logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 17 April 2004 Sala  
Line

Hadrah Agung Mloyokusuman Meriahkan Pembukaan Sekaten

KERATON SURAKARTA- Keramaian pasar perayaan Sekaten 2004, kemarin petang dibuka resmi Wakil Pengageng Parentah Keraton, GPH Puger. Grup musik tradisional bernapaskan Islam, hadrah Agung Mloyokusuman, menjadi satu-satunya hiburan dan simbol syiar agama yang dikemas dalam pasar rakyat untuk menyambut kelahiran Maulud Nabi Muhammad SAW itu.

"Betul, jadi memang perlu buku putih untuk pedoman masyarakat luas tentang makna Sekaten. Kami sudah menyadur beberapa referensi dokumentasi sejarah di Keraton untuk mencari pedoman tentang makna itu," ungkap putra dalem yang akrab disapa Gusti Puger itu saat memberi sambutan mewakili Pengageng Parentah Keraton GPH Dipokusumo pada pembukaan Sekaten 2004 di Sitinggil Lor, kemarin petang.

Penjelasannya mengenai latar belakang singkat kelahiran ritual Sekaten untuk menanggapi pernyataan KRT Pujosentiko ketika memberi sambutan mewakili Kepala Depag Solo. Pengurus Masjid Agung Keraton Surakarta itu menjelaskan, ritual Sekaten memang tidak bisa dipisahkan antara budaya (Jawa) dan syiar agama Sunan Kalijaga dan para wali lain.

Buku Putih

Namun, katanya, kini dan ke depan panitia Sekaten perlu menerbitkan buku putih tentang makna dan hal-hal lain berkaitan antara budaya dan syiar agama. "Sebab, ada yang bilang Sekaten itu syahadatain. Akan tetapi ada juga yang menyatakan Sekaten itu juga berarti sekati. Mana yang benar, kami agak bingung ketika ditanya masyarakat. Ini perlu segera dijelaskan, misalnya dengan penerbitan buku putih tentang Sekaten," paparnya.

Dalam kesempatan itu, Ketua Panitia KP Satryo Hadinagoro melaporkan, dalam Sekaten 2004 yang berlangsung pada 16 April - 9 Mei, selain stan dagang dan hiburan, panitia juga menyelenggarkaan festival hadrah, pameran museum, dan berbagai lomba bernapaskan agama. Selain itu, jelas dia, kali ini di Pendapa Pagelaran selain ada stan koleksi sejumlah museum juga ada stan para pedagang kaki lima (PKL) yang dahulu lebih dari 150 orang kini tinggal 70-an.

Jumlah PKL yang tetap bertahan itu terdiri atas pengrajin berbagai jenis komoditas yang umumnya berbasis seni. Ada lebih dari 60 PKL yang sudah lama meninggalkan arena Sekaten, karena sukses menjadi pedagang besar dan kini menyewa toko di Beteng Plasa, Matahari Departemen Store, dan Solo Grand Mall yang tak lama lagi dibuka di Kota Bengawan.(won-17j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA