
| Sabtu, 17 April 2004 | Sala |
Langsung Pusing bila Ingat PerampokanKASUS perampokan Bank Bukopin Kas Goro Assalam, Senin (13/4), masih menyisakan trauma bagi Ahmad Fathoni (37). Anggota satpam Bukopin tersebut hingga kini masih berada di rumah untuk penyembuhan luka di pelipis kanannya. ''Hingga kini kepala saya masih terasa senut-senut. Beruntung semua biaya ditanggung kantor,'' ujarnya saat ditemui di rumahnya, Perum Jetis Permai Gang Mangga 19, Gentan, Baki. Bukan hanya itu, dirinya juga masih trauma bila teringat kejadian tersebut. Setiap mendengar suara benda jatuh atau suara keras, dia mengaku selalu kaget. ''Jika mendengar suara benda jatuh, saya masih kaget. Selain itu kepala saya juga pusing, karena langsung teringat peristiwa perampokan tersebut. Terus terang, baru kali ini saya mengalami perampokan selama 11 tahun bertugas sebagai anggota satpam di Bukopin.'' Menurut penuturan suami Endang Trikaswati tersebut, tugas mengawal kotak uang sudah rutin menjadi pekerjaannya. Setiap kantor kas Bukopin Goro tutup, kotak uang dikirimkan ke Kantor Cabang Bukopin Solo. Yang mengawal hanya dirinya selaku anggota satpam Bukopin Goro dan seorang polisi. Namun untuk pengamanan di lingkungan Goro, dibantu dua anggota satpam setempat. ''Biasanya memang begitu, ada dua anggota satpam Goro yang membantu mengawal. Namun itu hanya dilakukan di lingkungan Goro. Demikian juga sore saat kejadian, hanya saya dan almarhum Abrip Khomaedi yang bertugas mengawal.'' Firasat Dia menjelaskan, saat kejadian dia berada di sisi timur troli untuk membawa kotak uang. Adapun di samping troli, ada dua anggota satpam Goro yang membantu, Lutfi Hasibuan dan Agus Wahyudi. Sementara itu, posisi Abrip Khomaedi berada di sisi selatan troli. Mereka menunggu sopir Anwar Abdulah yang mengambil mobil di tempat parkir. ''Saat itulah mendadak terdengar dua bunyi tembakan. Namun, saya tidak sempat mengenali wajah pelaku karena pingsan setelah terserempet peluru di pelipis kanan.'' Bapak dari dua anak tersebut mengaku tidak ada firasat apa pun sebelum kejadian. Demikian pula anggota keluarganya, tidak mendapat firasat apa-apa. ''Tak ada mimpi atau firasat apa pun. Namun sebelum berangkat, mendadak saya merasa tidak enak badan. Meskipun demikian, tetap saya paksakan berangkat kerja.'' Sementara itu Lutfi Hasibuan belum bisa ditemui. Ayah korban, Burhanudin (66), melarang setiap wartawan untuk menemui anaknya tersebut. Alasannya, korban masih trauma dengan kejadian tersebut.(Joko Murdowo-49j) |