logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 April 2004 NASIONAL
Line

Mega Pernah Ajak Duet Kalla

  • Usai Mundur Temui SBY

Malik Fadjar

JAKARTA- Jusuf Kalla, Senin (19/4) siang telah bertemu langsung Presiden Megawati Soekarnoputri untuk menyampaikan permohonan pengunduran diri dari jabatannya sebagai menteri koordinator bidang kesejahteraan rakyat (menko kesra). Presiden menerima pengunduran diri Kalla yang akan maju sebagai calon wakil presiden berpasangan dengan mantan menko polkam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan segera menunjuk penggantinya.

Siang itu, dia memang telah dijadwalkan untuk diterima presiden secara khusus, seusai rapat kabinet terbatas. Namun sejak pagi hari, Kalla sudah berada di Istana bersama sejumlah menteri lainnya untuk menghadiri pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Tingkat Nasional yang dibuka Kepala Negara.

Dalam keterangannya selepas bertemu Mega, Kalla menjelaskan, dia baru saja menyampaikan surat kepada presiden. "Pertama, surat itu berbunyi, saya ingin berterima kasih atas apa yang diberikan selama ini untuk menjadi menko kesra. Kedua, saya telah berusaha menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Kemudian, apabila ada masalah yang belum saya kerjakan, saya minta maaf," jelasnya.

Untuk selanjutnya, dia menunggu persetujuan resmi dari Presiden. Sekretaris Negara Bambang Kesowo yang dicegat wartawan menjelaskan, Mega pada prinsipnya dapat menerima pengunduran diri Kalla dan menyampaikan terima kasih atas dukungan yang telah diberikan selama ini.

Menurut pandangan Sekneg, Presiden justru sangat menghargainya sikap kesatria tersebut dan selanjutnya meminta dirinya menyiapkan SK penggantian Kalla.

Sekneg menambahkan, adapun penggantinya telah dipersiapkan sebagai menko kesra ad interim Mendiknas Malik Fajar. Namun itu baru kemungkinan, karena keputusan tersebut sepenuhnya hak prerogratif Presiden .

Di pihak lain, Jusuf Kalla mengakui, sebelum memutuskan berduet dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sebenarnya PDI-P sudah menawari dirinya untuk berduet dengan Megawati. Namun dirinya lebih memilih untuk "bergandengan tangan" dengan SBY.

Tawaran PDI-P itu sendiri tidak langsung disampaikan Mega kepadanya, tapi lewat orang lain. "Ada lobi-lobi (dari PDI-P), tapi tidak langsung kepada saya," kata Kalla usai pamitan sebagai Menko kesra ).

kepada Presiden Mega di Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara Jakpus, Senin (19/4

Saat ditanya, alasan dia memilih bergabung dengan SBY? "Apa salahnya sebuah pilihan," kilah pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses itu.

Selain Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri, rupanya Jusuf Kalla juga pernah dilamar untuk mendampingi Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung. Hal itu diungkapkan fungsionaris Partai Golkar yang juga Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Syamsul Mu'arif usai mengikuti rapat kabinet di Istana Negara, Senin (19/4).

Diminta klarifikasi soal berita yang menyebut salah satu kandidat yang bakal mendampingi Akbar maju berpasangan sebagai capres dan cawapres adalah Panglima TNI Endriartono Sutarto, Syamsul mengakui, Endriartono memang merupakan salah satu alternatif yang dipikirkan Akbar. Namun menurut dia, semuanya terpulang pada siapa yang akhirnya akan memenangi konvensi capres.

"Pemenang konvensi yang mengambil peran besar. Kalau yang menang Pak Akbar, itu satu kemungkinan," katanya.

Syamsul menambahkan, sebenarnya banyak alternatif yang dipertimbangkan Akbar untuk mendampinginya sebagai cawapres, jika akhirnya ia memenangi konvensi. Salah satunya adalah SBY. "Sebetulnya Pak Akbar itu inginnya dengan SBY. Itu suatu cermin yang bagus saya kira. Tapi Pak Bambang, kan akan maju nomor satu. Jadi kami hormati pandangan Beliau," katanya.

Setelah Yudhoyono tidak memungkinkan, karena hanya bersedia tampil sebagai capres, Akbar melirik Jusuf Kalla yang berasal dari Partai Golkar sendiri. Tapi lagi-lagi peluang itu tertutup, karena konvensi belum selesai.

"Karena SBY mengambil Pak Jusuf Kalla, berarti Pak Akbar harus mencari yang lain. Cari yang lain, antara lain figur Endriartono. Barangkali juga dengan partai yang lain, apakah itu PKB atau PPP," ujarnya.

Temui SBY

Keseriusan Kalla untuk maju bersama SBY, makin jelas terlihat. Terbukti usai bertemu presiden, Kalla langsung menemui SBY. Sementara mundurnya Kalla sebagai Menko Kesra dari kabinet Gotong Royong, telah mendorong Yudhoyono untuk melakukan konsolidasi.

Kabarnya, mereka berdua bertemu di sebuah hotel di Jalan HR Rasuna Said Jakarta. Namun apa saja yang mereka bicarakan, sepertinya masih menjadi bahan pertanyaan. Karena hasil pertemuan tersebut masih sengaja disimpan oleh keduanya. Diduga pertemuan itu membahas tentang strategi untuk menggapai impiannya sebagai RI 1 dan RI 2.

Apalagi, sejak pagi sampai siang hari kemarin, tim sukses SBY menggelar rapat penting. Salah seorang tim sukses SBY, Syamsir Siregar membenarkan tentang rapat itu. Namun tidak mau menyebutkan materi yang dibahas. "Saya sedang rapat," kata Syamsir saat ditelepon sekitar pukul 12.00 WIB. Bisa jadi, hasil rapat tim sukses SBY itu yang dibawa dalam pertemuan dengan Kalla. Termasuk soal kompensasi kabinet-kabinet? Belum jelas juga.

Dengan makin solidnya duet SBY-Kalla itu, maka isu-isu berkaitan dengan SBY masih ada kemungkinan mencari pendamping lain selain Kalla, makin menipis. Untuk diketahui, isu terakhir, SBY akan menggandeng Akbar Tandjung, jika menang konvensi. Isu itu muncul, karena saat ini Golkar diduga akan kesulitan mencari calon wapresnya. Karena itu, tidak mudah bagi Golkar untuk mengusung pemenang konvensi sebagai calon presiden.

Meski Golkar sebagai pemenang pemilu, namun resitensi partai ini juga masih besar. Karena itu, daripada Golkar kehilangan kedudukan di pemerintahan, maka Akbar diduga mau berpasangan dengan SBY sebagai cawapres. Sedangkan Kalla, kabarnya akan tetap diplot sebagai menteri penting dalam pemerintahan nanti.

Kalah Pamor

Dengan makin solidnya SBY-Kalla, maka isu tersebut makin sulit diwujudkan, meski peluangnya masih bisa saja terjadi. Namanya juga politik, setiap keputusan bisa berubah dalam hitungan detik.

Sementara itu, pengamat politik CSIS Indra J Piliang melihat masuknya Kalla sebagai pasangan SBY, akan membuat Mega yang tengah berupaya menggandeng Hamzah Haz kalah pamor. Pasangan SBY-Kalla dinilainya sebagai pasangan ideal, karena memiliki semua unsur. "Pasangan ini memiliki unsur sipil-militer, Jawa-Non Jawa, dan nasionalis-relijius," kata Indra.

Selain itu, SBY-Kalla juga dinilai sebagai penggabungan dua kompetensi. SBY ahli pertahanan/keamanan, sementara Kalla ahli ekonomi dan sosial. "Pasangan ini sudah terbukti bisa bekerja sama dalam pemerintahan Megawati," kata Indra.

Dengan munculnya pasangan itu, menurut Indra, maka pamor duet Megawati-Hamzah-jika memang akan dipertahankan-akan melemah. "SBY dan Kalla ini yang sebetulnya bekerja dalam pemerintahan sekarang," terang Indra.

Duet Mega-Hamzah, kata Indra, juga bukan pasangan yang ahli dalam bidang tertentu. "Pasangan Mega-Hamzah hanya mencitrakan pasangan nasionalis-sekuler," ungkapnya.(dtc, A20-69)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA