logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 7 April 2004 Sala  
Line

"Gimana Lagi, Sudah Telanjur"

WAJAHNYA imut-imut. Namun, di balik itu siapa sangka perilakunya begitu sadis. Apa yang dia lakukan bisa membuat orang yang mendengarkan bergidik.

Dialah Riki alias Kerang, pemerkosa dan pembunuh Asih Nurtiningsih (17), pelajar SMEA Batik, Solo itu. Walaupun nasibnya kini di tangan aparat, pemuda yang tak sempat mengenyam pendidikan SMP itu masih saja mengumbar senyum khasnya.

Karena seringnya tersenyum itu, dia sempat disemprot polwan yang memeriksanya. "Ojo ngguya-ngguyu. (Jangan senyam-senyum-Red). Tahu nggak, akibat perbuatanmu itu sebuah keluarga kehilangan anak gadisnya," kata petugas Polwan itu dengan nada agak jengkel.

Dihardik seperti itu, Riki bukannya memperbaiki sikap, tapi justru membalas dengan senyuman.

Kepada wartawan yang mewawancarainya, Riki mengaku menyesal atas perbuatannya itu. "Gimana lagi, ya Mas. Itu sudah telanjur," ungkapnya.

Menurut dia, pukulan yang dilayangkan ke kepala korban itu sebenarnya hanya untuk melumpuhkan. Namun Asih berontak saat akan diperkosa, maka tidak ada cara lain untuk melumpuhkan korban secepatnya selain dengan pukulan kayu.

"Saya takut jika kepergok orang. Karena itu, pukulan saya arahkan ke bagian kepala," paparnya.

Soal nama samarannya, Reza, yang dia gunakan dalam perlariannya ke Semarang memang untuk mengaburkan pencarian polisi. "Sejak dari Solo, saya sudah tahu, lambat atau cepat polisi akan tahu siapa pelaku pembunuh Asih," kata dia.

Karena itu, dia menggunakan nama samaran tersebut untuk bersembunyi. Soal nama Reza, sebenarnya bukanlah nama samaran baru. Nama itu, lanjut dia, adalah nama jalanannya jauh sebelum aksi pembunuhan terjadi.

Mengamen

Sekadar catatan, tersangka sebelumnya pernah tinggal bersama seorang kakaknya di Semarang. Tapi, Riki mengaku tak kerasan. "Selain bekerja di pabrik plastik, saya bersama Hasan, sering pula cari duit dengan mengamen. Itu terjadi setelah tidak lagi tinggal serumah dengan kakak," papar dia.

Apakah pernah dibayang-bayangi wajah korban? "Tidak, kok Mas. Saya kabur karena takut ditangkap polisi, bukan karena dihantui wajah korban," kata Riki berterus terang.

Namun dia mengakui, semalam setelah pembunuhan itu terjadi, dia tidak bisa tidur. Waktunya dia habiskan untuk dolan (bermain-Red) ke rumah beberapa tetangganya di Sekip, Kadipiro, untuk mengetahui perkembangan terkini kasusnya.

"Saya sempat minta makan pada tetangga. Mereka bahkan cerita ada anak gadis yang menjadi korban perkosaan," katanya tanpa menyebut nama keluarga itu.

Secara terpisah, Kapolresta Surakarta AKBP Lutfi Lubihanto SH mengatakan, untuk mengetahui kestabilan mental tersangka, pihaknya mengundang tim psikolog dari Polda Jateng. Tim itu kemarin hadir di Mapolresta Jalan Adi Sucipto Solo. "Tersangka menjalani serangkaian tes kesehatan jiwa," papar Lutfi didampingi Kasatreskrim AKP Masrur, kemarin.

Petugas penyidik, lanjut dia, menjerat tersangka dengan pasal berlapis. Selain dijerat dengan pasal 340 dan 351, pelaku juga diancam hukuman sesuai dengan pasal 285. "Ancaman ketiga pasal itu lebih dari 15 tahun," katanya. (Budi Santoso, Sri Hartanto-14i)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA