logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 13 April 2004 Semarang & Sekitarnya  
Line

Jarum Tato Bisa Tularkan Virus Hepatitis

SALAH satu penyakit menular yang patut diwaspadai adalah hepatitis virus B. Setiap tahun, 10 juta-30 juta orang di dunia terkena hepatitis virus B. "Diperkirakan penderita saat ini mencapai 350 juta orang yang didominasi anak-anak dan remaja di seluruh dunia," kata Prof Dr dr H Harsoyo Notoatmojo DTM & H SpA(K).

Dia menyebutkan, hepatitis virus B yang sudah bersemayam dalam tubuh manusia dalam 20 tahun akan menjadi sirosis. "Sepuluh tahun kemudian menjadi kanker hati (karsinoma hepatoseluler)," kata staf pengajar Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Undip yang akan dikukuhkan sebagai guru besar itu.

Kasus hepatitis virus B di Indonesia menempati urutan ketiga di Asia. "Hasil penelitian saya, di Semarang 3% dari 6.000 sampel terkena hepatitis virus B ini," tambahnya.

Sementara itu, lanjut dia, hepatitis virus C menyerang 200 juta orang di dunia, Dari jumlah tersebut, 80%-90% akan menjadi hepatitis C kronis. Yang 15%-20% berlanjut menjadi sirosis dan kanker hati. "Bahayanya hingga kini belum ada obat yang memadai untuk mengobati hepatitis virus B dan C maupun kronis," kata dia, Senin (12/4).

Hepatitis virus B dan C, lanjut Harsoyo, bisa menular lewat hubungan suami- isteri, kaum homoseks, pengunaan jarum tato, dan bergantian memakai jarum suntik. "Prinsipnya penularan hepatitis virus ini melalui suntikan dan darah. Hubungan suami-isteri dan perilaku homoseks menjadi mudah menularkan penyakit ini kalau sampai mengeluarkan darah," lanjutnya.

Dia menambahkan, penyakit ini sangat terkait dengan gizi yang dikonsumsi seseorang setiap hari, sehingga kelompok masyarakat yang tidak memperhatikan nilai gizi dalam makanan akan mudah terkena hepatitis virus B dan C.

Dia mengemukakan, belum ada obat yang cespleng untuk mengobati penyakit hepatitis virus B dan C, bahkan bila sudah terkena akan menjadi kronis dan sulit diobati.

"Satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan imunisasi pada bayi yang baru lahir, setelah itu diulang enam bulan kemudian," tuturnya.

Adapun hepatitis virus C belum ditemukan vaksin pencegahannya. (Widodo Prasetyo-63e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA