
| Selasa, 13 April 2004 | Surat Pembaca |
Petugas Peron di Tawang, Sopanlah Beberapa waktu lalu saat keberangkatan KA Senja Utama jurusan Semarang- Jakarta, saya melihat seorang petugas stasiun Tawang mendorong seorang wanita calion penumpang hingga hampir jatuh. Sebagai sesama calon penumpang saya terkesima melihat adegan yang kurang sopan dan tidak simpati tersebut. Saya usul kepada pihak manajemen PT KA untuk membenahi sikap dan perilaku petugas pelayanan umum yang berhadapan langsung dengan publik, agar ramah dan simpatik. Wajah-wajah angker tidak selayaknya ditempatkan atau diberi job yang menyangkut hubungan langsung dengan konsumen. Kalau PT KA ingin tidak repot menanggulangi lolosnya penumpang tanpa tiket, ya jual tiket sesuai tempat duduk baik KA Eksekutif maupun Bisnis. Penertiban harus adil untuk semua penumpang, pemeriksaan tiket di atas KA jangan mengganggu dan merugikan penumpang yang sudah patuh membeli tiket dengan pemberangkatan KA menjadi terlambat. Kerugian PT KA harus dikoreksi ke dalam bukan lalu yang dikejar-kejar penumpang. Kalau kereta api di Indonesia tidak monopoli, seperti halnya angkutan udara sekarang saya yakin PT KA sudah tidak mampu bersaing. Sering terjadinya kasus kereta mogok akibat kerusakan lokomotif di tengah jalan yang baru menempuh jarak belum sampai Pekalongan. Atau pernah kereta kelas eksekutif (Kamandanu) jalan tidak secepat kereta eksekutif lainnya, ternyata ditarik dengan loko BB warna jingga. Akhirnya masuk Jakarta tidak ontime.
Teguh Kasnoputro SH
*** Retribusi Parkir
Untuk memenuhi target retribusi parkir kiranya sangat mudah asal dengan sungguh-sungguh mengolahnya. Ka Dinas Perhubungan Andi Agus Handono SH sangat optimistis dapat memenuhi target Rp 12 miliar di Semarang. Saya punya gambaran untuk meningkatkan pendapatan perparkiran, karcis dibuat 3 sobekan. Bagian ujung disobek ditaruh pada kendaraan yang parkir. bagian tengah untuk pemilik sekaligus bukti pengambilan dan bagian bonggol disetorkan ke petugas Pemda/pengurus retribusi. Dengan sistem 3 sobekan tersebut semua diuntungkan. Pengguna parkir agak merasa aman karena memegang karcis yang nomornya harus sama, yang ditaruh di kendaraan, yang dibawa pemilik dan yang di bonggol. Petugas parkir harus mencatat identitas. Keuntungan Pemda, tidak mudah dikorupsi karena ada sisa sobekan bonggol. Namun ini juga tergantung mental petugas Pemda. Keuntungan petugas parkir sudah jelas karena sudah ada persentasenya. Iming Munaryo
*** Gedung DPRD Apa Pasar Johar?
Pak Tugiran Kusumo SH yang Ketua Komisi A DPRD Kota Semarang mengungkapkan perasaan jengkelnya dengan mengatakan tidak suka jadi Panmus. Alasannya panitia yang biasanya berjumlah 20 orang, kenyataannya yang bekerja keras cuma 4-5 orang, yang lain hanya matangnya saja. Inilah pernyataan jujur dan tulus seorang dari Wakil Rakyat. Dengan pernyataan itu maka terjawab sudah teka-teki yang selama ini mengganjal di hati masyarakat tentang apa sebenarnya yang dikerjakan para anggota Dewan di dalam gedung DPRD. Ternyata mereka hanya datang dan tanda tangan kemudian pulang bawa uang (honor pansus, gaji ). Kalau hal seperti ini tidak segera disikapi, maka gedung DPRD mirip dengan Pasar Johar yang setiap hari banyak preman datang lalu ngampresen bakul lombok dan brambang dan kemudian pergi entah ke mana. Sebaiknya Pak Tugiran dan teman-temannya yang masih punya rasa sayang terhadap rakyat, tolong dibuat daftar orang yang senang jadi pansus tapi tidak datang jika ada rapat, terus dimuat di koran. Dengan pernyataan tersebut menunjukkan anggota Dewan hasil Pemilu 1999 tidak berkualitas karena yang bekerja hanya 20% saja. Akibatnya tidak dapat membawa perbaikan signifikan yang dapat dirasakan masyarakat. Saya kira tidak perlu LSM membuat daftar politikus busuk dan sebagainya. Pimpinan DPRD harus berani membuat daftar orang-orang tercela. Tetapi apakah pimpinan berani membaut daftar itu, kita tunggu saja, sebab jangan-jangan...? Maaf lho Pak, sebab ini juga salah satu pertanggungjawaban Anda kepada konstituen dan rakyat Kota Semarang pada umumnya. Daryoso
*** Lippo Bangkong
Tanggal 2 April lalu saya akan mengambil uang cash di Lippo bank cabang Bangkong Semarang. Setelah menunggu beberapa lama (sekitar pukul 11.30) petugas bank memanggil nama saya dan mengatakan: ''Tidak ada dana''. Tanpa ba-bi-bu saya langsung cabut karena mangkel . Uang yang sangat saya butuhkan tidak bisa cair. Ternyata Lippo yang demikian besar tidak mampu mengembalikan uang saya yang hanya Rp 21 juta. Soelistyo Noegroho
*** Tokoh Spiritual Meninggal Sungguh saya merasa kehilangan atas dipanggilnya oleh Allah Swt pada hari Jumat tanggal 2 April 2004 pukul 14.50 WIB seorang tokoh besar dan ahli yang tergolong langka di bidangnya yaitu Bp Hudoyo Muhammad Jamil atau Bp KRHT Hudoyodipuro Occ Prpsi atau lebih dikenal dengan nama Ki Hudoyo saja. Semoga arwahnya diterima Allah Swt dan mendapatkan tempat yang paling baik di sisi-Nya sesuai dengan amal ibadahnya. Semoga seluruh keluarga besar yang ditinggalkan diberi kesabaran dan ketabahan serta mengikhlaskan kepergiannya. Setiap Minggu analisisnya rubrik Horoskop Jawa di Suara Merdeka selalu saya nantikan. Sebelum membaca rubrik lain, yang kali pertama saya baca rubrik almarhum. Saya juga membaca rubrik sejenis di media lain tetapi yang sering (pas) mendekati kenyataan dan cocok adalah analisis Ki Hudoyo. Rasa kehilangan saya bertambah karena beberapa waktu yang lalu saya mengajukan beberapa pertanyaan berkaitan dengan pribadi saya yang belum dijawab almarhum. Karena itu saya berharap Suara Merdeka tetap menerbitkan rubrik Horoskop Jawa dengan mencari pengasuh pengganti. Nurcahyo W SH
*** Terima Kasih kepada Bapak Penolong
Saya sekeluarga mengucapkan terima kasih atas pertolongan Bapak/Mas yang pada tanggal 29 Maret 2004 menolong korban kecelakaan di daerah Ungaran tepatnya di depan kantor Pengadilan Negeri. Budi baik dan perhatian Bapak kepada kami selalu terekam dalam hati. Semoga mendapat balasan sesuai dengan budi baik bapak dari Tuhan YME.
Ny Prapti Rosydah |