
| Selasa, 13 April 2004 | Jawa Tengah - Kedu & DIY |
Ditemukan Teknologi Keringkan GabahPENGOLAHAN pascapanen padi sangat mendukung stabilitas ekonomi rakyat Indonesia. Hanya, faktor penghalang petani dalam penanganan hasil panen pada musim hujan adalah kebutuhan luas lahan yang memadai untuk pengeringan dan ketergantungan pengeringan pada cuaca. Sementara itu, padi harus bisa kering siap simpan/giling kurang dari enam hari untuk menghindari kerusakan gabah. Untuk mengatasi masalah tersebut, telah ada temuan paket teknologi pengeringan gabah menggunakan ruang pengering dengan tungku berbahan bakar sekam yang di dalamnya terdapat gas panas yang dapat mengalir melewati susunan rak gabah (kontak Langsung). Aliran gas panas itu berlansung secara alami karena disedot oleh efek tarikan cerobong. Proses pengeringannya berlangsung secara terus-menerus sehingga dengan cepat gabah dapat mencapai tingkat kekeringan sesuai dengan keinginan. Penemunya adalah tim peneliti Fakultas Teknik UGM Yogyakarta yang terdiri atas Ketua Tim Dr Ir Sutrisno (Fakultas Teknik Mesin) dengan anggota Dr Ir Suhanan DEA (Fakultas Teknik Mesin) serta Dr Ir Umar Santosa MSc (Fakultas Teknologi Pertanian). ''Contoh konstruksi ideal dari pengering gabah berbahan bakar sekam itu kami beri nama Tungku Gama dan dapat dilihat di Jurusan Teknik Mesin dan Industri FT UGM Yogyakarta,'' ujar Dr Ir Sutrisno, kemarin. Selanjutnya dia mengemukakan, sistem pengering gabah berbahan bakar sekam itu memanfaatkan tarikan cerobong sehingga tidak perlu blower listrik sehingga dapat dibuat di derah terpencil yang tidak ada listrik sekali pun. Hanya perlu sedikit latihan untuk mengoperasikan sistem pengering itu secara optimal. Berdasarkan penelitian, pengaruh pengeringan dengan pengasapan gas panas sensorik yang dihasilkan tidak terdeteksi dan bahkan mulai tampak indikasi pengaruh positif gas panas pada tingkat keawetan selama penyimpanan. ''Pada kondisi lingkungan kurang ideal, pengeringan gabah hingga kering siap giling/simpan memerlukan waktu dua hari untuk tiap kali pengeringan,'' lanjutnya. Dr Ir Sutrisno lebih lanjut menuturkan, pada awalnya penemuan teknologi pembakaran sekam itu berupa kompor atau burner murah terbuat dari kaleng (blek) roti bekas yang menghasilkan daya 2 KW/unit. Pembakaran itu memanfaatkan konsep pyrolisis sehingga dinamakan kompor atau burner pyrolisis. ''Proses pembakaran dalam tungku tersebut hampir sempurna, gas buang berkadar CO di bawah 2% tanpa warna dan tidak berbau.'' Hasil Pembakaran Akibat pembakaran, burner pyrolisis tersebut memang meningkatkan moisture content hasil pembakaran dari input udara yang semula 2% menjadi sekitar 7%. Akan tetapi karena kenaikan temperatur relatif besar, justru penurunan kelembaban relatif 30%-60%. Kompor blek pirolisis yang berisi masing-masing lebih kurang 3 kg sekam itu akan terbakar sempurna 3-4 jam. Adapun bangunan pengering bisa dibuat dari batu bata yang memiliki beberapa komponen, yaitu ruang untuk beberapa tungku pirolisis sekam dibuat agak di bawah, ruang gas panas di atasnya untuk menampung dan mendistribusikan gas panas, ruang pengeringan terdiri atas tumpukan tray atau rege berisi gabah yang akan dikeringkan setebal 2-3 cm yang diaduk setiap 15-30 menit serta ruang yang terhubung ke cerobong asap. Tray atau rege di ruang pengeringan bisa dibuat dari bambu, disusun bertumpuk 6-8. Sebagai gambaran kasar dari proses pengeringan adalah untuk ruangan ukuran 5 x 5 meter dengan tinggi 2,4 meter, pada cuaca ideal diperkirakan bisa mengeringkan 1.200 kg/bath. Dengan demikian, hasil panen dari seperempat hektare sawah, dalam dua hari bisa dikeringkan atau diperkirakan sebulan dapat mengeringkan hasil panen 4 hektare sawah, yaitu hasil dari 10 petani, masing-masing 0,40 hektare sawah. ''Tambahan pula, sistem pengering ini siap dimodifikasi untuk pengeringan hasil perkebunan yang lain seperti cabai, bawang merah, bawang putih, kacang tanah, jagung, dan kedelai.'' (P12-76j) |