
| Selasa, 13 April 2004 | Internasional |
AS Ingin Gencatan dengan SadrTEHERAN - Para pejabat AS tengah mengupayakan gencatan senjata dengan pemimpin pemberontakan Syiah, Moqtada al-Sadr, kata seorang pejabat Dewan Agung Revolusi Islam di Irak (SCIRI), Senin kemarin. Pejabat itu mengatakan, Dewan tersebut bertindak sebagai perantara dalam perundingan itu. Mohsen al-Hakim, putra ketua SCIRI Abdel Aziz al-Hakim, mengatakan kepada Reuters di Teheran bahwa negosiasi-negosiasi tengah dilakukan di kota suci Syiah, Najaf, tempat Sadr diduga bersembunyi. Dia menyatakan SCIRI dan kelompok-kelompok lain bertindak sebagai penengah antara pejabat AS dan Sadr, yang tidak akan duduk dalam satu meja. "Sejauh ini, lima babak perundingan telah dilangsungkan dengan satu tim yang ditunjuk Abdel Aziz al-Hakim," kata Mohsen. "Kami berharap bisa segera mencapai kesepakatan," tambahnya. Dia menolak menyebutkan tuntutan tiap-tiap pihak. Ditanya apakah dialog sedang dilakukan dengan sadr, Brigjen AS Mark Kimmitt mengatakan pada konferensi pers di Bagdad: "Tidak ada pembahasan yang melibatkan CPA (Otoritas Sementara Koalisi). Hakim membantah laporan media bahwa Sadr mencari suaka di Iran. "Dalam negosiasi-negosiasi, isu Sadr mencari suaka di Iran tidak pernah dibahas," jelasnya. Di Fallujah Sementara itu, pembicaraan berlanjut di Fallujah, kemarin, kendati ada bentrokan senjata Minggu malam yang melanggar gencatan senjata tak resmi di kota tersebut. Di kota itu lebih dari 600 warga Irak dilaporkan tewas dalam satu pekan pertempuran antara pasukan marinir AS dan petempur Sunni. Penduduk mendengar ledakan dan tembakan senjata dari wilayah Fallujah selama tiga jam menjelang subuh ketika helikopter militer AS terbang di atas wilayah itu. Para petempur Irak anti-Barat menuduh Amerika melanggar gencatan senjata. Para penduduk mengatakan mereka tetap siap bertemu dengan penengah Irak kemarin pagi untuk mendukung gencatan senjata, yang membuat kota yang hancur akibat bentrokan senjata itu tenang sementara selama akhir pekan. Intensitas pertempuran menurun selama pagi hari dan sumber politik menyebutkan, pembicaraan gencatan senjata telah dimulai kembali. Militer AS sebelumnya mengatakan pihaknya akan "melanjutkan operasi serangan" jika tidak ada kemajuan dalam pembicaraan itu. Menghadapi perlawanan sangat sengit sejak menguasai Bagdad satu tahun lalu, pasukan AS berusaha menekan aksi perlawanan kelompok Sunni di wilayah tengah Irak dan perjuangan Syiah baru pimpinan Sadr di selatan Irak. Sebagai aksi balasan, kelompok anti-AS menculik atau membunuh warga-awrga asing. Beberapa sandera telah dibebaskan. Di kota suci Karbala, pesawat tempur AS, kemarin, menjatuhkan selebaran yang menyerukan penduduk menjauhi basis pertahanan pasukan koalisi dan memperingatkan mereka bahwa pasukan AS akan melakukan aksi balasan jika diserang. "Pasukan koalisi tidak ingin menyakiti kalian, tapi mereka akan membalas jika ada serangan," bunyi selebaran itu dalam bahasa Arab. Milisi Syiah menguasai daerah tengah Karbala dan orang-orang Sadr telah melancarkan serangan terhadap pasukan Polandia dan Bulgaria di pinggiran Karbala, kendati mereka menangguhkan "operasi pembebasan" pada akhir pekan, ketika jamaah Syiah berkumpul di kota itu untuk perayaan keagamaan. Tentara AS berjanji akan membekuk Sadr, yang kini diperkirakan berada di kota suci Najaf, dan menghancurkan milisinya, Tentara Mahdi. Dalam beberapa hari terakhir, pasukan Amerika bergerak memasuki wilayah tengah dan selatan Irak, tempat mayoritas Syiah bermukim. Di wilayah itu pula, pasukan internasional bertanggung jawab atas keamanan. Pasukan AS memasuki daerah Kut setelah pertempuran dengan milisi Sadr membuat pasukan Ukraina hengkang dari kota itu. Tiga marinir tewas hari Minggu di barat Baghdad, kata militer AS, sehingga menjadikan sedikitnya 470 tentara AS tewas dalam pertempuran selama konflik Irak. Warga China Diculik Tujuh warga China diculik, Minggu lalu, namun seorang kontraktor Inggris yang ditahan selama enam hari telah dibebaskan. Pria bertopeng mengatakan lewat pita video bahwa delapan sandera lain - tiga Pakistan, dua Turki, satu India, satu Nepal dan satu Filipina - telah dibebaskan. PM Jepang Junichiro Koizumi mengatakan, pemerintahnya masih belum yakin tentang pembebasan tiga warganya yang diculik. "Kami belum dapat mengonfirmasikan bukti secara jelas," katanya kepada wartawan. Para penculik menyiarkan video, Kamis lalu, yang menunjukkan tiga warga Jepang yang ditutup matanya. Sambil menodongkan senjata di kepala sandera tersebut, penculik mengancam akan menghabisi nyawa mereka jika tentara Jepang tidak hengkang dari Irak. Koizumi menekankan bahwa dia tidak mempunyai rencana memulangkan hampir 550 tentara Jepang dari Samawa, selatan Irak. Penculik yang menyandera warga sipil Amerika, Thomas Hamill, mengatakan mereka akan menghukum mati sandera jika pengepungan pasukan AS atas Fallujah tidak dicabut. (rtr-niek-ant-46) |