logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 April 2004 KEDU & DIY
Line

Ribuan Tanaman Tembakau Mati

  • Dishutbun Belum Terima Laporan

TEMANGGUNG- Ribuan tanaman tembakau di beberapa desa Kabupaten Temanggung, dalam dua pekan ini mati. Kematian itu umumnya terjadi pada tanaman yang baru berumur antara satu hingga lima minggu.

Beberapa petani di daerah sentra tembakau seperti Kecamatan Bulu, Parakan, serta Kledung kemarin menjelaskan, mereka terpaksa menanam ulang (sulaman). Padahal itu menambah biaya tanam karena pengulangan ada yang sampai lima kali.

Petani menilai ada tiga faktor penyebab kematian tanaman. Yaitu terbatasnya pemakaian pupuk kandang dan obat pertanian lain, rendahnya kualitas bibit, serta berkurangnya hujan.

''Sekarang banyak petani tidak mampu membeli pupuk kandang dan obat pertanian karena harga tembakau jatuh 2002 dan 2003 lalu. Hal itu jelas memengaruhi kesuburan tanaman,'' kata Sudardjo (57) petani di Desa Pagersari, Bulu.

Terbatasnya Modal

Menurut Sudardjo, idealnya lahan satu hektare membutuhkan pupuk kandang 10 sampai 14 rit (truk). Saat ini umumnya petani hanya mampu menabur 4 sampai 8 rit karena keterbatasan modal tanam. Sebab harga satu rit pupuk kandang Rp 350.000 sampai Rp 400.000.

''Di samping itu dalam beberapa pekan terakhir hujan juga tidak turun. Padahal tanaman muda mutlak butuh air secara penuh,'' timpal Marsono (51) petani di Kledung.

Kabid Perkebunan Dishutbun Moh Slamet di ruang kerjanya kemarin mengaku belum menerima laporan terjadinya kematian tanaman tersebut. Namun berdasarkan pengalaman tahun-tahun lalu, tanaman muda memang rentan penyakit sehingga harus sering dilakukan penanaman ulang.

Apalagi kondisi alam serta keterbatasan modal tanam yang sekarang dialami hampir sebagian besar petani tembakau. Tanpa diberi pupuk kandang dalam jumlah banyak, pertumbuhan tembakau menjadi kurang baik karena kondisi tanah yang rusak.

''Banyak tanah di areal tembakau sudah menjadi lincat. Karena itu, banyak cacing nematoda (cacing kecil) yang menyerang akar tanam tembakau sehingga tanaman mati,'' katanya.

Dia memperkirakan luas areal tembakau tahun ini menurun dibandingkan sebelumnya. Dia mencontohkan, pada tahun 2000 luas arealnya 19.909 ha, pada tahun 2001 24.239 ha, tahun 2002 17.720 ha, tahun 2003 17.289 ha. Diperkirakan, pada tahun 2004 menjadi sekitar 13.500 ha.(nt-34i)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA