
| Sabtu, 17 April 2004 | Sala |
Biawak Mati Lebih Cepat LakuBIAWAK termasuk binatang langka dan sulit diperoleh di lingkungan kita. Populasinya menurun drastis karena hewan pemangsa tikus dan ular itu kerap diburu orang untuk diperdagangkan. Biawak atau slira hidup bebas dan masih banyak bisa ditemukan di kawasan sekitar hutan Ngawi (Jatim). Hewan gesit itu sulit ditangkap, kecuali dengan cara dijebak atau diracun. Juweni (42), warga Kedunggalar, Ngawi, satu dari sekian pedagang biawak, mengaku mendapat pasokan bahan dari para pemburu binatang slira di sekitar kawasan hutan Banjarrejo, Ngawi. Binatang hasil tangkapan itu biasanya diawetkan dengan air keras dan dipanjang sebagai hiasan dinding di ruang tamu. ''Harganya bervariasi, tergantung pada besar kecilnya. Namun rata-rata Rp 40.000 - Rp 100.000 per ekor,'' tuturnya. Juweni sudah lima tahun memperdagangkan biawak. Dagangan biawak ukuran sedang dengan panjang sekitar satu meter, banyak peminatnya. Sebab, binatang itu mirip komodo asal Nusa Tenggara Timur. Dia juga mengaku memperdagangkan binatang melata seperti ular atau ayam alas hasil tangkapan di hutan. Lebih Mahal Sebenarnya harga biawak hidup lebih mahal. Akan tetapi para pemburu kesulitan menangkap hewan itu dalam keadaan hidup. Penangkapan biasanya dilakukan dengan membuat jebakan serta meracuni makanan yang kemudian diumpankan. Lagi pula biawak mati lebih cepat dijual. ''Kalau menyimpan tangkapan hidup-hidup, pemburu kesulitan mencarikan pakan,'' tutur Sumardi (40), pedagang yang biasa menerima hasil buruan. Buruan lain seperti ayam alas atau biawak banyak diperdagangkan di pasar burung Monumen Suryo, Ngawi. Di seputar hutan Banjarrejo, Ngawi, pemburu selain mencari biawak dan hewan melata, juga memburu elang Jawa, burung hantu, dan ayam hutan. Hasil tangkapan itu ditawarkan ke pengendara mobil yang lewat di tepi jalan raya Mantingan-Ngawi sambil diacung-acungkan. Pengendara mobil yang tertarik biasanya berhenti di tepi jalan dan terlibat tawar-menawar. Tidak jarang banyak pembeli terkecoh. Sebab, dagangan burung atau ayam alas yang dibeli berasal dari pasar burung Depok, Gilingan, Solo dan bukan hasil tangkapan dari hutan. (Anindito AN-49j) |