
| Selasa, 13 April 2004 | Jawa Tengah - Muria |
Kursi PDI-P BerkurangKUDUS- Mantan Ketua PDI-P Kudus periode 1999, H Heris Paryono, tak dapat menyembunyikan kekecewaannya dengan kemerosotan hasil perolehan kursi yang diperoleh partai bergambar kepala banteng bermoncong putih dalam lingkaran itu. Pasalnya, berdasarkan hasil laporan yang dia terima, PDI-P kemungkinan hanya akan mendapatkan enam kursi dari 20 kursi yang ditargetkan. Padahal, hasil pemilu sebelumnya mendapat 15 kursi. "Saya sangat kecewa berat dengan kemerosotan perolehan suara PDI-P di Kudus (caleg DPRD Kabupaten) ataupun daerah pemilihan (DP) II untuk caleg DPRD Provinsi," ungkap Heris di rumahnya, Jati Wetan, kemarin. Dia sejak dini sudah memprediksi, suara PDI-P Kudus akan turun. Pasalnya, dalam menentukan caleg di DP II (Kudus, Jepara, dan Demak) yang dipasang bukan kader akar bawah. "Saya menyebutnya kader impor, sehingga kader PDI-P setempat tidak kenal calonnya," ujarnya. Dengan minimnya suara yang diperoleh caleg DPRD Provinsi di DP II, Heris menuding kegagalan mengumpulkan suara akibat DPD tidak jeli dalam memasang calegnya. "Kenapa caleg DP II urutan satu sampai tiga diisi kader dari luar yang tak dikenal oleh para kader PDI-P Kudus? Hanya nomor empat yang dikenal karena saya sendiri," ujarnya. Kenyataan ini dapat dilihat dari jumlah suara yang dicoblos kader PDI-P, suara nomor empat lebih banyak dari yang nomor urut satu, dua, atau tiga. Tidak Kompak Dia mengemukakan, meskipun sebagai caleg nomor empat, pihaknya mendapat 1.000 suara, sementara caleg lainnya 100-an suara. Karena itu, dia menuntut Sekretaris PDI-P Jateng Maulen Sinaga untuk bertanggung jawab dengan kemerosotan perolehan suara itu. Di Kecamatan Karanganyar, Demak, Heris mendapat 2.570 suara, Dedy Sutomo 500-an suara. "Ini menunjukkan, daerah lebih suka caleg dari daerah mereka sendiri dan bukan dari caleg impor," tandasnya. Menurut pendapatnya, suara PDI-P Kudus merosot antara lain karena kurang kompak dalam berstrategi. Selain itu, caleg DP II tidak pernah mau diajak rapat koordinasi di Kudus. "Dua kali diundang, Dedy dan Agung, menyatakan sibuk tidak ada waktu," ungkap Heris. Suara PDI-P sedikit terangkat setelah dia bersama kader lainnya ikut turun tangan, sehingga mendapat suara lumayan seperti di Gebog. Dia mengungkapkan, semestinya baik DPD maupun DPP bisa belajar dari sejarah. Misalnya saat pemilihan bupati Kudus, PDI-P gagal menempatkan bakal calonnya. Hal itu karena yang dicalonkan bukan kader arus bawah. "Untung tertolong dengan masuknya Hj Noor Haniah sebagai wabub, walau dicalonkan partai lain," ujarnya. Noor Haniah yang pada waktu itu dicalonkan PPP adalah istri Heris Paryono. "Apakah kegagalan ini akan diulang lagi saat pemilihan capres dan cawapres nanti?" ungkapnya.(P7-80j) |