logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 13 April 2004 Semarang & Sekitarnya  
Line

NGISOR ASEM

Wayang-wayang Kardus Mbah Wayang

JIKA dalam pakeliran ringgit purwa, wayang-wayang yang berasal dari keluarga Pandawa dan Kurawa ditata pada tempat yang berseberangan. Namun di sebuah kios PKL, Jl Karimata Semarang, Durna, Antareja, Baladewa, Dursasana, Gareng, Dasamuka, Hanoman, Sumantri, Kumbakarana dan Abimanyu tampak bercampur-baur menjadi satu, lepas dari trahnya menurut pakem. Sebagian wayang bahkan hanya digeletakkan begitu saja di atas dasaran.

"Ini kan jejeran bakul Mas, jadi nggak usah dipenggalih," tutur Bu Hardjo (70), pemilik kios tersebut.

Bukan lantaran antipakem pula jika ternyata wayang-wayang tersebut tidak terbuat dari kulit, melainkan kardus. Sungguh, Bu Hardjo bukanlah Slamet Gundono yang acap mendekonstruksi pakeliran wayang dengan bentuk dan tampilan yang tidak lazim. Dia seorang pedagang yang mencari nafkah hidup, lain tidak.

Wayang-wayang kardus tersebut dia dapatkan dari daerah Bulukerto Ponorogo Jawa Timur, melalui perantara Diyar, seorang pedagang asal Solo. Setiap dua minggu sekali Bu Hardjo dikirimi 5 kodi wayang kardus. Di antara hiruk-pikuk suara pedagang yang rata-rata menjual burung, Bu Hardjo menjajakan dagangannya dari pukul 08.00-17.00 setiap hari. Karena sehari-hari berjualan wayang, di lingkungannya, Bu Hardjo sering dipanggil dengan sebutan Mbah Wayang.

Sejak kali pertama datang ke Semarang, 5 tahun lalu, perempuan asal Desa Karangmojo Ceper Klaten itu langsung menggelar dasaran di Jl Karimata. Sebelumnya bersama Hardjo, suaminya, dia telah menjual wayang kardus di Surabaya.

"Akhir tahun 1980-an, bersama Mbah Lanang (sebutan untuk suaminya) saya datang ke Surabaya. Kebetulan kakak ipar saya yang tinggal di sana adalah seorang pembuat wayang, ya wayang kulit, ya wayang kardus. Karena tidak ada yang memasarkan wayang-wayang itu, kami lalu membantu menjualkannya. Saya buka dasaran di Lapangan Kota Praja, dan Blauran," papar Bu Hardjo.

Tiga tahun berjualan wayang di Kota Metropolis, sang kakak ipar sakit keras, hingga tidak mampu lagi membuat wayang. Dengan pertimbangan tersebut, Bu Hardjo lalu hijrah ke Semarang. Kota ini dipilih karena di sini banyak saudara. Dari seorang teman, dia mendapat informasi adanya pembuat wayang kulit dan kardus dari Ponorogo. Sejak saat itulah Bu Hardjo mengambil dagangan dari sana.

Pandawa Lima

Harga wayang kardus relatif murah. Wayang-wayang jenis bambangan yang berukuran kecil, seperti Wisanggeni dan Arjuna hanya Rp 7.500, sedangkan wayang-wayang berukuran besar seperti Kumbakarna dan Dasamuka dihargai Rp 25.000.

"Walaupun terbuat dari kardus, tapi kardusnya kardus pres-presan pabrik, jadi tidak gampang sobek. Sedangkan sunggingan-nya dari cat asli wayang kulit. Jadi harga segitu tidak terlalu mahal," tuturnya berpromosi.

Di antara wayang-wayang tersebut, tokoh Pandawa Lima dan Punakawan-lah yang paling banyak dicari pembeli. Mereka kebanyakan membelinya secara paket. Satu paket wayang Pandawa Lima (Puntadewa, Wrekudara, Arjuna, Nakula, Sadewa) dia jual dengan harga Rp 50.000-60.000, sedangkan Punakawan lengkap (Semar, Gareng, Petruk, Bagong) Rp 35.000.

Kios Bu Hardjo juga menjual wayang kulit asli. Sebagian baru, sebagian bekas. Wayang kulit dia ambil dari Samidi, perajin wayang asal Sukoharjo yang juga seorang dalang. Tentu saja harga wayang kulit jauh lebih mahal dibandingkan wayang kardus, yakni berkisar antara Rp 75.000-500.000.

Dari hasil berjualan wayang, setiap hari Bu Hardjo bisa meraup untung Rp 30.000-60.000, tergantung sepi atau ramainya pengunjung PKL Pasar Burung Karimata.

Pembeli wayang dagangan Bu Harjo berasal dari berbagai kalangan. Baik anak-anak maupun orang tua. Dari pegawai negeri sampai pedagang. Tidak hanya datang ke kios, mereka acap mendatangi rumahnya di Kampung Kebonrejo.

"Banyak guru yang membeli wayang kardus untuk mulang murid-muridnya. Kadang-kadang ada juga turis yang datang ke sini. Kalau wayang yang diinginkan tidak ada, mereka pesan sambil memberi nomor telepon," tutur dia. (Rukardi-73)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA