logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 17 April 2004 Sala  
Line

FPIS Jenguk Keluarga Khomaedi

MOJOSONGO- Simpati kepada keluarga korban perampokan di Goro Assalaam (11/4) Ajun Brigadir Polisi (Abrip) Khomaedi terus berdatangan. Belasan anggota Front Pemuda Islam Surakarta (FPIS) mengunjungi keluarga almarhum di Jalan Malabar Selatan RT 3, RW 17, Mojosongo, Jebres, Solo, Kamis.

Sebelum menuju ke rumah keluarga almarhum, rombongan mengunjungi Mapolsekta Serengan, satuan terakhir tempat almarhum bertugas. Di rumah almarhum, rombongan ditemui istrinya, Ny Hartini, serta beberapa kerabatnya. Hadir pula Wakapolresta Surakarta Komisaris Polisi (Kompol) Kumpul BA dan anggota Polsek Jebres Bripka Sri Hardono.

"Kedatangan kami ini sebagai bentuk solidaritas dan simpati karena korban merupakan saudara kami sesama muslim. Dan, sudah menjadi kewajiban antarmuslim untuk saling memberikan motivasi saat membutuhkan. Akan tetapi jangan dilihat bentuk bantuan yang kami berikan, karena ini bukan yang utama dari kunjungan kami ini," ungkap ustad Kholid Hasan, ketua rombongan.

Wakapolresta Kompol Kumpul mewakil Kapolresta Surakarta menilai, almarhum merupakan salah satu putra terbaik yang dimiliki Solo.

Pihaknya berjanji akan berusaha mengusut perampokan yang menyebabkan kematian salah seorang anggota Polsekta Serengan tersebut.

"Almarhum adalah seorang anggota yang taat beribadah, bahkan sering dipercaya menjadi takmir di masjid setempat. Perlu juga diketahui, masih banyak oknum polisi yang juga menjadi takmir masjid di lingkungannya," kata Kumpul.

Meski demikian, dia menjelaskan, banyak permasalahan di Solo yang membutuhkan penyelesaian segera, antara lain kemerebakan penyakit masyarakat, seperti penyalahgunaan kafe serta prostitusi.

"Kami bersyukur bisa menemukan pelaku pemerkosaan yang terjadi baru-baru ini. Semoga saja kami bisa menyelesaikan juga kasus perampokan ini. Yang jelas, kami membutuhkan bantuan semua elemen masyarakat, karena itu menjadi permasalahan kita bersama. Namun perlu kami paparkan, operasi penyakit masyarakat bukan kemudian menjadikan permasalahan itu tuntas."

Harus Dibunuh

FPIS mendukung upaya jajaran Polresta Surakarta untuk mengungkap kasus perampokan tersebut. "Kami menuntut pelaku utama juga dibunuh. Sesuai dengan hukum Islam, siapa yang membunuh dengan sengaja, juga harus dibunuh," tandas Drs Warsito Adnan, anggota FPIS.

Hukuman yang ringan bagi pembunuh menyebabkan pelaku tidak jera. "Kalau tidak dibunuh, pelakunya akan ketagihan. Sementara itu, hukuman yang diberikan tidak sebanding dengan kejahatannya."

Selain FPIS, beberapa tokoh di Solo juga mengunjungi keluarga almarhum. Kemarin, hadir pemilik Goro Assalaam Hj Aminah Abdullah.

Sementara itu, anggota satpam Goro, Lutfi Hasibuan, belum bisa ditemui. Ayah korban, Burhanudin (66), melarang setiap wartawan untuk menemui anaknya. Alasannya, korban masih trauma dengan kejadian tersebut. "Maaf, bukan apa-apa. Semua ini saya lakukan semata agar anak saya segera sembuh. Dia kan tidak tahu apa- apa, hanya ikut menjadi korban."

Saat ditanya, apakah ada firasat sebelumnya, warga Kampung Mutihan, Kelurahan Sondakan, Laweyan itu mengaku sebelum kejadian merasa kelelahan. Yang aneh, dia tidak tahu mengapa sangat lelah dan selalu ingin marah. Semua baru jelas setelah dirinya diberitahu bahwa Lutfi ditembak perampok di tempat kerjanya. Dia mendapat kabar kejadian itu, Senin (12/4) sekitar pukul 21.00.

"Besan saya di Delanggu juga menerima firasat aneh. Pagi sebelum kejadian, dia memasak nasi kok mlenyek, padahal berasnya bagus."(G13,G10-17j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA