logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 13 April 2004 Internasional  
Line

Bush Tak Mau Disalahkan soal Aksi 11/9

WASHINGTON - Presiden George W Bush tetap ngeyel, tidak mau disalahkan. Dia mengatakan Senin kemarin, memo intelijen yang dia terima sebulan sebelum aksi kamikaze 11/9 2001, tidak berisi peringatan spesifik tentang bakal terjadinya serangan teror di bumi AS.

"Saya tidak pernah melihat memo intelijen yang mengindikasikan bakal ada serangan di Amerika pada suatu waktu, suatu tempat," katanya, setelah menghadiri misa Paskah di Fort Hood, Texas, Minggu malam waktu setempat (Senin pagi WIB).

"Pertanyaannya adalah, siapa yang akan menyerang kita, kapan, di mana, dan dengan apa," tambahnya."

Sabtu lalu, Gedung Putih akhirnya mempublikasikan dokumen brifing presiden dan para pejabat bidang keamanan AS pada 6 Agustus 2001, sebagai tanggapan atas penyidikan suatu komisi independen terhadap kegagalan intel AS mengantisipasi aksi 11/9.

Richard Clarke, mantan penasihat kontraterorisme Gedung Putih, telah memberikan kesaksian di hadapan komisi tersebut. Menurutnya, pemerintahan Bush tidak memprioritaskan perang melawan terorisme, sebelum terjadi aksi 11/9. Bush, tudingnya, lebih memfokuskan diri pada rencana menginvasi Irak.

Memo intelijen itu, yang berjudul "Bin Laden Determined to Strike in US" (Bin Ladin Bertekad Melancarkan Serangan di AS), memperingatkan bahwa para pengikut Usamah bin Ladin - termasuk beberapa warga AS sendiri - mungkin akan membajak pesawat komersial di Amerika.

Diingatkan pula, para tersangka telah bertahun-tahun tinggal atau sedang menuju AS. Mereka punya lembaga pendukung yang akan memberikan bantuan bila serangan dilancarkan sewaktu-waktu.

Seperti diketahui, pada serangan kamikaze ke Washington dan New York pada 11/9 2001, para pelaku yang disebut-sebut anggota Al Qaedah menggunakan pesawat-pesawat komersial AS yang dibajak, untuk menumbukkan diri ke sasaran.

Dinilai Meremehkan

Memo itu menyebutkan, Dinas intelijen AS (CIA) dan FBI (Biro Penyidik Federal) juga melakukan penyidikan terhadap suatu panggilan telepon ke Kedubes AS di Uni Emirat Arab (UEA) pada Mei 2001.

Telepon dari seseorang yang tidak menyebut identitasnya itu memperingatkan, para pengikut Usamah di AS sedang merencanakan serangan dengan bahan-bahan peledak, tulis memo itu.

Maka, lucu juga kalau Bush hingga sejauh ini tetap bersikukuh tidak ada indikasi bakal ada serangan teror di AS dalam memo intelijen itu.

Menurut jajak pendapat majalah Newsweek edisi terakhir, mayoritas rakyat Amerika mengatakan Bush meremehkan ancaman serangan teroris sebelum terjadi aksi 11/9.

Enam puluh persen responden mengatakan, pemerintahan Bush terlalu memfokuskan diri pada isu pertahanan rudal dan Irak, dan hanya 23 persen yang menganggap pemerintahannya serius menghadapi terorisme.

Menurut Presiden Bush setelah misa Paskah di Forth Hood, memo intelijen itu "sama sekali tidak mengindikasikan tentang adanya ancaman teroris".

"Kalau saja saya tahu bakal ada serangan ke Amerika, saya pasti bertindak untuk menghentikan serangan itu," kilahnya. "Pemerintahan mana pun pasti akan bertindak sama. Itulah tugas kami."

Merasa Puas

Senator Massachusetts Senator John Kerry (60), lawan Bush dalam pemilihan presiden November mendatang, tidak bersedia mengomentari pernyataan Bush di Texas itu.

Kerry, yang mengikuti misa Paskah di sebuah gereja di Boston, mengungguli Bush (57) dalam jajak pendapat yang dimuat Newsweek. Kerry (Demokrat) mendapat dukungan 50 persen responden, sementara Bush (Republik) 43 persen.

Menurut Bush, para wakil lembaga-lembaga pemerintah hadir pada brifing 6 Agustus 2001. "Apakah mereka telah cukup berbuat, adalah pertanyaan penting bagi komisi penyidik. Memo itu sendiri, tidak berisi indikasi bahwa pesawat-pesawat akan digunakan sebagai senjata," katanya.

"Saya puas bahwa saya tak pernah melihat suatu dokumen intelijen yang memberikan isyarat akan ada serangan di Amerika, pada suatu waktu, di suatu tempat."

Memo tersebut selanjutnya menyebutkan, para agen FBI melakukan 70 investigasi di seluruh Amerika. Investigasi itu diduga ada kaitan dengan kegiatan Usamah bin Ladin.

Jaksa Agung John Ashcroft mengaku tidak pernah melihat memo itu, sebab Bush membatasi akses ke memo tersebut hanya untuk tujuh pejabat keamanan nasional presiden. (bloomberg.com-ed-30)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA