logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 13 April 2004 Jawa Tengah - Kedu & DIY  
Line

Diabetes Berkait dengan Gaya Hidup

YOGYAKARTA- Prevalensi penyakit Diabetes melitus (DM) atau kencing manis di dunia terus meningkat. Pada 1995, prevalensinya 4,0% dan diperkirakan pada 2025 menjadi 5,4%. Dengan perkataan lain, jumlah pengidap yang pada 1995 mencapai 135 juta orang, pada 2005 akan menjadi 300 juta orang.

Peningkatan itu terutama terjadi di negara sedang berkembang. Di negara berkembang jumlah pengidap DM akan meningkat, dari 51 juta orang pada 1995 menjadi 72 juta orang pada 2025 (42%). Sementara itu, di negara sedang berkembang akan meningkat dari 84 juta orang menjadi 228 juta orang (170%).

Hal itu dikemukakan oleh Prof dr Paulus Wiyono PhD SpPD-KEMD ketika menyampaikan pidato pengukuhannya sebagai guru besar pada Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta.

Prof Paulus Wiyono mengemukakan, pada 2025 negara yang mempunyai penduduk dengan pengidap besar, antara lain China, India, dan Amerika. Dan pada masa yang akan datang, pengidap DM diperkirakan akan terkonsentrasi di perkotaan.

Adapun di Indonesia, pada 1980 prevalensi DM berkisar 1,5%-2,3% pada penduduk usia lebih dari 15 tahun. Prevalensi DM di pedesaan masih rendah, seperti di Tasikmalaya didapatkan prevalensi 1,1%, di Sesean daerah yang terpencil di Tanah Toraja prevalensinya 0,8%.

Prevalensi DM di Indonesia juga meningkat. Penelitian di Jakarta, di daerah urban pada 1982 didapatkan prevalensi 1,7% dan pada 1993 prevalensinya meningkat menjadi 5,7% serta pada 2001 di Depok prevalensi tersebut menjadi 12,8%.

Berdasarkan pola pertumbuhan penduduk seperti sekarang, diperkirakan jumlah penduduk pada 2020 yang berumur di atas 20 tahun lebih kurang 178 juta dan bila prevalensinya tetap 4,6% maka jumlah pengidap DM menjadi 8,2 juta.

Untuk menanggulangi besaran prevalensi tersebut perlu penyuluhan terhadap pasien DM dan keluarganya terutama yang dibutuhkan untuk perubahan perilaku yang sehat. DM tipe 2 biasanya muncul pada dekade, pada saat gaya hidup telah terbentuk dengan kuat sehingga tidak mudah mengubahnya.

Untuk itu dibutuhkan edukasi bagi pasien dan keluarganya secara menyeluruh. Dan, hal itu dapat terlaksana dengan baik melalui dukungan tim edukator yang terdiri atas dokter, ahli diet, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya. Penyuluhan yang menyeluruh tentang penyakit DM ini penting, mengingat DM merupakan penyakit seumur hidup karena pasien harus ikut berperan dalam penanganan penyakitnya.

Penanganan DM memerlukan keseimbangan antara beberapa kegiatan yang merupakan kegiatan integral dari kegiatan rutin sehari-hari seperti makan, tidur, bekerja, dan sebagainya. Dengan demikian, penanganan DM sebenarnya merupakan proses yang berlangsung 24 jam dan sering berhubungan dengan gaya hidup.

Sementara itu, pemerintah dan badan-badan asuransi kesehatan perlu memikirkan alokasi dana yang cukup untuk program pencegahan DM tipe 2. Jika pencegahan berjalan baik komplikasi kronis yang memerlukan biaya sangat besar (90% total biaya), dapat dicegah atau dihambat.

''Dengan demikian, biaya untuk komplikasi yang sangat besar itu dapat diturunkan sehingga biaya pengelolaan DM secara keseluruhan diharapkan akan turun.'' (P12-76j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA