logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 13 April 2004 Jawa Tengah - Kedu & DIY  
Line

Kecerdasan Emosional Bukan ''Takdir''

YOGYAKARTA - Pandangan orang tentang kecerdasan manusia sering terlalu sempit, karena kecerdasan diidentikkan Intelligence Quotient (IQ), yang mengabaikan rangkaian penting kemampuan yang sangat besar pengaruhnya dalam menentukan keberhasilan manusia dalam kehidupan sosial dan di tempat kerja seperti Creativity Quotient, Emotional Quotient, Advercity Quotient, Developmental Quotient dan Social Maturity Quotient.

Demikian diungkapkan Direktur PT IQ Plus Candra Negara, sebuah lembaga training dan Konsultan Manajemen, Drs Agus Siswanto MM ketika membuka pelatihan Spiritual Emotional Management bagi pegawai Pertamina angkatan Ke-7 di Hotel Inna Natour Garuda, Yogyakarta, Senin kemarin.

Menyitir hasil penelitian seorang ahli, ia menyatakan, faktor-faktor yang terkait mengapa orang yang ber IQ tinggi gagal dan orang yang ber IQ sedang-sedang saja begitu sukses, karena mereka lebih mengacu kepada ''cara lain'' untuk menjadi cerdas, mengoptimalkan kecerdasan emosional yang di antaranya mencakup kesadaran diri, kendali dorongan hati, ketekunan, semangat, motivasi diri, empati dan kecakapan sosial.

''Karena hal ini menjadi ciri utama yang menandai orang-orang yang menonjol dalam kehidupan nyata, sehingga bisa menjadi bintang di tempat kerjanya namun tetap memiliki hubungan hangat dan sehat dengan relasi dan konstituennya,'' ujar Agus Siswanto yang kini sedang menempuh Program Doktor Psikologi Industri dan Organisasi di UGM itu.

Ia juga menyatakan, kecerdasan emosional dan spiritual bukanlah ''takdir'' yang dibawa seseorang sejak lahir , namun lebih sebagai hasil belajar dan pematangan pribadi. Pelatihan yang akan berakhir 16 April 2004 itu penutupannya akan dilakukan di kawasan Parangtritis, Yogyakarta.(E1-76)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA