| Kamis, 22 April 2004 | INTERNASIONAL |
Pemilu Kali Ini Pertaruhkan Nasib Partai KongresNEW DELHI - Semua mata tertuju ke India saat negara demokrasi terbesar dunia itu melangsungkan pemilihan umum maraton, yang dimulai Selasa lalu. Pemilihan nasional ke-14 negara tersebut signifikan untuk sejumlah alasan. Pemilihan itu diselenggarakan saat India tidak lagi dianggap sebagai pemain yang ragu-ragu dan gugup dalam kancah global. Ekonomi diperkirakan tumbuh lebih dari delapan persen tahun ini, berkat berkembang-pesatnya sektor pertanian dan semangat yang ditunjukkan dalam industri pelayanan jasa. Cadangan nilai tukar asing negara itu melonjak melebihi 100 miliar dolar dan bursa saham mencapai peningkatan tahunan terbesar dalam lebih dari 10 tahun. Inflasi dan suku bunga rendah. Pemilihan ini merupakan yang pertama dalam hampir dua dasa warsa, yang tidak berlangsung dengan latar belakang kegelisahan nasional serius tentang terorisme, atau kemungkinan perang dengan negara tetangga yang sama-sama punya nuklir, Pakistan, atau terpuruknya ekonomi. Juga untuk kali pertama satu pemerintahan, yang tidak dikelola oleh Kongres, partai besar lama negara itu, menyelesaikan lima tahun masa pemerintahan dan melakukan upaya baru untuk bisa berkuasa lagi. Koalisi kanan-tengah yang terdiri atas 22 partai, yang dipimpin partai nasionalis Hindu yang berkuasa Partai Bharatiya Janata (BJP), tengah mengupayakan kekuasaan baru dan menyembunyikan ambisi-ambisi besar. ''Koalisi pimpinan BJP tengah berusaha mengonsolidasikan posisinya ke satu titik tempat kelompok itu bisa mengklaim sebagai pusat alami gravitasi politik India,'' kata Pratap Bhanu Mehta, yang mengajar ilmu politik di Universitas Harvard. Bisa Berubah Para pengamat menyatakan, pemilihan kali ini juga bisa berubah menjadi pemilihan yang menjatuhkan bagi Partai Kongres, yang telah memerintah India selama 45 tahun sejak kemerdekaan. ''Jika hasilnya menurun drastis, pemilihan ini bisa menjadi akhir bagi partai tersebut,'' kata Mehta. Para pengamat merasa Kongres tidak akan mampu memanfaatkan kegagalan pemerintahan pimpinan BJP. Mereka menyatakan, partai tersebut terhambat oleh perselisihan internal dan krisis kepemimpinan - ketergantungan hampir total partai tersebut pada anggota keluarga Nehru-Gandhi yang termasyhur di India untuk memimpin mereka menyingkirkan pemimpin-pemimpin lain yang menjanjikan. Sejumlah jajak pendapat pra-pemilu di media India menunjukkan Aliansi Demokratik Nasional (NDA) yang dipimpin BJP di bawah PM Atal Behari Vajpayee unggul atas Kongres. Sikap Vajpayee (79) yang cerdik, kekakek-kakekan, dan suka menulis puisi itu merupakan penarik suara utama bagi BJP. Partai tersebut tampaknya memproyeksikan Vajpayee sebagai pemimpin besar pan-India terakhir - negarawan bersih yang mampu mengatasi politik India yang suram. Vajpayee menawarkan apa yang oleh tokoh partainya digambarkan sebagai ''faktor baik'' di antara orang-orang karena ''India sedang bersinar'' - satu acuan pada kampanye iklan pemerintahan. Partai Kongres pimpinan Sonia Gandhi menyatakan, rekor ekonominya kuat. BJP yakin bisa memanfaatkan pertumbuhan ekonomi yang kuat dan inisiatif damai Vajpayee dengan Pakistan. Kongres, yang sebenarnya memulai reformasi ekonomi pada awal 1990-an, menyatakan manfaat liberalisasi tidak begitu besar. Mereka mungkin benar - sepertiga dari satu miliar penduduk India masih hidup dengan penghasilan kurang dari satu dolar (sekitar Rp 8.500) sehari. ''India Shining'' Pertumbuhan ekonomi India masih belum bisa menyerap sejumlah besar orang, yang diperlukan untuk mengatasi masalah pengangguran. Jadi, kampanye ''India Shining'' BJP tampaknya tidak akan memperoleh dukungan di seluruh wilayah negara yang beraneka ragam itu. Misalnya, di Negara Bagian Tamil Nadu yang kekurangan air di India selatan, isu-isu kasta lokal dan tidak adanya air bersih tampaknya akan lebih berpengaruh ketimbang rekor pertumbuhan ekonomi negara tersebut atau inisiatif-inisiatif kebijakan luar negeri Vajpayee. Sehingga partai-partai regional sangat berperan untuk menempa koalisi yang menang, namun BJP lebih suka menyapu bersih jumlah maksimum kursinya. BJP dan Kongres beradu secara langsung, tanpa melibatkan satu pun partai regional, di 103 dari 543 konstituen di hanya enam dari 28 negara bagian.''Tidak ada isu nasional dalam pemilihan kali ini. Hasil secara nasional mungkin merupakan kumpulan dari hasil negara bagian. Isu-isu negara bagian akan menentukan hasil nasional,'' kata Ashutosh Varshney, yang mengajar ilmu politik di Universitas Michigan. Pelajaran dari pemilihan umum ke-14 mungkin munculnya lagi partai-partai regional dengan mengorbankan partai-partai utama. Pratap Bhanu Mehta mengatakan, hasilnya ''mungkin masih menimbulkan kemungkinan-kemungkinan yang membangkitkan rasa ingin tahu. (bbc-niek-46) |