logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 17 April 2004 Semarang & Sekitarnya  
Line

Median Jalan Kaligawe Kurangi Kesemrawutan

  • Tujuh Titik Rawan Macet

BALAI KOTA- Upaya mengurangi kesemrawutan lalu lintas di Jalan Raya Kaligawe bisa dilakukan dengan membuat median jalan di sepanjang jalur tersebut.

"Jumlah lubang untuk belokan pada median itu juga harus dibatasi," kata Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang H Andi Agus Wandono SH, Jumat (16/4).

Dia menjelaskan, median jalan itu dibuat lurus membelah jalan, sehingga bisa mengurangi kendaraan yang menyeberang. "Kendaraan tetap bisa berbalik arah atau menyeberang, namun jumlah lubang untuk belokan itu dibatasi".

Paling sedikit terdapat tujuh titik yang rawan kemacetan lalu lintas di sepanjang jalur tersebut. Titik-titik itu antara lain di pertigaan Jalan Kaligawe - Jalan Wolter Mongisidi (Pasar Genuk). Kemacetan di lokasi itu muncul saat kendaraan dari Jalan Wolter Monginsidi (dari arah Pedurungan) melintasi Jalan Raya Kaligawe menuju ke arah timur (Demak) atau kendaraan dari arah barat Jalan Raya Kaligawe masuk ke Jalan Wolter Monginsidi.

Pada saat hal itu terjadi, kendaraan dari arah barat dan timur harus berhenti. Pada saat lalu lintas padat, hal itu akan segera menyebabkan antrean panjang.

Penyeberang Jalan

Hal serupa juga terjadi di depan pangkalan truk Genuk, Kawasan Industri Terboyo Megah, dan pertigaan jalan masuk ke perumahan Genuk Indah. Titik kesemrawutan lainnya terdapat di pertigaan Terminal Terboyo. Pertigaan itu selalu menjadi terminal tiban. Kadang-kadang bus mangkal di jalan tersebut dua sampai tiga lapis, sehingga mengakibatkan arus lalu lintas dari arah barat terganggu.

Selain itu, jalur di depan kampus Universitas Sultan Agung juga rawan macet. Pada saat bubaran kuliah, penyeberang jalan itu cukup banyak.

Kesemerawutan juga sering terjadi di pertigaan jalan akses ke Lingkungan Industri Kecil (LIK) Bugangan Baru yang berada di sebelah selatan Jalan Raya Kaligawe. Saat pekerja masuk dan pulang kerja, mereka bersama-sama menyeberang jalan menggunakan sepeda, motor ataupun jalan kaki. Saat itu kendaraan dari arah barat dan dari timur harus berhenti untuk memberikan kesempatan mereka menyeberang jalan.

"Kesemrawutan Jalan Kaligawe memang masih akibat ketidakseimbangan jumlah kendaraan dan kapasitas kendaraan," lanjut Andi.

Dinas Perhubungan sudah memasang rambu yang melarang trailer lewat Jalan Raya Kaligawe pada pukul 06.00-08.30. Namun, ternyata setelah batas waktu itu pun Jalan Raya Kaligawe tetap macet. Hal ini merupakan indikasi bahwa jalur itu memang sudah cukup padat.

Berdasarkan perhitungan Dinas Perhubungan, idealnya rasio kepadatan hanya sekitar 0,7. Namun di Jalan Raya Kaligawe indeks rasio kemacetan sudah hampir mencapai 1.

Karena itu, upaya pelebaran jalan yang saat ini dilakukan Kimpraswil bersama Dinas Bina Marga Jateng diharapkan segera direalisasikan. Sebab, hal itu dapat mengurangi kesemrawutan. Namun, cepat atau lambat jalan arteri dari Pelabuhan Tanjung Emas ke Demak yang telah tercantum dalam Rencana Detail Tata Ruang Kota tetap perlu dibangun. Selain itu, pengemudi juga bisa menggunakan jalur alternatif melalui Jalan Wolter Monginsidi ke Jalan Soekarno Hatta atau ke Pedurungan.

"Jalan Kaligawe yang merupakan jalur arteri, memerlukan jalan kolektor. Jalan tersebut dapat mengurangi jumlah akses ke Kaligawe," jelas dia. (G6-63k)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA