
| Selasa, 13 April 2004 | Sala |
Sekitar 20 Persen Suara untuk DPD HilangKOTA - Data pemilih calon anggota DPD di Kota Solo, ternyata lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang memilih partai. Hingga pukul 16.00 kemarin, perolehan suara sementara untuk DPD hanya 133.919, sedangkan jumlah pemilih parpol tercatat 151.147 suara. Ada sekitar 17.000 lebih suara yang hilang. Dari data KPU tersebut, 20-30 suara di setiap TPS terbuang sia-sia alias tidak memiliki pilihan untuk calon anggota DPD. Tentu ini memunculkan pertanyaan terkait dengan sosialisasi yang dilakukan pemerintah dan KPU tentang keberadaan DPD. Anggota KPU Surakarta, Drs Wiranto MCom mengatakan, bisa jadi persoalan sosialisasi memang kurang. Namun bisa juga karena masyarakat merasa tidak mempunyai pilihan dengan DPD sehingga tidak mencoblos surat suara DPD. "Ya bisa jadi ini terkait dengan sosialisasi yang kurang. Selama ini pemilu identik dengan parpol sehingga ketika ada DPD, masyarakat banyak yang bertanya. Ini memang tugas semua pihak, termasuk calon anggota DPD yang harus berusaha keras. Namun kenyataannya, masyarakat masih belum banyak mengerti," kata dia. Namun, banyak calon anggota DPD bernomor sama dengan parpol besar yang memperoleh pulung. Mereka mendapatkan jumlah suara cukup besar karena pemilih mengidentikkan mereka dengan parpol. "Ini memang barang baru sehingga wajar kalau masih banyak pemilih yang bingung membedakan antara parpol dan DPD. Jadi ada pemilih yang merasa calon anggota DPD itu sama dengan caleg parpol. Ada lagi yang merasa foto calon anggota DPD itu nanti mewakili daerah dan kotanya, sehingga yang dipilih pun akhirnya wajah yang sudah dikenalnya atau berasal dari kota yang sama," lanjut dia. Kurang Familier Sementara itu Dosen FISIP UNS Drs Suharsono SU mengemukakan, apresiasi masyarakat terhadap pemilu masih pada pemilihan parpol, bukan pemilihan orang. Karena itu pemilihan DPD yang mencoblos gambar orang menjadi kurang familier. "Secara konsepsual, masyarakat banyak yang belum memahami arti DPD. Apalagi, dalam operasional ketika pencoblosan. Ini merupakan salah satu faktor di antara sekian banyak faktor yang menyebabkan hilangnya suara DPD," katanya. Dia menyatakan, dalam Pemilu 2004 masyarakat memilih parpol disertai dengan nama orang. Selain itu ada lagi memilih orang untuk DPD. Ini yang menyebabkan masyarakat yang tak paham kebingungan. Apalagi, sosialisasi untuk Pemilu 2004 masih kurang. "Dalam pemilihan parpol, masyarakat sudah benar. Tetapi untuk pencoblosan nama caleg, masyarakat terkesan kurang konsisten. Begitu pula DPD. Ini menunjukkan pemahaman politik masyarakat yang masih kurang," katanya. Karena itu, lanjut dia, calon anggota DPD yang nanti terpilih harus lebih aktif menampung aspirasi masyarakat. Selain itu calon anggota DPD terpilih juga harus memberikan pemahaman yang benar tentang DPD.(an,F11-86i) |