logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 April 2004 OLAHRAGA
Line

Nasib Joni Sugiatno Belum Jelas

SEMARANG- Pengda PBVSI Jateng mempertanyakan mental Joni Sugiatno, karena pemain bola voli tim nasional ini dinilai tidak mempunyai pendirian tetap. Akibat sikap Joni itu, muncul perselisihan antara Jateng dan Jatim. Merasa sama-sama benar, kedua daerah tersebut akhirnya saling mendaftarkan Joni ke PB PON XVI Palembang. Alasannya sederhana, baik Jateng maupun Jatim sama - sama memberikan uang insentif kepada bintang iklan Sampoerna Hijau Pro-Liga tersebut.

Sampai saat ini Jatim tetap ngotot mempertahankan Joni dengan alasan atlet jangkung itu selalu menerima uang insentif dari KONI Jatim. Joni adalah pemain klub Samator Surabaya, yang dalam Pro-Liga kali ini berubah nama menjadi Surabaya Flame.

''Tetapi dari Jateng Joni juga menerima insentif. Ini artinya, dia menerima uang insentif ganda, dari Jateng dan Jatim. Itu sebabnya kami mempertanyakan mental Joni,'' tutur Sekum Pengda PBVSI Jateng, Sofyan T Dolo, di kantor KONI Jateng, kemarin.

Sofyan mencontohkan, ketika atlet - atlet nasional akan berangkat ke SEA Games Vietnam Desember silam, pemain asal Cilacap itu menerima uang tali asih dari Gubernur Mardiyanto. Sepulang dari Vietnam, atlet - atlet Jateng yang berhasil meraih medali juga menerima bonus dari Gubernur Jateng itu, yang diterimakan bersamaan dengan peresmian pelatda jangka panjang (PJP) tahap kedua di GOR Patriot, beberapa waktu lalu.

''Apalagi tim voli SEA Games berhasil merebut medali emas, sehingga bonus yang diterima Joni paling besar,'' tandasnya.

Jalan Buntu

Pada 10 Maret lalu, Pengda Jateng sudah membicarakan masalah itu dengan PBVSI Jatim di Surabaya. Pengda Jatim diwakili oleh Sekum Ny Murni dan Kristanto sebagai pembina klub Surabaya Flame. Dalam pertemuan di salah satu rumah makan di Surabaya itu, belum ada titik temu. Jatim tetap mempertahankan Joni karena merasa dalam posisi yang benar. Akibatnya, negosiasi pun berakhir buntu.

Kedua pengda kemudian sepakat akan melanjutkan negosiasi di kemudian hari dengan mendatangkan Joni. Tapi, rencana nego lanjutan tersebut belum terlaksana, karena sepulang dari Surabaya Sofyan T Dolo dan Ketua Harian PBVSI Jateng Drs H Soeparno MM yang mewakili kubu Jateng, mengalami kecelakaan di Kudus. Dalam kecelakaan itu, Soeparno meninggal dunia dan Sofyan T Dolo mengalami patah tulang tangan kanan.

''Sampai kini belum ada keputusan,'' jelas Sofyan yang masih ''menggendong'' tangan kanannya.Jateng tetap berpegang pada aturan PP PBVSI, yakni kepindahan atlet harus dilengkapi rekomendasi dari klub asal, kemudian disahkan oleh Pengda dan KONI. Semua itu belum dilakukan oleh Joni.(C16-77)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA