logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 April 2004 INTERNASIONAL
Line

Khaled Meshaal, Sasaran Berikut Israel

DAMASKUS - Hamas diam-diam dikabarkan telah mengangkat pengganti pemimpin kelompok itu di Jalur Gaza, Abdel Aziz al-Rantissi, yang tewas dirudal Israel. Sejauh ini nama pengganti Rantissi itu belum dipublikasikan.

Tetapi, ada seorang tokoh penting kelompok itu yang harus diperhitungkan oleh Israel. Khaled Meshaal namanya. Dia kini muncul sebagai sosok utama di kelompok militan Hamas.

Tinggal di Damaskus, ibu kota Suriah, kepala biro politik Hamas tersebut mengatakan, kelompoknya tidak akan menghentikan perjuangan bersenjata melawan Israel, sekalipun PM Ariel Sharon berupaya keras menghancurkan Hamas.

''Kami takkan berhenti. Kami sadar akan harga yang harus dibayar untuk mencapai kemerdekaan Palestina,'' katanya, Minggu, dalam sebuah pernyataan kepada televisi Al-Jazeera.

''Pilihlah pemimpin bagi gerakan Hamas di Gaza untuk menggantikan saudara kita tercinta, pejuang dan syuhada Abdel Aziz al-Rantissi, tetapi jangan ungkapkan namanya,'' tambahnya.

Dan sebagai indikasi pengaruhnya yang kuat, Hamas saat mengumumkan pengganti Rantissi pada Minggu lalu, tidak menyebutkan satu nama pun. Gideon Ezra, seorang menteri Israel, mengancam: ''Nasib Meshaal akan sama dengan Rantissi.''

''Bila ada peluang menyerang dia di Damaskus, kami akan melakukannya,'' kata Ezra, menteri urusan parlemen, ketika berbicara pada sidang mingguan Kabinat Israel.

Terobsesi Balas Dendam

Rantissi sendiri pernah mengatakan, tidak lama setelah pemimpin spiritual Hamas Syekh Ahmed Yassin tewas dirudal Israel: ''Saya pemimpin Hamas di Jalur Gaza. Tetapi, Khaled Meshaal adalah pemimpin tertinggi Hamas.''

Meshaal mengatakan, dia ingin melihat Hamas membalas dendam kematian Yassin dengan menghabisi PM Sharon. ''Biasa kan. Jawablah musuh dengan kejahatan yang sama seperti mereka lakukan,'' katanya.

Meshaal (48), yang lebih suka mengenakan pakaian model barat, adalah salah satu pendiri gerakan Hamas (bersama Yassin) pada 1987. Pada 1996, dia diangkat sebagai pemimpin biro politik gerakan tersebut.

Dia dilahirkan di sebuah desa tidak jauh dari kota Ramallah di Tepi Barat. Masa kecilnya dipenuhi oleh cerita tentang bagaimana ayahnya ambil bagian dalam perjuangan gagah berani menghadapi penjajah Inggris di tanah Palestina.

Setelah perang Arab-Israel 1967, saat mana Israel berhasil menguasai banyak wilayah Arab, termasuk Jalur Gaza, Sinai, Tepi Barat, dan Dataran Tinggi Golan, keluarganya pindah ke Kuwait.

Di sana, dia terlibat dalan aktivitas keagamaan dan meraih gelar sarjana fisika dari Universitas Kuwait pada 1978.

Kemudian dia pindah ke Yordania bersama tujuh anaknya - empat pria dan tiga wanita - pada 1990, saat Pemerintah Kuwait mengusiri semua pengungsi Palestina, sebagai balasan atas dukungan mereka terhadap pendudukan Irak atas Kuwait.

Palestina Segalanya

Seperti semua pemimpin Hamas, dia telah menjadi - dan tetap menjadi - incaran Israel. Pada 25 September 1997, para agen dinas rahasia Mossad Israel gagal menghabisinya.

Waktu itu, sejumlah agen Mossad menyuntikkan racun ke tubuh Messal yang sedang berjalan di sebuah jalan di kota Amman. Dia sempat koma. Untung, petugas keamanan Yordania berhasil menangkap para agen Mossad.

Raja Hussein (kini almarhum) mengancam mengadili agen-agen dinas rahasia Israel itu, kalau mereka tidak memberikan zat antiracun untuk menyelamatkan jiwa Meshaal.

Selain memenuhi tuntutan Raja Hussein, PM Israel (waktu itu) Benjamin Netanyahu terpaksa membebaskan pula Syekh Yassin yang mendekam di penjara Israel.

Meshaal khususnya dikenal akan kehebatannya berpidato dan logikanya yang kaku tentang cara mempertahankan perjuangan bangsa Palestina. ''Anda harus paham, pembebasan wilayah-wilayah kami dari pendudukan, hanya dapat dilakukan dengan satu cara,'' kata suatu ketika, dalam suatu wawancara.

''Kami tidak membedakan antara Palestina tahun 1948 dan Palestina tahun 1967. Palestina adalah segalanya bagi kami,'' tambahnya. Pada 1948, tanah Palestina oleh penjajah Inggris ''diberikan'' kepada kaum Zionis, yang kemudian mendirikan negara Israel.

Namun, lima tahun lalu para pejabat Yordania mengusir Meshaal dan empat pemimpin lain Hamas, karena mereka disangka melakukan aktivitas ilegal.

Meshaal sekarang kadang tinggal di Suriah, Lebanon, atau sejumlah negara Arab Teluk Persia. (afp-yahoo-ed-30)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA