
| Selasa, 13 April 2004 | Sala |
Daging Tupai dan Kambing Pelengkap Sesaji
BERSIH desa di Desa Penggung, Kecamatan Boyolali yang berlangsung Senin kemarin dan Selasa besok merupakan agenda rutin setiap tahun. Yang menarik di dalam prosesi tersebut, yakni pemotongan tupai sebagai persembahan untuk pepunden Desa Penggung. Pemotongan tumpeng merupakan sesaji yang dikirim Senin dini hari. Salah seorang tokoh masyarakat Desa Penggung, Mitro Suwarno kemarin mengatakan, pengiriman sesaji merupakan acara puncak yang ''wajib'' dilaksanakan setiap tahun. Selain tupai ada juga beberapa hewan yang dikirimkan kepada pepunden Desa Penggung. Di antaranya, kambing yang dipanggang atau dibakar. Sesaji hewan itu masih ditambah beras, cengkih, bawang putih, krecek mentah, kacang hijau mentah, dan jamu. Selain itu dilengkapi pula dengan ratusan macam sesaji. Berbagai jenis sesaji itu ditempatkan pada tempayan atau ram-raman (anyam-anyaman-Red) dari bambu. ''Sebelum dikirimkan ke pepunden, sesaji itu dijaga puluhan warga semalam suntuk dan pagi harinya dipersembahkan ke pepunden Desa Penggung,'' kata Mitro Suwarno. Diberi Anugerah Menurut dia, pemotongan tupai merupakan keharusan dan ''permintaan'' dari pepunden. Setiap berlangsung kegiatan bersih desa masyarakat tidak berani menghilangkan tupai. Warga khawatir jika tupai tidak dihidangkan mereka akan menemui malapetaka. ''Karena itu meski hanya seekor, daging tupai selalu dijadikan sebagai alat sesaji,'' katanya. Bersih desa merupakan wujud syukur atas segala anugerah yang diberikan oleh Tuhan. Anugerah itu antara lain hasil usaha pertanian, peternakan, kesehatan, keamanan, dan ketenteraman warga. Dengan bersih desa nilai budaya seni karawitan wayang kulit yang akan dipertahankan sebagai corong pembangunan spiritual dan pembangunan materiil. ''Karena itu saya mendukung bersih desa sepanjang tidak menjurus musyrik atau menyekutukan Tuhan,'' kata Camat Boyolali, Dra Rita Puspita Sari. Bersih desa itu diselenggarakan setiap tahun dan berlangsung sudah puluhan tahun. Masyarakat tidak ada yang berani meningggalkan bersih desa yang diselenggarakan setelah panen padi atau tanaman lainnya. Tahun ini semestinya dilangsungkan pada Maret. Karena bersamaan dengan kampanye pemilu, pelaksanaannya pun diundur. Ketua Panitia Bersih Desa, Agus Wiyono SPd mengatakan, kegiatan ini tidak menjurus musyrik. Karena itu bersih desa itu perlu dipertahankan dan dilestarikan sebagai sebuah kegiatan budaya. Sejak puluhan tahun kegiatan ini dibiayai secara swadaya oleh masyarakat. Penyelenggaraan tahun ini cukup besar karena mendapat perhatian dari bupati. (Suti Harjoyo-14i) |