
| Sabtu, 17 April 2004 | Olahraga |
Valentino Rossi Hadapi Rintangan BeratJOHANNESBURG- Lomba balap motor paling bergengsi, MotoGP, akan start di Sirkuit Phakisa Freeway, Afrika Selatan, Minggu (18/4) besok. Sebanyak 22 pembalap bakal berlaga di sirkuit tersebut. Ironisnya, di tengah optimisme tinggi para pembalap, kekhawatiran justru meliputi para konstruktor. Pasalnya, kegagalan tes resmi di Sirkuit Jerez, dua pekan lalu akibat hujan deras membuat mereka maju ke lomba dengan sejumlah teka-teki tentang perfoma motor yang bakal digeber. Tak cuma model ''Desmosedici'' milik Ducati yang tak bisa tes maksimal, Yamaha YZR-M1 yang bakal ditongkrongi oleh Valentino Rossi pun mengalami masalah serupa. Begitu pula Honda RC211V yang musim lalu dipegang Rossi dan musim ini bakal dikendarai enam pembalap lain, yakni Alex Barros, Nicky Hayden, Max Biaggi, Makoto Tamada, Sete Gibernau, dan Colin Edwards. Sebuah pertanyaan kini mengemuka: bisakah Rossi juara bersama Yamaha, atau adakah pembalap lain yang mampu menahan laju The Doctor itu? Kepindahan Rossi ke Yamaha memang membuat peta persaingan semakin terbuka. Maklum, sejak tampil bersama Honda tahun 2000 silam, Rossi selalu tampil perkasa. Sedangkan dengan Yamaha yang tak lagi pernah melahirkan seorang juara sejak 1992, belum ada jaminan. Apalagi penampilan maksimal Rossi tiga musim terakhir diyakini berkat kehebatan mesin Honda RC211V. Musim lalu, Rossi nyaris tak tertandingi. Superioritasnya setara dengan penampilan Michael Schumacher di Grand Prix Formula Satu (F1) yang juara dunia enam kali. Rossi begitu dominan tampil bersama Repsol Honda. Dari 16 seri, sembilan di antaranya direbut oleh pria kelahiran Urbino, Italia itu. Titel juara dunia MotoGP pun digenggamnya untuk ketiga kali beruntun. Tetapi musim ini, The Doctor -julukan Rossi- memilih hengkang ke Yamaha. Tentu saja di klub itu dia tak hanya mempertaruhkan gelar juara yang digenggamnya, namun juga mempertaruhkan reputasi di dunia balap. Hanya, Rossi toh tetap pasang target juara, sekalipun motor yang bakal digebernya belum terlalu akrab dengan dirinya. "Ini hanya perbedaan soal motor, selain itu semua sama. Trek dan mereka (pembalap lain) masih sama dengan ketika saya bersama Honda. Saya tahu Yamaha YZR-M1 berbeda dengan Honda RC211V, tapi itu tak akan menghalangi saya untuk juara," ujar Rossi. Tentu saja Rossi tak sekadar omong. Dia telah membuktikannya di Sirkuit Catalunya dalam sesi tes resmi pra-musim. Rossi yang tercepat. Sete Gibernau Ketika masih bersama Repsol Honda musim lalu, Rossi mendapat tekanan ketat Sete Gibernau dari tim Televonica Movistar Honda. Gibernau mampu mengejutkan lawan-lawannya dengan menjuarai empat seri dan runner-up di lima seri lainnya. Salah satu sukses spektakuler Gibernau adalah ketika dia menyalip Rossi di lap terakhir GP Jerman, di mana dia akhirnya finis 0,006 detik di depan Rossi. Tahun ini, Gibernau akan mengendarai motor Honda RC211V terbaru yang khusus dirancang oleh perusahaan untuknya. Karena itu, dipastikan pembalap ini akan menyulitkan Rossi, bahkan bukan tak mungkin mengambil alih posisi juara. Selain Gibernau, Max Biaggi juga akan menjadi rintangan Rossi dalam upaya mempertahankan gelar. Mantan pembalap terbaik di GP 250cc ini memang ''tenggelam'' sejak hijrah ke 500cc (sekarang MotoGP). Empat musim ''mendampingi'' Rossi di kelas tertinggi balap motor itu, prestasi terbaik Biaggi cuma runner up, yaitu saat memulai debut tahun 1998 lalu. Motor yang kurang bersaing tampaknya menjadi alasan kenapa ia selalu gagal menggapai tangga juara. Kini, dengan Honda RC-211V terbaru, Biaggi diyakini bakal menonjol. Satu pembalap lagi yang tak bisa dianggap remeh adalah Loris Capirossi. Meski cuma naik ''Desmosedici'' Ducati, Capirossi sudah membuktikan kehebatannya. Musim lalu, pembalap Italia itu mampu bertengger di urutan empat klasemen akhir. Dia menjadi satu-satunya pembalap non-Honda yang masuk lima besar, dan menggagalkan dominasi Honda dengan memenangkan satu seri, Catalunya. (ant,rtr,F3-77) |