
| Selasa, 13 April 2004 | Olahraga |
Komisi Disiplin PSSI Usut Kasus CharlesJAKARTA- Komisis Disiplin (Komdis) PSSI telah mengagendakan sidang soal kasus pemukulan terhadap pemain Persela Lamongan Charles Putiray oleh Ritham Madubun (Persija), yang terjadi pada pertandingan Divisi Utama Liga Indonesia Bank Mandiri X, Minggu (11/4) di Stadion Lebak Bulus, Jakarta. Dalam kasus tersebut, Komdis untuk sementara ini hanya mendasarkan pada laporan dari pengawas pertandingan (PP) M Soleh, bukan karena protes dari Persela. ''Komisi disiplin belum menerima surat protes dari Persela. Kalau memang mereka mau mengajukan protes, silakan secepatnya. Itu bisa melengkapi bahan yang kita dapat dari laporan PP,'' kata Ketua Komdis PSSI Togar Manahan Nero Simanjuntak, Senin (12/4) di Senayan. Kasus pemukulan terhadap Charles Putiray oleh Ritham Madubun ini merupakan sidang pertama Komdis PSSI, setelah kompetisi Divisi Utama dan Divisi I digelar lagi mulai Minggu lalu. Menurut rencana, sidang dilangsungkan Jumat atau Senin pekan depan. ''Kita akan lihat dulu waktu yang cocok. Soalnya, sampai akhir pekan ini masih banyak pertandingan yang panas,'' jelas Togar, seraya menyebut partai Persija versus Persebaya pada Kamis (15/4) lusa di Lebak Bulus yang rentan kerusuhan. Menurut Togar, selain mengagendakan kasus Charles Putiray, Komdis juga akan menyidangkan kekisruhan lanjutan pertandingan Divisi I, masing-masing di Yogyakarta dan Minahasa. Di Yogya, pertandingan antara tuan rumah PSIM lawan Persema Malang dihentikan pada menit ke-68 karena Persema merasa terancam dengan teror yang dilakukan suporter tuan rumah. Persema menuntut agar panitia menambah jumlah personil keamanan untuk mengawasi penonton dan melakukan penjagaan ketat di seputar lapangan pertandingan. Sementara di Minahasa, dari laporan PP ada pemain yang diturunkan padahal namanya tidak terdaftar dalam daftar susunan pemain. Tidak Rinci Mengenai kasus pemukulan yang dilakukan terhadap pemain Persela Charles Putiray, Togar Manahan menyatakan, laporan dari PP tidak secara rinci menyebut adanya pemukulan tersebut. ''Dari laporan yang saya baca hanya disebutkan, ada pemain Persela yang kesakitan dan wajahnya terlihat membiru. Jadi, tidak detil dikatakan bahwa dia dipukul oleh pemain lawan,'' kata Togar. Dari sejumlah saksi mata yang mengetahui persis kejadian itu, pelipis kiri Charles terkena pukulan back-hand yang dilayangkan oleh Ritham Madubun. Peristiwa tersebut terjadi saat pertandingan dihentikan setelah didahului adanya pelanggaran oleh Bambang Sumantri dari Persela terhadap Emmanuel De Porras dari Persija Pusat, pada menit ke-21. Pelanggaran oleh Bambang Sumantri terhadap De Porras itu sempat memicu kemarahan suporter Persija Pusat, yang kemudian melakukan berbagai pelemparan ke lapangan. Sejumlah suporter Persija Pusat yang berada di tribune barat juga sempat mendatangi kubu suporter Persela, meski tak terjadi tawuran massal. Suporter Persija juga terus melakukan intimidasi terhadap para pemain Persela yang berada di tengah lapangan dan terus memprotes wasit Julius Dede (Padang) atas tindakan pemukulan yang dilakukan oleh Ritham Madubun. ''Laporan dari PP memang menyebutkan adanya pelemparan-pelemparan ke lapangan pertandingan, termasuk pelemparan bangku, tetapi itu justru dilakukan oleh orang Persela,'' kata Togar. Pertandingan itu sendiri akhirnya berakhir ''aman'' dengan kemenangan 3-1 untuk Persija Pusat, sehingga kerusuhan yang lebih besar tidak terjadi. Mungkin akan berbeda seandainya pertandingan itu dimenangkan oleh Persela. (wgm-77) |