| Selasa, 20 April 2004 | KEDU & DIY |
Dibayar dengan Beras Sebelum PentasNGURI-URI (melestarikan-Red) budaya leluhur memang wajib kita lakukan. Tujuannya, di samping agar budaya itu bisa hidup sepanjang masa di tengah serbuan kesenian asing lewat berbagai media, juga untuk menghormati nilai budaya para leluhur yang tinggi. Seperti tradisi aum tandur yang dilakukan warga Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang yang digelar setiap petani di dusun itu selesai menanam padi (tandur-Red). ''Ini tradisi leluhur dan sudah dilaksanakan turun-temurun. Demikian pula saat panen tiba, warga dusun menyelenggarakan tradisi aum panen,'' ungkap sesepuh Dusun Warangan, Suparmo (70). Tradisi aum tandur diselenggarakan Sabtu (17/4) lalu. Inti kegiatan itu memohon kepada Dewi Sri yang merupakan dewi kemakmuran agar memberi berkah kepada bibit padi yang baru ditanam para petani. Harapannya, benih itu bisa tumbuh subur dan hasilnya melimpah. Selain itu dibebaskan dari berbagai serangan hama. Suparmo menceritakan, acara itu digelar setiap musim tanam pada Sabtu Wage. Setiap warga Dusun Warangan yang berjumlah 149 keluarga, masing-masing membuat tumpeng yang dilengkapi ingkung (ayam panggang-Red) dan jajan pasar. Tumpeng itu dikumpulkan di rumah Kadus Warangan, Wandi, kemudian dilanjutkan kenduri. Seusai kenduri, isi tumpeng diambil sedikit termasuk ingkung dan jajan pasar, selanjutnya diletakkan di sudut sawah masing-masing. Itu sebagai sesaji untuk dewi kemakmuran. Adapun sisa tumpeng dimakan bersama-sama semua warga dusun. Siang itu juga digelar pertunjukan wayang kulit dan harus rampung sebelum waktu magrib tiba. Dalangnya adalah Jumbuh Siswanto, warga Kecamatan Pakis, yang juga merupakan dalang turun-temurun untuk kegiatan tradisi tersebut. Lakonnya juga khusus, yaitu "Sri Mulih", yang menceritakan datangnya Dewi Sri ke sawah dengan membawa kemakmuran. Berbeda dari biasanya, dalang seusai pentas dibayar dengan uang, pada acara itu dalang Jumbuh Siswanto tidak boleh menerima uang. Dia dibayar dengan beras. Karena itu, setiap keluarga jauh hari sebelumnya harus menyetorkan beras kepada Kadus yang kemudian diserahkan kepada sang dalang. ''Beras juga harus diserahkan ke dalang beberapa hari sebelumnya, tidak boleh sesudah wayang digelar,'' ujarnya. Nanti setelah panen warga juga melaksanakan tradisi aum panen, dengan nanggap wayang kulit. Dalangnya juga sama harus turun-temurun, hanya ceritanya yang berbeda. Yaitu ungkapan terima kasih karena hasil panennya melimpah. Perbedaan lainnya, pertunjukan wayang seperti lazimnya dilaksanakan semalam suntuk. Suparmo menerangkan, selama tradisi itu dilaksanakan hasil panen selalu baik dan hama tanaman yang menyerang tidak begitu banyak. Dengan demikian, petani masih bisa menikmati hasilnya. Memang pernah beberapa puluh tahun lalu warga tidak menggelar tradisi tu, namun hasil panennya tetap baik. Akan tetapi yang menjadi ''korban'' Kadus Warangan yang dahulu, tiba-tiba dicopot dari jabatannya oleh Kades. Apakah ada hubungan antarkeduanya, tidak ada warga yang tahu. Sebab, bisa saja kadus tersebut dicopot karena berbuat kesalahan. (Doddy Ardjono-34j) |