
| Rabu, 7 April 2004 | Tajuk Rencana |
Chelsea dan AS Monaco Mirip Pemilu Kita-- Berlebihankah menganalogikan apa yang terjadi pada babak perempat final sepak bola Liga Champions Eropa tahun ini dengan hasil sementara pemilihan umum (pemilu) kita? Sama sekali tidak. Ada segi-segi tertentu yang memberikan pelajaran setara. Setidak-tidaknya lewat kemenangan sensasional Chelsea dan AS Monaco, yang dengan kata lain berarti ketersingkiran dua klub paling difavoritkan: Arsenal dan Real Madrid. Hingga menjelang Rabu malam lalu, Arsenal yang mengantongi hasil 1-1 saat bertandang ke Stamford Bridge pada laga pertama, dan Real yang membukukan kemenangan 4-2 di Santiago Bernabeu, diperkirakan bakal tak terbendung untuk maju ke semi final. Hanya keajaiban yang dipandang bisa menghalangi laju klub Inggris dan Spanyol itu.
-- Namun apakah hanya miracle yang menopang kelolosan Chelsea dan Monaco? Hanya kebetulankah jika John Terry dan kawan-kawan mampu menaklukkan Arsenal 2-1, justru di Stadion Hihgbury? Bagaimana mungkin Monaco mampu mencatatkan skor 3-1 terhadap klub bertabur bintang itu, setelah kalah telak pada pertemuan pertama? Untuk pertandingan-pertandingan level utama, persaingan boleh dikata hanya berada di lapis sangat tipis. Walau Arsenal dan Madrid memiliki tradisi lebih kuat dibandingkan dengan lawan-lawannya, kekalahan itu tentu tidak dapat disebut sebagai sekadar keberuntungan. Ada banyak faktor yang dapat dikemukakan untuk menganalisis mengapa penampilan Chelsea begitu bagus, lalu mengapa pertahanan Madrid bisa serapuh itu.
-- Pertanyaan itu dapat kita ajukan dengan format sama: "keajaiban"-kah namanya sehingga Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengumpulkan suara sesignifikan ini pada awal penghitungan suara Pemilu 2004? Apa yang sebenarnya terjadi dengan partai-partai lebih mapan? Fenomena kedua partai ini tidak bisa dibilang sebagai sekadar kejutan. Pemilu, seperti pertandingan sepak bola, rupanya memiliki logika-logika tersendiri, rasionalitas yang harus dibaca sebagai sebuah perkembangan. Kalau suatu partai politik menghadirkan fakta baru, otomatis ada nilai-nilai keunggulan yang memincut pemilih. Kekuatan itu tentu tidak dimiliki partai lain betapapun besar partai itu, dan inilah yang dilirik karena diharapkan menjadi kendaraan menuju ke perubahan. -- Chelsea tampil sedemikian garang ketika sang pelatih, Claudio Ranieri, justru dalam keadaan tertekan oleh beban-beban dan penghakiman oleh pemegang saham terbesarnya, Roman Abramovich. Dan kebetulan, rata-rata pemain Chelsea berada di belakang Ranieri. Pelatih asal Italia itu dianggap sebagai "bapak yang bijak" oleh Frank Lampard dan kawan-kawan, dan karena itu dibela secara profesional melalui ungkapan permainan apik. Chelsea -- dalam hal ini Ranieri -- merepresentasi diri sebagai "sosok" yang underpressure. Di Liga Inggris sulit mengejar perolehan angka Arsenal, dan sudah gagal di Piala FA. Peluangnya tinggal di Liga Champions. Kita tidak yakin apakah dengan sukses bersejarah ini, manajemen Chelsea akan punya pandangan lain mengenai Ranieri.
-- Orang memang suka mencari-cari romantisme pembenar; mencoba menghubung-hubungkan kemeroketan Partai Demokrat dengan guyuran simpati kepada figur Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Mantan menteri koordinator bidang politikm da keamanan ini tiba-tiba difigurasikan sebagai tokoh yang "di bawah tekanan" ketika dikomentari Taufik Kiemas "seperti anak kecil" akibat mengeluh merasa dipinggirkan dari kabinet. Suka atau tidak suka, tren mediatikalah yang menampilkan SBY sebagai simbol "nilai baru", "oposan" yang dihadapkan pada pusat kekuasaan. SBY tiba-tiba identik dengan perubahan. Kalau kemelejitan Partai Demokrat dikaitkan dengan aspek simpati, maka benar keberadaan posisi underpressure terkadang memang memberikan keuntungan-keuntungan psikologi politik tertentu.
-- Dengan demikian, apa arti kemenangan Chelsea dan AS Monaco? Sebuah perubahan sebenarnya dapat terjadi setiap waktu, tidak perlu harus ditunggu-tunggu. Setiap perubahan mengisyaratkan betapa penting mengisi ruang yang dibuka dengan dinamika baru, untuk meyakinkan bahwa pergeseran itu berada pada momentum yang tepat, diisi tema-tema yang tepat, mengusung reposisi tentang kebutuhan zaman kini. Kita tidak dapat berandai-andai: kalau saja Madrid atau Arsenal yang lolos; karena faktanya kekuatan barulah yang muncul. Ujian sesungguhnya justru lahir dari perubahan itu: apakah Chelsea dan AS Monaco mampu memberikan makna dari pergeseran yang telah mereka ciptakan, atau masih selalu muncul kerinduan pada Madrid dan Arsenal? |