
| Rabu, 7 April 2004 | Liputan Pemilu 2004 |
Selesai dalam Satu PeriodeNAMA Wiranto harus diakui merupakan salah satu calon presiden yang banyak dipublikasikan media massa cetak dan elektronik. Apalagi dia aktif sebagai jurkam nasional dalam kampanye Partai Golkar. Tidak tanggung-tanggung seluruh provinsi didatanginya bersama sejumlah tim suksesnya untuk kampanye itu. Sambutan masyarakat sangat antusias. Mungkin karena jiwanya yang besar dalam menghadapi berbagai polemik yang menimpanya, sehingga dalam setiap kesempatan dia tetap tenang, kalem dan tidak banyak bicara. Dalam suatu kesempatan, dia sempat menuturkan sangat menghargai setiap pendapat orang. Menurut dia, tidak ada kawan dan lawan yang abadi dalam dunia politik, yang ada hanya kepentingan abadi. ''Itulah rumus di dunia politik yang saya tekuni sekarang setelah berdinas sebagai militer profesional,'' ungkap Jenderal (Purn) TNI Wiranto dalam pembukaan 'Pameran dan Lomba Foto Jurnalistik Hitam Putih Wiranto', tadi malam (7/4). Diungkapkan, dalam dunia politik yang mempunyai kepentingan yang sama bisa berkawan. ''Tapi ternyata kita berseberangan dan menjadi lawan, meskipun tadinya berteman. Aksioma dalam dunia politik itu hendak kita coba eliminir dengan mencari teman. Kalau sampai saya harus memilih antara sahabat dan kepentingan politik, saya akan tetap memilih sahabat. Saya tidak akan mengorbankan para sahabat saya demi kepentingan politik,'' katanya. Wiranto juga mengakui, persahabatan itu yang ia coba terapkan kalau dalam beberapa kali bertemu dengan KH Abdurrahman Wahid. ''Kami memang pernah berbeda pendapat, tapi hal itu hendak kita coba selesaikan sebaik-baiknya,'' katanya. Mantan Menko Polkam ini juga menambahkan, kalau ia memasuki dunia politik, hanya karena merasakan ada panggilan nurani, untuk menyelesaikan berbagai masalah di negara ini. Itu sebabnya dia memberanikan diri mencalonkan diri menjadi presiden, yang saat ini masih dalam proses konvensi Partai Golkar. Diungkapkan, dirinya telah menjadi pembantu untuk tiga presiden, dan itu menjadi pelajaran untuk mengamati kelebihan dan kekurangan para presiden itu. Untuk menyelesaikan berbagai problem bangsa ini, Wiranto mengakui mampu menyelesaikannya dalam satu periode, sehingga ia tidak akan menjadi presiden dalam dua periode.(bu-64) |