logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 22 April 2004 INTERNASIONAL
Line

Bebas Sudah si Pengkhianat Sekaligus Pahlawan

ASHKELON - Mordechai Vanunu, pembocor rahasia nuklir Israel, dibebaskan Rabu kemarin setelah menjalani hukuman 18 tahun penjara. Dialah yang membeberkan bahwa Israel salah satu negara pemilik senjata atom di dunia.

Dia melambaikan tangan dan mengacungkan simbol kemenangan ''V'' (victory), ketika berjalan keluar melewati gerbang Penjara Shikma di Ashkelon.

Pria berusia 49 tahun itu berdiri dengan gagah di depan sejumlah kamera televisi, dan berkata: ''Saya bangga dan bahagia atas apa yang telah saya lakukan.''

Mantan teknisi nuklir itu disambut massa pendukung, yang mengelu-elukannya sebagai pahlawan perdamaian. Sementara itu, para demonstran dalam jumlah yang sama menjulukinya pengkhianat.

Vanunu mengatakan, dia telah mengalami perlakuan kejam dan barbar dari para petugas dinas keamanan Israel. Dia bersikeras, tidak punya lagi rahasia untuk dibeberkan.

Khawatir dia akan membongkar informasi rahasia lagi, Pemerintah Israel memberlakukan pengawasan ketat terhadapnya. Gerak-geriknya dibatasi, antara lain dilarang selama satu tahun pergi ke luar negeri.

''Israel tidak butuh senjata nuklir, khususnya saat semua negara di Timur Tengah bebas dari senjata nuklir. Pesan saya saat ini kepada seluruh dunia adalah, periksalah reaktor nuklir Dimona,'' katanya, dalam pernyataan yang disiarkan langsung oleh televisi.

Dikecoh Agen Mossad

Dia membocorkan gambar-gambar dan perincian sangat rahasia mengenai reaktor nuklir Dimona kepada koran Inggris Sunday Times, pada 1986. Dia sendiri bekerja di reaktor itu.

Informasi bocorannya tersebut membuat para pakar nuklir independen menyimpulkan, Israel pada waktu itu telah mampu menimbun 100 sampai 200 hulu ledak nuklir.

Pembeberannya itu menyibak kebohongan Israel, yang sebelumnya dengan tegas menyatakan negara Yahudi tersebut tidak akan menjadi negara pertama di Timur Tengah yang memiliki senjata atom.

Seorang wanita pirang, yang sebenarnya agen dinas rahasia Mossad, memikat Vanunu dari London untuk datang ke Roma. Di ibu kota Italia itulah dia diculik dan dibawa pulang ke tanah air.

Dalam suatu peradilan tertutup, dia divonis melakukan pengkhianatan terhadap negara Israel, dan dihukum 18 tahun penjara. Sebagian besar hukumannya dijalani di sel isolasi, sendirian.

Vanunu mengatakan ingin meninggalkan Israel. Di negara Yahudi itu, kebencian terhadap dirinya begitu besar, sehingga sanak saudaranya sangat mencemaskan keselamatannya.

Dia punya banyak pendukung di luar Israel. Para aktivis perdamaian internasional berulang kali menominasikan dia untuk menerima penghargaan Nobel Perdamaian.

Namun sampai sekarang, laporan-laporan media menyebutkan dia akan tinggal di sebuah kompleks apartemen mewah di Tel Aviv, Israel selatan, yang wilayahnya bertetangga dengan Jaffa. Apartemen itu dekat sebuah gereja, sehingga pria yang baru saja masuk Kristen itu bisa beribadah.

Susannah York Menyambut

Oleh pihak keamanan Israel, dia selama enam bulan ke depan akan dilarang mendekati bandara, pelabuhan, atau pos lintas batas antarnegara, juga tidak diizinkan berbicara dengan orang asing tanpa persetujuan.

Kementerian Pertahanan Israel mengatakan, pembatasan-pembatasan tersebut diterapkan mengingat ''ada bahaya nyata Vanunu akan membongkar rahasia negara'', dengan memberikan info-info yang belum dia beberkan.

Aktris Inggris Susannah York, yang berada di antara juru kampanye antinuklir lainnya, datang ke Israel untuk menyambut pembebasan Vanunu. Dia mengatakan: ''Ini sungguh pelanggaran HAM. Delapan belas tahun lalu, dia hanya mengatakan segala yang dia ketahui.''

Di antara orang-orang yang menyambutnya adalah Nick dan Mary Eoloff, pasangan Amerika yang mengadopsi Vanunu dalam upaya memberinya kewarganegaraan AS. Sayang, upaya itu gagal. Sebagian besar keluarga, sudah tidak mengakuinya lagi.

Vanunu masih terikat pada kesepakatan untuk tidak membeberkan rahasia negara. Kesepakatan itu ditandatanganinya ketika dia bekerja di reaktor nuklir Dimona, Israel selatan, pada 1976.

Israel sejauh ini menolak untuk menandatangani traktat antipenyebaran nuklir, dan terus menutup rapat-rapat pintu reaktor nuklir Dimona dari inspeksi internasional.

Vanunu bekerja di Dimona sampai dia dipecat pada 1985. Tak lama kemudian, dia pergi ke luar negeri dan memberikan foto-foto serta perincian spesifik mengenai kegiatan reaktor nuklir tersebut kepada Sunday Times, sebelum tertangkap karena terkecoh seorang agen mata-mata cantik Mossad.(rtr-ben-30)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA