logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 7 April 2004 Sala  
Line

Penambang Perahu

Tak Semua Penyeberang Membayar

AWAK gumregah, tangan gemrayah, sebuah pepatah Jawa itu ditekuni Adnan (58) dalam kehidupan sehari-hari. Laki-laki tersebut sehari-hari menjalani pekerjaan sebagai penambang perahu di Kali Pepe, kawasan RT 7 RW 9 Kampung Praon, Kelurahan Nusukan, Banjarsari, Solo.

Pepatah itu agaknya dipahami Adnan secara utuh. Dia, jika mau menggerakkan badan dan tangannya, pasti ada pekerjaan. Apalagi yang dilakukan itu diyakini membantu masyarakat.

Mulai sekitar pukul 05.00 dia sudah melepas tambatan perahunya. Tali penghubung di dua sisi sungai, utara dan selatan, diturunkan.

Kemudian perahu itu dikaitkan pada pengubung berupa dua utas besi beton, yang membentang di atas permukaan air selebar 20 meter itu, sebagai media penyeberangan.

Pekerjaan dia memang melayani penyeberangan warga sekitarnya. Padahal, laki-laki tersebut tidak pernah membayangkan, kalau akhirnya harus menjadi penambang perahu. Sebelumnya, dia jadi pekerja pembangunan tanggul Kali Pepe.

Diceritakannya, setelah pembangunan tanggul selesai, dia ditunjuk dan diberi kesempatan menjadi penambang perahu di situ atas inisiatif almarhum Hartomo, yang saat ini menjadi Wali Kota Surakarta.

Namun, ayah satu anak yang keluarganya kini ditinggal di Cirebon itu, tidak langsung melaksanakan. Sebelumnya dia sempat bekerja di Jakarta dan Cirebon. Baru pada 1989 dia kembali ke Solo dan membuat perahu.

"Untuk membuat perahu dan persiapan dermaga, saya dibantu dan didorong warga sini. Bahkan kemudian saya dibangunkan sebuah gubuk di sisi selatan sungai. Sebulan sekali saya pulang ke Cirebon," tuturnya.

Rp 13.000 Per Hari

Sebenarnya, pendapatan laki-laki berambut dan berjenggot panjang itu tidak terlalu banyak. Dia mengaku, bekerja mulai pagi sampai petang rata-rata hanya mendapat Rp 13.000. Namun, bagi dia tidak menjadi persoalan.

"Pancen kula namung nglampahi utusan niku wau, kangge mbantu warga mriki.(Memang saya hanya menjalankan perintah tadi untuk membantu masyarakat di sini)," ujarnya.

Memang, tidak semua yang diseberangkan membayar. Tarif sekali menyeberang Rp 300 hanya untuk pengertian saja. Untuk anak-anak sekolah ada yang tidak membayar. Sebaliknya ada warga sekitar yang sudah akrab, malah sering memberikan lebih banyak.

Lokasi penyeberangan atau penambangan perahu itu dekat tempuran(pertemuan) Sungai Sumberejo dan Kali Pepe. Tidak jauh dari lokasi itu, tepatnya agak ke barat, ada pemakaman umum yang dikenal sebagai makam Putri Campa.

"Kala semanten kathah pejabat, jenderal kaliyan priyayi Mangkunegaran lan Keraton ingkang kungkum teng mriku. (Saat itu banyak pejabat, jenderal dan priyayi Mangkunegaran serta Keraton yang berendam di situ)."

Selama menjalankan penambangan, Adnan mengaku belum pernah terlanda musibah, meskipun selama itu dia banyak menjumpai hal-hal mistis. Maklum sungai itu memang dikenal wingit (angker).

Diungkapkannya, suatu malam dia pernah dicekik makhluk halus. Dia berusaha melawan sambil berdoa. Setelah itu terjadi hal yang aneh.

"Teng pucuk perahu, wonten sapiring sega goreng kaliyan sagelas teh. Nggih kula pangan lan ombe. Napa malih sasampunipun dicekik kula lemes banget. (Di pucuk perahu ada sepiring nasi goreng dan segelas teh. Ya saya makan dan minum. Apalagi setelah dicekik saya lemas sekali)," ceritanya.

Keakraban memang terjalin selama ini. Banyak anak sekolah yang diseberangkan bermain-main. Adnan membiarkan anak-anak itu.

Agaknya, sifat penyabar dan telaten serta grapyak yang ditunjukkannya membuat dia dipercaya warga sekitarnya.(Sri Wahjoedi-86k)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA