
| Rabu, 7 April 2004 | Sala |
Dikira Tifus Ternyata DB Anto Akhirnya MeninggalSUKOHARJO - Mendekati Mei yang diduga masa puncak serangan DB, korban meninggal bertambah. Anto Triyanto (8) warga Dukuh Karangasem, Desa Lorog, Tawangsari meninggal setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit. ''Saya tak menyangka anak saya yang masih sekolah di SDN 1 Lorog meninggal secepat itu karena demam berdarah,'' ujar orang tua korban, Sarwono. Dia menuturkan, dirinya semula tidak mengetahui bahwa anaknya terkena DB. Pada saat dibawa ke Puskesmas Tawangsari, anaknya langsung diinfus. Perawat ketika itu mengatakan bahwa anaknya terkena tifus, tapi setelah tiga hari tidak ada perubahan. Dia lalu memindahkan korban ke RS Dr Oen, Solo Baru. Dia pun sangat kaget setelah diberitahu dokter bahwa Anto terkena DB. ''Perawat dan dokter di puskesmas mengatakan terkena tifus, ternyata anak saya terserang DB. Dokter di RS Dr Oen memberitahu bahwa anak saya terlambat ditangani.'' Sementara itu, Senen Parjoko, tokoh masyarakat setempat menjelaskan, selain Anto, terdapat tiga anak lain yang terkena DB. ''Namun, ketiganya sembuh setelah dirawat di rumah sakit beberapa hari. Malah saya juga mendapat informasi dari seorang warga, ada lagi korban meninggal di Desa Sanggang. Kami sudah mengajukan permohonan fogging kepada Dinas Kesehatan lewat puskesmas, tapi belum ada tanggapan hingga sekarang.'' Kepala Dinas Kesehatan dr Suryono didampingi Kakan Humas Informasi dan Komunikasi (HIK) Sudjoko S Sos menjelaskan, pihaknya telah menyebarkan ribuan selebaran kepada warga, anggota jamaah masjid, gereja, dan puskesmas untuk mewaspadai serangan DB. Selain menggalakkan gerakan 3M, warga juga diingatkan agar proaktif bila ada anggota keluarga yang mengalami demam. Caranya, berilah minum yang banyak dan diberi obat turun panas. ''Bila dalam dua hari tidak sembuh, segeralah bawa ke dokter, puskesmas, atau rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.'' PSN Berdasarkan data pemantauan, hingga 3 Maret penderita DB mencapai 67 orang dan tiga di antaranya meninggal dunia. Pada Januari, terdapat 23 penderita dan seorang meninggal. Pada Februari pederita 30 orang dan meninggal satu orang. Adapun pada 3 Maret tercatat penderita 14 orang dan satu orang meninggal. ''Kami juga mengajak semua warga melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) serentak setiap Jumat atau Sabtu. Kami juga melakukan fogging gratis di lokasi yang terkena wabah. Namun, karena kemampuan kami terbatas, dalam pelaksanaannya desa-desa tersebut terpaksa antre.'' (G10-14e) |