
| Sabtu, 17 April 2004 | Jawa Tengah - Muria |
Perceraian Tinggi Jatuhkan Martabat PerempuanREMBANG -Sekarang kerap terjadi pemerkosaan, tindak kekerasan, dan penyiksaan fisik terhadap perempuan. Perempuan pun tidak mendapat perlindungan hukum memadai. Hal itu diungkapkan Dra VG Tinuk Istiarti MKes dari Pusat Studi Wanita/Gender Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, ketika berceramah di pendapa Kabupaten Rembang, kemarin. Ketua panitia penyelenggara Susilo Retnowati SSos menyatakan ceramah itu merupakan rangkaian kegiatan peringatan ke-125 Hari Kartini. Pada hari dan tempat yang sama juga diadakan ceramah mengenai penyakit demam berdarah (DB). Tinuk mengemukakan sindikat penipuan dan perdagangan perempuan, termasuk eksploitasi tubuh dan pelecehan seksual atau pornografi yang dilakukan dengan alasan seni dan pariwisata, masih sering terjadi. Sayang, masih banyak undang-undang yang diskriminatif terhadap perempuan, terutama di lingkungan tempat kerja dan skala pengajian. Permasalahan seperti itulah yang sekarang dihadapi kaum perempuan. Dia menyatakan budaya kawin muda yang diikuti tingkat perceraian tinggi dapat merendahkan martabat perempuan. Sebenarnya masih banyak hal merugikan kaum perempuan. Misalnya, diskriminasi dalam pendidikan, pelatihan, dan kerja. Juga pemaksaan penggunaan kontrasepsi atau ketiadaan jaminan bila terjadi komplikasi atau kegagalan dalam penggunaan alat kontrasepsi. Dia menggambarkan kondisi perempuan saat ini. Perempuan yang menghasilkan anak berkualitas rendah masih cukup banyak, sekitar 40%. Rumah tangga miskin dikepalai perempuan 25%, perempuan buta huruf 12%, ibu hamil kurang gizi 30%, ibu hamil amenia 51%, dan ibu hamil berisiko tinggi 11%. Karena itulah perlu peningkatan kualitas hidup perempuan. Untuk keperluan itu butuh misi dan program pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. (jl-85g) |