logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 April 2004 EKONOMI
Line

Beteng Trade Centre

Pusat Perdagangan Mangga Dua ala Solo

KEGIATAN bisnis di Kota Solo bakal makin semarak. Satu per satu pusat perdagangan bermunculan setelah kerusuhan 1998 membuat porak-poranda. Waktu itu sejumlah pusat perdagangan ludes dibakar.

Kini gedung yang dibakar itu satu demi satu telah dibangun lagi. Grup Luwes yang ludes sekarang sudah kembali beroperasi. Matahari Singosaren juga buka lagi. Disusul kemudian oleh pendatang baru yang bermunculan.

Contohnya di Jalan Slamet Riyadi dibangun Mega Land. Lalu di perbatasan Solo-Kartasura didirikan Pusat Perbelanjaan Goro Assalam.

Saat ini yang tengah dalam proses pembangunan adalah Solo Grand Mall, juga di Jalan Slamet Riyadi yang kabarnya akan menjadi mal terbesar di Jateng. Mal itu diperkirakan pada akhir tahun ini mulai beroperasi.

Menyusul kini sebuah lagi pusat perdagangan akan dibangun, yakni Beteng Trade Centre, yang berlokasi di Pusat Perdagangan Beteng Plaza atau sering disebut Pasar Beteng.

Pusat bisnis yang berlokasi di jantung kota atau hanya beberapa puluh meter dari Pasar Klewer tersebut akan dibuat seperti model Pusat Perdagangan Mangga Dua Jakarta.

Bangunan yang akan lebih menyemarakkan kawasan Gladak itu tepatnya dibangun di lantai atas Beteng Plaza yang rusak berat saat terjadi amuk massa pada 1998. Bermiliar rupiah kerugian akibat peristiwa itu.

Meski gedungnya rusak parah, tak kurang dari 500 pedagang tekstil di lantai dasar tetap berjualan hingga saat ini di Beteng Plaza.

Sebagian besar pedagang menjual tekstil dengan cara ditimbang. Kain kiloan tersebut per potong berukuran antara dua, tiga, dan empat meter.

Barang itu dijual secara eceran atau partai. Selain produksi dalam negeri, banyak barang impor dari berbagai negara.

Bangunan yang tak bisa digunakan adalah lantai satu dan dua. Sebelumnya, dua lantai tersebut disewa oleh Matahari Department Store.

Sejak terjadi amuk massa, hingga sekarang bangunan bagian atas dibiarkan rusak. Tak jarang hal itu menimbulkan kejengkelan para pedagang yang berada di lantai dasar.

''Repot, bila hujan turun maka kami selalu kebocoran,'' tutur salah seorang pedagang tekstil di lantai dasar.

Tergerak

Kunto Harjono, Direktur Utama PT Pondok Solo Permai selaku pemilik pusat perdagangan itu mengungkapkan, pihaknya tergerak membangun lagi pusat perdagangan tersebut karena dorongan Pemkot Surakarta dan para pebisnis di kota itu.

''Pemkot sangat mendorong pembangunan pusat perdagangan itu,'' ujarnya.

Pusat perdagangan itu dahulu pernah akan diberi nama Pasar Klewer II, tetapi karena mendapat protes akhirnya tidak jadi.

''Apalah arti sebuah nama. Bila pebisnis dapat menjual barang dengan harga tidak lebih mahal dari Pasar Klewer dengan kualitas yang sama, maka bukan tidak mungkin sebagian pembeli di Pasar Klewer akan datang ke Beteng Trade Centre,'' kata Hartono, pemasok pakaian jadi dari Bandung yang rutin mengirim barang ke Pasar Klewer.

Kunto mengemukakan, pembangunan Beteng Trade Centre juga dimaksudkan untuk mengakomodasi keinginan para pebisnis junior yang bermodal tipis.

Mereka (para pebisnis junior-Red) tidak mungkin bisa membeli kios di Pasar Klewer yang harganya sangat mahal.

Seorang pedagang di Pasar Klewer mengaku harga sewa kios di lantai atas ukuran 2x3 m2 adalah Rp 20 juta - Rp 25 juta per tahun. Bukan main mahalnya!

Sama dengan Pusat Perdagangan Mangga Dua Jakarta, Beteng Trade Centre nanti juga dilengkapi AC. Untuk menuju ke lantai atas gedung dilengkapi empat tangga berjalan (eskalator).

''Saat ini perizinannya sedang diproses. Mungkin pertengahan tahun ini sudah bisa dilaksanakan pembangunannya,'' ungkap Kunto.

Dua lantai atas diperkirakan dapat menampung 1.000 pedagang. Dengan demikian, bangunan berlantai dua yang berdiri di atas areal sekitar 2,5 ha tersebut mampu menampung 1.500-an pedagang.(Subakti A Sidik-53j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA