| Kamis, 22 April 2004 | INTERNASIONAL |
China Desak Kim agar Perhatikan Angin KapitalismeBEIJING - Pemimpin Korea Utara Kim Jong-il berjanji kepada para pemimpin China, dia akan bersabar, luwes, dan ambil bagian dalam perundingan enam negara tentang program nuklir Pyongyang. Janjinya tersebut dikemukakan Rabu sore kemarin di Beijing, pada akhir kunjungan tiga harinya di China, sebelum naik ke sebuah kereta api yang akan membawanya tanah air, kemarin sore. Media pemerintah menayangkan rekaman Kim tersenyum dan memeluk para pemimpin puncak China, juga memberikan perincian mengenai isi pertemuan-pertemuan Kim dengan para pemimpin China. Namun, beda dengan laporan media China yang berbunga-bunga, media Korsel menyebutkan para pemimpin komunis China mendesak Kim agar memperhatikan angin kapitalisme dan melunakkan ambisi nuklirnya. Menurut media Korsel, pembicaraan didominasi oleh permintaan para pemimpin China - negara yang ekonominya tumbuh paling cepat di dunia - agar Kim memperhatikan reformasi ekonomi dan melunakkan sikap terhadap AS mengenai ambisinya memiliki senjata nuklir. Dalam pertemuan dengan Jiang Zemin, ketua Komisi Militer Pusat, Kim meminta bantuan untuk membujuk AS agar menghilangkan apa yang dia sebut ''kebijakan bermusuhan Washington'', dan memberikan jaminan keamanan kepada Korut. Di ladang percontohan di Desa Hancunhe (pinggiran Beijing) yang menjadi tempat pameran teori-teori swastanisasi Jiang, penjagaan keamanan diperketat, Rabu pagi kemarin. Kim diyakini berkunjung ke sana menjelang siang. Inginkan Reformasi Kunjungan tersebut memberikan tekanan kepada Kim untuk memodernisasi ladang di negaranya yang miskin dan terkucil. Di Korut, para petani beberapa kali menderita kelaparan sejak pertengahan 1990-an, dan reformasi pasar baru-baru ini mulai menunjukkan hasilnya, kata para analis. Kim mungkin singgah di kota Shenyang (China timurlaut) dalam perjalanan pulangnya, untuk membahas pembangunan dan kerja sama ekonomi, lapor koran Chosun Ilbo. ''Kim sangat tertarik pada upaya untuk mereformasi ekonomi Korut,'' tulis koran Korsel itu, mengutip sumber-sumber yang tidak mau disebutkan namanya. Disebutkan, China akan memberikan dukungan aktif. Perdana Menteri Wen Jiabao, yang menjadi pelopor perkembangan pesat ekonomi China, menyarankan agar Kim mengunjungi Korsel dan secara langsung menyaksikan angin kapitalisme di sana, lapor koran Munhwa Ilbo. Mengakhiri krisis nuklir Korut adalah bagian terpenting untuk membuka bantuan luar negeri, termasuk dari Beijing, kepada Pyongyang. Dua putaran perundingan enam negara, yang bertujuan memecahkan kebuntuan isu nuklir tersebut, telah dilakukan di Beijing, tanpa hasil. Namun Kim mungkin mempertimbangkan, senjata nuklir merupakan satu-satunya cara untuk mempertahankan pemerintahannya, memberinya kekuatan menghadapi AS, ketika dia melakukan tekanan untuk mendapatkan jaminan keamanan guna mencegah kemungkinan invasi Amerika. Kim mengungkapkan keraguan dalam pertemuan dengan Jiang, apakah dia akan memperoleh jaminan keamanan yang dia inginkan dari AS, sebagai imbalan bagi menghentikan program nuklirnya. Jiang mengatakan kepadanya, kemungkinan invasi AS - seperti yang dilakukan terhadap Irak - sangat kecil. Dia memberikan saran agar Kim mengubah sikap kerasnya. (rtr-ben-30) |