mengaji. Rabu sekitar pukul 03.00, Suranto ditelepon istrinya yang bekerja sebagai TKW di Arab Saudi menanyakan keberadaan anak-anaknya. "Berhubung saya tahunya baik-baik saja, ya saya menjawabnya baik-baik pula." Satu jam kemudian, dia pun ditelepon oleh saudaranya dari Rowosari Tuntang. Saudaranya menyatakan, Diska jatuh sakit. Suranto langsung pulang. Ternyata benar, putrinya yang pintar mengaji sejak bersekolah di Lampung Selatan itu sudah berpulang. (Imam Nuryanto, Dwi Pamuji Sulistyanto-83) |