| Kamis, 22 April 2004 | EKONOMI |
Jamsostek Siapkan Rp 1 Triliun untuk SUNJAKARTA- Sejalan dengan strategi dalam berinvestasi yang lebih mementingkan keamanan daripada profit, PT Jamsostek akan ikut berpartisipasi dalam lelang obligasi pemerintah atau surat utang negara (SUN) pada 27 April. BUMN itu, menurut Direktur Investasi Samuel Tobing, telah menyiapkan sekitar Rp 1 triliun untuk memborong SUN. Jumlah tersebut tidak jauh berbeda dari yang disiapkan oleh PT Taspen. "Obligasi pemerintah lebih menarik dibandingkan dengan deposito," ujarnya, kemarin. Pada 27 April 2004 pemerintah berencana menerbitkan obligasi senilai Rp 3 triliun yang akan jatuh tempo 15 Oktober 2011. Lelang obligasi itu merupakan kali ketiga yang dilakukan pada tahun ini. Sebelumnya pemerintah telah melelang obligasi senilai Rp 4,5 triliun. Dana hasil obligasi tersebut akan digunakan untuk memperkuat anggaran pemerintah yang diperkirakan mengalami defisit Rp 41,2 triliun atau 1,2% dari Gross Domestic Product (GDP) Indonesia. Samuel Tobing menyebutkan Jamsostek menargetkan total investasi Rp 32 triliun pada tahun ini. Dari investasi itu 44% atau sekitar Rp 13,6 triliun akan dialokasikan pada instrumen obligasi. "Rasio investasi pada obligasi terbesar di antara semua instrumen investasi Jamsostek," jelasnya. Menurut dia, alokasi investasi untuk obligasi tahun ini meningkat dari tahun sebelumnya, yakni berkisar 33% dari total investasi. Sementara itu investasi dalam deposito akan dikurangi. Ini terkait dengan penurunan suku bunga deposito dari sekitar 54% pada 2003 menjadi sekitar 46% dari total investasi tahun ini. Alokasi dana dalam saham, properti, dan lain-lainnya cenderung stabil dibandingkan dengan tahun 2003. Ia menambahkan Jamsostek secara umum memiliki pandangan bullish terhadap pasar obligasi, khususnya obligasi pemerintah. "Ada sinyal-sinyal positif dari Bank Indonesia (BI), misalnya, tren suku bunga yang terus menurun serta pengurangan frekuensi lelang BI. Selain itu, spread cukup tinggi antara suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan obligasi serta kemungkinan peringkat Indonesia dinaikkan," ujarnya. Pihaknya memiliki kebijakan tersendiri untuk berinvestasi ke obligasi korporasi. Di antaranya harus tercatat, peringkat minimal A-, minimum total besaran issuance Rp 200 miliar, dan yield menarik. Jamsostek memiliki kebijakan berinvestasi sebesar 20% dari issuance.(wa [i]) |