| Kamis, 22 April 2004 | BUDAYA |
Sebuah Cara Mencurangi IstriADAKAH cara yang paling efektif bagi seorang suami untuk mengakali istrinya, supaya dapat berkencan dengan wanita (kekasihnya) yang lain? Ada! Bersamadi, jawabnya. Paling tidak, demikianlah kiat paling jitu menurut tokoh Sinyo Botak (Jose Rizal Manua). Karena dengan bersamadi, sang suami dapat berhubungan dengan kekasihnya. Bagaimana caranya? Mudah saja, panggil saja Tarakoasia, pembantu kepercayaannya untuk menggantikannya bersamadi di bawah selimut. Sehingga dengan demikian, ia dapat menyelinap ke luar rumah, sementara sang istri tetap mengira bahwa sang suami masih berada di dalam selimut tersebut. Demikianlah, naskah ringan dan konyol karya penulis asal Jepang berjudul Bersamadi dipentaskan oleh Teater Tanah Air pimpinan Jose Rizal Manua. Meski pentas yang berlangsung di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Jl Palmerah Selatan 17 Jakarta, Selasa (20/4) malam itu sendiri tidak dijejali banyak penonton, namun di atas panggung dua lakon yang digelar teater Tanah Airku tersebut mengalir dengan baik. Lakon kedua dengan setting yang nyaris sama, berjudul Pengembara dari Surga karya Hans Sachs, disajikan dalam format yang cenderung lebih serius dibandingkan lakon pertama. Menurut Jose Rizal Manua, dipilihnya naskah Jepang itu bukan kebetulan semata. ''Itu naskah enteng, namun mengandung ajaran filosofis yang dalam,'' katanya menjelang pentas. ''Dengan alur yang komikal dan komedi, naskah itu sebenarnya mengajarkan betapa kecurangan -dalam bentuk apa pun- niscaya akan berbalik kepad pelakunya,'' imbuhnya. Dan di atas pentas, tokoh Sinyo Botak yang berkimono pun harus menuai kecurangannya, manakala menceracau mengisahkan secara kronologis kepada Torakoasia yang berada di dalam selimut samadi sepulang dari rumah Hana, kekasihnya. Meski sebenarnya -tanpa ia sadari- yang berada di dalam selimut itu bukan lagi Tarakoasia, melainkan istrinya. Bisa dibayangkan, bagaimana muntapnya sang istri yang berada di dalam selimut menyimak detail demi detail kemesraan yang baru saja dilalui suaminya dengan perempuan lain. Minimalis Agak berbeda dengan teknik penyajian yang biasa dilakukan, dalam naskah Bersamadi dan Pengembara dari Surga, Jose Rizal Manua sebagai sutrdara agaknya sengaja membesut teknik pemanggungan dengan sangat minim sekali. Setting yang hanya berupa level sebagai tempat samadi, dan kain putih serta merah sebagai kerudung bersamadi, dijadikan properti utamanya. Bahkan, teknik pencahayaannya pun fragmentaris, monoton dan stay still (spartan) dari awal hingga akhir lakon. Yang menjadikan lakon itu kuat, tidak lain karena keaktoran Jose dan para punggawa teater Tanah Air yang memang telah mempunyai ''jam terbang'' tinggi. ''Memang, lakon itu sengaja saya besut dalam teknik minimalis. Karena dengan demikian, kami dapat dengan mudah mementaskan di mana saja tanpa tuntutan properti keteateran yang dalam beberapa hal justru mengungkung kebebasan lakon tersebut,'' katanya. (Benny Benke-41) |