
| Rabu, 7 April 2004 | Sala |
Tersangka Pembakar Bayi Akan Diperiksa PsikiaterWONOGIRI--Setelah menjalani perawatan di unit rawat inap Puskesmas Baturetno, tersangka pembakar bayi, Sri Utami (40), Rabu (7/4) mulai ditahan di Mapolres. Dia menempati ruang sel baru di bagian belakang. Di ruang tahanan, ibu tiga anak ini selalu menangis meratapi nasibnya. Beruntung suaminya setia menghiburnya, dan sering membelikan nasi bungkus dan jajanan. ''Sudahlah, jangan menangis terus,'' ujar Sarino (45) suami tersangka. Sarino juga memberikan petuah agar istrinya itu tabah menjalani cobaan hidup. Laki-laki itu juga menyarankan istrinya agar memberikan penjelasan yang sebenarnya kepada penyidik. Seperti diberitakan, masyarakat Dusun Tukul Klanting Desa Bumiharjo Kecamatan Giriwoyo, digegerkan oleh penemuan sisa mayat bayi yang tidak habis terbakar di dekat kandang ternak milik Sarino. Mayat itu ditemukan oleh Mispan (38) bersama warga yang tengah kerja bakti. Kapolres AKBP Drs Subandi didampingi Kasatreskrim AKP Santosa SE menjelaskan, polisi akan mendatangkan psikiater untuk memeriksa kejiwaan tersangka. Sebab, dia sepertinya masih belum mau bersikap jujur untuk memberikan keterangan atas perbuatan yang dilakukannya. Temuan barang bukti berupa sisa tubuh bayi yang dibakar akan diperiksa di labfor. ''Sepertinya bayinya berkelamin laki-laki,'' tambah Kasatreskrim AKP Santosa SE. Obat Pencahar Dari hasil pemeriksaan sementara, tersangka pada awalnya mengaku tidak merasa melahirkan bayi. Sebab, yang dikeluarkan hanya segumpal daging penyakit, yang keluar setelah dia minum empat tablet pencahar Dulcolax. Sejak menelan obat pencahar itu dia buang air besar di dalam kamarnya sampai dua kali. Ketika dikejar mengapa buang air besar di dalam kamar, tersangka baru mengaku pada saat buang air besar yang kedua dia mengeluarkan orok bayi tetapi sudah mati. Bayi yang baru saja dia lahirkan itu kemudian dibungkus kain dan dikuburkan di dalam kamar. Namun, ketika malam tiba, mayat orok itu dipindahkan dikubur dekat pohon jati. Karena takut kuburan itu dibongkar anjing, orok kemudian dibakar di perapian dekat kandang ternak. Pembakaran menggunakan kayu jati kering dan ban sepeda motor bekas. Ketika nyala api membesar, tersangka meninggalkannya dan masuk rumah untuk tidur. Keesokan harinya, dia kembali ke perapian, tetapi masih menemukan ada bagian pinggul dan paha bayi yang tidak habis terbakar. Karena ketakutan, sisa tubuh bayi yang tidak habis terbakar itu kemudian ditimbuni batu besar. Tetangga Curiga Namun, perubahan mendadak perut Sri Utami, dari yang semula besar menjadi kecil, ternyata mengundang kecurigaan para tetangganya. Sutiyem, yang secara tak sengaja melihat langsung perut tersangka mengecil saat dia mengambil air di sumur, segera menceriterakan hal itu kepada orang-orang yang tengah kerja bakti. Akhirnya Sri Utami dipanggil ke rumah Ketua RT Tumijem. Saat itu dia disidang, tetapi tidak mau mengaku. Warga kemudian mendatangkan bidan Anisa Jumaroh (40). Namun, sebelum bidan datang Sri Utami pergi, dan akhirnya ditemukan pingsan di rumah Sutiyem. Dari pemeriksaan bidan, dia dipastikan baru saja melahirkan bayi. Ketika dipencet, puting payudaranya mengeluarkan air susu. Untuk memberikan pertolongan, Sri Utami segera dibawa ke unit rawat inap Puskesmas Baturetno. Dia mengaku merasa malu, karena sudah tua masih melahirkan bayi. Sebab sebelumnya dia sudah punya dua anak dan juga sudah punya cucu. Terlebih lagi, dia berkedudukan sebagai kader keluarga berencana (KB), yang selalu menganjurkan kepada warga setempat untuk mengikuti KB. Ternyata dia malah hamil lagi. Kecuali itu, dia juga beralasan ekonomi rumah tangganya tidak mampu, jika harus tambah anak lagi. (P27-49k) |