
| Selasa, 13 April 2004 | Jawa Tengah - Kedu & DIY |
Masyarakat Borobudur Mudah CurigaBOROBUDUR-Masyarakat Borobudur mudah curiga terhadap setiap upaya menata kawasan wisata karena berkali-kali lembaga yang datang ke sana ternyata memiliki kinerja tidak jelas dan programnya tidak pernah selesai. ''Karena itu, rakyat Borobudur seolah-olah dijadikan objek. Hanya dijadikan semacam eksperimen,'' kata Arisworo Sutomo, tokoh masyarakat sekaligus pelaku wisata Borobudur, kemarin. Priyoto, pelaku wisata yang lain, mengemukakan, konsep shopping street yang akan dibuat di Jalan Medang Kamolan Borobudur sudah dimintakan izin Unesco. Padahal, konsep itu dianggapnya belum detail. Yang sudah dibicarakan, yaitu soal pagar Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB) yang akan dimundurkan 30 meter ke selatan. Itu berarti akan menggusur Museum Karmawibangga, karena jaraknya hanya 17 meter dari Jalan Medang Kamolan. ''Lalu, parkir kendaraan wisatawannya akan bagaimana, belum jelas. Namun, sebagai konsep, secara garis besar sepintas konsep shopping street menjadi salah satu alternatif penataan kawasan wisata,'' katanya. Soal mengundurkan pagar sejauh 30 meter, kata Arisworo Sutomo, merupakan otoritas TWCB. Ha itu hendaknya dikaji lagi lebih mendalam karena Borobudur perlu ruang lapang untuk bernapas. Jarak itu perlu sangat diperhitungkan. Misalnya, kemampuan omzet pada bulan-bulan sepi pengunjung itu kapan. Begitu juga kapan saat ramai. Perlu adanya grafik untuk para pembeli cenderamata dan jasa lain. Dia mengingatkan, konsep awal seputar Candi Borobudur menjadi kompleks Taman Purbakala Nasional. Kalau kemudian berubah menjadi taman wisata, TWCB berperan mengembangkan dari segi kepariwisataannya. Bila ada hal-hal yang mendiskreditkan Borobudur dari segi kepariwisataannya, baik kekumuhan dan maupun kriminalitas, sebetulnya menjadi tanggung jawab penuh pengelola kepariwisataannya. Juga perlu diperhatikan perubahan perilaku dalam melakukan pendekatan kepada para stakeholder dan respons yang cepat dalam mengantisipasi kebutuhan dan keinginan mereka (maksudnya stakeholder). ''Hal itu menjadi penting karena perilaku para anggota lembaga yang datang kadang-kadang menbuat hal-hal yang secara tidak disadari menimbulkan konflik. Jika terus berlanjut, hal itu tidak akan menghasilkan penataan yang harmonis,'' katanya. (pr-76e) |